logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 15 Agustus 2005 PANTURA
Line

Gelak Tawa Mewarnai Lomba Drumben Pelajar

PEMALANG - Ribuan orang di Alun-alun Pemalang bagaikan menyaksikan aksi para pelawak, Sabtu lalu (13/8). Gelak tawa sesekali membahana ketika mereka melihat atraksi yang lucu dari anak-anak TK yang menabuh drumben dan menjadi mayoret.

Selain itu, orang tua dan pelatih drumben yang terus membimbing anak-anaknya agar bermain bagus juga ikut menambah ramai suasana lomba dalam rangka peringatan HUT Ke-60 RI tingkat pelajar TK, SD, dan SMP itu.

Tingkah lucu mereka diawali ketika hendak masuk ke arena bertanding. Anak-anak tersebut meskipun sudah dilatih tetap harus dibimbing untuk berjalan dan berhenti serta memulai memainkan alat musiknya. Mayoretnya juga harus ditata dulu dengan diletakkan di depan karena kalau tidak, mereka akan bermain tak karuan.

"Hormaaat...grak!" seru sang mayoret sambil mengangkat tangan dan bergaya tanda akan memulai aksi grupnya. Namun, matanya terus melirik dan memperhatikan ibu gurunya yang memberi petunjuk untuk beraksi dari kejauhan.

Sang pelatih juga tidak kalah sibuk. Dia terus memberi aba-aba anak didiknya dengan peluitnya. Priiit berhenti..., priiit mulai. Yang ditakutkan orang tua justru kalau ada peluit nyasar berbunyi. Sebab, anak-anak tak bisa membedakan mana peluit pelatih dan mana yang bukan sehingga permainan bisa kacau.

"Dalam lomba itu sebenarnya yang bertanding bukan anak-anak, melainkan para pelatihnya," seloroh Ketua Panitia Lomba, Wiryadi.

Dalam lomba itu digelar tiga tingkatan, yakni anak TK yang dimulai pukul 09.00 yang diikuti tujuh sekolah TK, sedangkan tingkat SD diikuti tiga sekolah, dan SMP 9 sekolah. Dibandingkan dengan jumlah sekolah yang ada di Pemalang yang mencapai ratusan, jumlah peserta yang hanya 19 itu termasuk masih sangat minim. Namun, menurut panitia, jumlah itu sudah ada peningkatan dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Juri lomba Dwi Puji Harso mengatakan, sampai saat ini memang belum semua sekolah memiliki kegiatan drumben. Sebab, kegiatan ekstrakurikuler itu memang membutuhkan dana besar untuk pengadaan alat-alatnya. Satu set alat drumben harganya minimal Rp 10 juta, belum biaya perawatan dan pelatihnya.

Belum Mampu

Karena tingginya biaya kegiatan itu, banyak sekolah yang belum mampu untuk mengadakannya. Sementara ini baru terbatas pada sekolah favorit, sedangkan sekolah lain ada yang sudah beli alat-alat drumben, tetapi belum siap bertanding.

Mengenai kualitas peserta, rata-rata sudah baik, terutama dalam mengemas aransemen lagu dengan alat-alat yang tak terbatas. Misalnya, ada yang melengkapi peralatan grupnya dengan seksofon. Meski begitu, perlu ada peningkatan keterampilan dari para pelatih drumben, sebab kalau tidak, permainan akan monoton.

Setelah melalui penjurian, keluar sebagai juara I-III TK adalah TK Aisyiyah Bustanul Atfal (ABA), TK Aisyiyah Petarukan, dan TK Adhiyaksa Pemalang. Juara I-III tingkat SD adalah SD Kebondalem 1, SD Cabang Dinas Taman, dan SD Muhammadiyah Randudongkal. Adapun juara I-III tingkat SMP dengan alat terbatas adalah SMPN 2 Pemalang, MTSn Model, dan SMPN Bantarbolang. Untuk alat tak terbatas, juaranya diraih SMP Salafiyah Pemalang dan SMP 4. Selain itu, diberikan pula penghargaan untuk gitapati dan mayoret terbaik. (sf-19n)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA