logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 15 Agustus 2005 PANTURA
Line

Pesisiran

Ana Landa nang PG Pangka

Oleh: Ani Zubaedah

MUSIM giling tebu Pabrik Gula (PG) Pangka tahun ini terasa istimewa. Bagaimana tidak? Senin, 8 Agutus lalu ada beberapa tamu dari mancanegara. "Landa-landa" ini datang ke PG Pangka sebagai wisatawan yang ingin menikmati loko uap antik penarik tebu dari emplasemen ke pabrik. Hal ini perlu dicermati Pemkab Tegal. Sebab, atraksi ini merupakan salah satu potensi yang bisa dijadikan salah satu andalan wisata Tegal.

Bahkan kalau Pemkab serius menggarapnya, loko itu bisa menjadi ikon pariwisata. Apalagi, loko uap buatan Belanda tahun 1915 itu merupakan salah satu loko tertua di dunia yang masih aktif dan produktif.

Meski demikian, loko tidak akan berarti dan mampu menarik wisatawan tinggal lama di Tegal, minimal untuk menginap, kalau tidak dilengkapi dengan kawasan wisata lainnya.

Karena itu, beberapa objek wisata perlu dipadukan menjadi kawasan wisata berikat.

Memang, untuk mewujudkan hal tersebut tidaklah mudah. Campur tangan Pemkab sangat dibutuhkan untuk mewujudkannya. Salah satunya, dengan merubah loko antik itu menjadi loko wisata dengan tujuan Waduk Cacaban. Namun yang perlu menjadi catatan, tingkat pendangkalan Waduk Cacaban sangat tinggi. Bahkan saat musim kemarau, waduk itu mengering. Padahal, kalau airnya stabil, waduk itu bisa menjadi kawasan wisata yang prospektif.

Selain waduk, wisatawan bisa diajak ke kawasan pemintalan tradisional serta pusat batik tegalan yang tersebar di seluruh penjuru Tegal. Di tempat itu, wisatawan bisa belajar dan mempraktikkan cara memintal dan membatik. Dengan atraksi tersebut, wisatawan akan lebih enjoy, tertarik, dan menghargai seni tradisional.

Sementara itu untuk melengkapi wisata bahari, Purwahamba Indah (Purin) yang memiliki kolam renang bertaraf internasional bisa dibuat menjadi kawasan wisata multifasilitas, seperti perahu wisata, banana boat, jet sky, parasailing, atau lainnya. Bahkan kalau perlu, para "landa" itu diajak mencari ikan "ala" nelayan tradisional.

Kawasan lain seperti Guci yang terkenal dengan pemandian air panas serta hawa sejuk, perlu ditambah dengan desa wisata (agrowisata) berbasis tanaman buah atau tanaman hias. Misalnya, desa berbasis tanaman anggur, apel atau kalau perlu penuh dengan tanaman kelengkeng pingpong atau diamond river.

Kedua jenis buah terakhir merupakan tanaman yang sangat produktif dan tak pernah putus berbuah sejak umur dua tahun. Pemeliharaannya pun sangat mudah, tidak seperti kelengkeng asli Indonesia. Buah ini juga bisa tumbuh di dataran rendah maupun tinggi.

Desa Wisata

Selain dikondisikan menikmati desa wisata, wisatawan bisa berbelanja serta memetik buah-buahan langsung dari pohon, termasuk mempraktikkan cara berkebun penduduk setempat. Karena itu, penduduk juga harus disiapkan untuk menampung para wisatawan, dengan cara menjadikan rumah mereka sebagai penginapan wisatawan. Ingat lo, Kabupaten Tegal bagian selatan sudah memiliki agrowisata berbasis pohon durian.

Di tempat itu, penduduk menyajikan minuman khas Tegal, yaitu teh hangat, kental, dan wangi serta makanan tradisional seperti gembili, talas, dan ubi. Sambil menikmati makanan lokal, wisatawan disuguhi pentas kesenian tradisional khas tegalan, seperti balo-balo, wayang kulit, dan wayang golek.

Hal lain yang perlu diperhatikan Pemkab adalah mengeksplorasi dua goa, yaitu Goa Santri dan Walet. Sebab berdasar catatan daerah lain, ternyata goa memberi masukan terbesar bagi sektor pariwisata.

Kalau saja Tegal mampu mengemas kawasan wisata yang terdiri atas wisata bahari, budaya, dan agrowisata menjadi satu paket wisata, hasilnya akan sangat luar biasa. Terlebih lagi jika Pemkab menggandeng daerah tetangga pemilik potensi wisata yang menarik. Namun, semua itu tidak ada artinya jika penggarapan tidak komprehensif dan simultan. Tinggal niat baik kita semua dalam mendukung dan memberi apresiasi kepada eksekutif untuk mewujudkan Tegal menjadi kawasan wisata berikat. Tentu saja, kedatangan wisatawan akan berimbas pada pemasukan daerah dan bermuara bagi kesejahteraan rakyat. Akankah itu semua terwujud dan menjadi kenyataan? Semoga masih ada "landa-landa" yang datang ke Tegal.

- Penulis adalah Guru SMP Negeri 02 Slawi (19m)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA