logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 15 Agustus 2005 NASIONAL
Line

Rakyat Aceh Menanti Perdamaian

  • Hari Ini Perjanjian Ditandatangani

DOA BERSAMA : Sehari menjelang penandatanganan MoU perdamaian pemerintah Indonesia dengan GAM di Helsinki, sejumlah warga Aceh menggelar doa bersama di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Minggu (14/8). Mereka berharap agar perdamaian abadi benar-benar terwujud di Serambi Mekah. (57h)

BANDA ACEH - Anak-anak pengungsi Aceh di barak pengungsi di Kabupaten Aceh Besar menggelar kegiatan budaya, dengan menampilkan berbagai seni tarian tradisional setempat, sebagai bentuk kegembiraan mereka menyambut perjanjian damai di Helsinki, Finlandia, Senin (15/8). Acara yang dihadiri sekitar 70 anak pengungsi korban gempa bumi dan tsunami tersebut berlangsung di gedung pertemuan Anjong Mon Mata di Banda Aceh, Minggu kemarin.

Kegiatan yang diprakarsai oleh Bale Peu ubat Hate (Balai Obat Hati) Yayasan Psikodista NAD itu dihadiri Asisten III Setwilda NAD, Syahbuddin BP, dan sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM) asing.

Pada kegiatan budaya tersebut, anak-anak pengungsi menampilkan berbagai tarian tradisional Aceh, seperti Ranum Lapuan, Rapai Geleng, dan lagu-lagu anak dengan tema "Saleum Aneuk Aceh" (Salam Anak Aceh), dengan lagu andalannya "Damaikan Hati Kami".

Lagu-lagu yang ditulis Nurjanah, Sofyan SPd, dan Diana Permatasari tersebut dinyanyikan oleh tim penyanyi yang merupakan gabungan anak sekolah dan anak-anak di barak pengungsi korban musibah gempa bumi dan tsunami. Lagu-lagu tersebut telah dikasetkan dan diproduksi oleh Yayasan Psikodista NAD bekerja sama dengan LSM International Relief and Development (IRD) dan PT Arun, sebanyak 5.000 buah.

Dari 5.000 kaset tersebut, 100 kaset telah dikirim ke Helsinki untuk dibagi-bagikan kepada delegasi RI dan GAM yang akan menandatangani kersepakatan damai pada Senin (14/8).

Mahasiswa Mendukung

Sekitar 100 mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Provinsi NAD berunjuk rasa damai untuk mendukung proses perjanjian damai antara Pemerintah RI dan GAM yang akan ditandatangani di Helsinki, Finlandia, Senin hari ini.

Aksi damai mahasiswa tersebut dimulai pukul 09.30 dari halaman taman kota (depan Masjid Raya Baiturrahman) menuju bundaran simpang lima di Banda Aceh, Minggu. Sesampainya di bundaran simpang lima, mahasiswa melepas dua burung merpati sebagai lambang perdamaian, sehingga diharapkan proses damai di Aceh akan benar-benar terwujud. Kemudian mahasiswa membagi-bagikan bunga "perdamaian" kepada warga yang melintasi simpang lima tersebut.

Ketua Aliansi BEM se-NAD, Zirhan, menyatakan, mahasiswa Aceh mendukung sepenuhnya proses perdamaian antara Pemerintah RI dan GAM secara permanen.

Mahasiswa juga mendesak kedua pihak untuk mengimplementasikan bentuk-bentuk perdamaian secara konkret di lapangan, yakni kelompok GAM bersedia menyerahkan seluruh senjatanya kepada Pemerintah RI. Sementara Pemerintah RI memulihkan dan mengembalikan seluruh hak-hak politik kelompok GAM seperti masyarakat sipil biasa, menarik pasukan TNI nonorganik dari NAD yang dilakukan secara bertahap.

Dikatakannya, mahasiswa juga mendesak pihak-pihak yang melakukan perundingan untuk tidak menjadikan perundingan sebagai ajang seremonial belaka dan komoditas kepentingan politik elite politik masing-masing pihak.

Di tempat terpisah, Tim Aceh Monitoring Mission (AMM) menyatakan, menghormati integritas negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dalam menjalankan misi pemantauan proses perdamaian Pemerintah RI dengan GAM. "Uni Eropa (UE) dan lima negara ASEAN telah diundang oleh Pemerintah Indonesia untuk membantu pelaksanaan nota kesepahaman (MoU) dan kami akan melaksanakan itu dengan menghormati integritas NKRI," kata Ketua Tim AMM, Fieter Fieth, kepada wartawan, di Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) Blang Bintang, Aceh Besar, Minggu kemarin.

Setibanya di Bandara SIM, Ketua Tim AMM yang ikut didampingi Duta Besar Inggris di Jakarta Faye Belnis mengucapkan selamat kepada pihak GAM yang akhirnya menandatangani perjanjian damai di Helsinki, Finlandia. "Mudah-mudahan perjanjian damai kedua pihak bisa membawa hasil untuk menuju situasi yang makmur dan sejahtera bagi bangsa Indonesia, khususnya masyarakat di Aceh," tambahnya.

Dia menjelaskan, UE dan lima negara kontributor dari negara-negara ASEAN telah menempatkan tim pemantau awal untuk membantu mempersiapkan berbagai kebutuhan tim monitoring yang akan melaksanakan tugasnya di provinsi ujung paling barat Indonesia ini.

"Saya ingin menyimpulkan dari semua itu dan menyerukan kepada RI dan GAM untuk menghentikan kekerasan serta menghindari segala bentuk kekerasan dalam proses damai tersebut," katanya.

Sementara itu, suasana di Kota Banda Aceh dan Aceh Besar pada Minggu dilaporkan normal dan sebagian masyarakat tampak menggelar doa bersama untuk perdamaian, seperti di halaman Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. Tidak kurang dari 100 orang dari berbagai pelosok desa di Aceh Besar dan Banda Aceh menggelar doa bersama untuk menyambut prosesi penandatanganan kesepakatan damai RI-GAM.

Masih Terjadi Kekerasan

Menjelang penandatanganan kesepakatan damai antara pemerintah RI dan GAM, ternyata aksi kekerasan masih mewarnai di Serambi Makkah. Akhir pekan ini, aksi brutal diperlihatkan anggota GAM yang membacok seorang anggota Marinir.

Menurut Komandan Satgas Info Komando Operasi Pemulihan Keamanan TNI di Aceh Letkol CAJ Erie Soetikno dalam siaran persnya, Minggu (14/8), aksi brutal anggota GAM ini terjadi di Pasar Pusong, Lhokseumawe, pada Jumat (12/8) lalu. Awalnya, aksi kekerasan ini terjadi ketika anggota marinir Kopral Dua Ignatius Arbeni pada pukul 09.20 sedang melaksanakan kegiatan rutin belanja kebutuhan logistik. Saat itu, ada seorang penjual kelapa yang memaksa Ignatius Arbeni untuk membeli dagangannya. Merasa tidak membutuhkan kelapa, Ignatius Arbeni menolak. Namun, tanpa sebab yang jelas, secara tiba-tiba Ignatius dibacok dari belakang dengan sebuah parang. Selanjutnya, pelaku diketahui bernama M Dahlan (26), anggota GAM.

Korban yang tidak siap mendapat serangan tebasan parang tersebut melakukan perlawanan, meski akhirnya harus jatuh tersungkur ke tanah setelah mendapat empat luka bacok dan luka memar di muka akibat hantaman popor senjata yang direbut oleh Dahlan.

Kejadian yang sempat membuat panik warga yang tengah berbelanja ke pasar itu diketahui oleh anggota TNI lainnya dari Yon Kav 7 yang juga sedang berbelanja. Akhirnya, Dahlan terpaksa dilumpuhkan oleh anggota TNI, karena nekat ingin melarikan diri meski sudah mendapat tembakan peringatan.

Dikatakan Dansatgas Info TNI Erie Soetiko, kejadian ini menunjukkan bahwa personel GAM, khususnya yang berada di lapangan, tidak memiliki iktikad baik untuk mendukung Pemerintah RI guna menciptakan perdamaian dan kedamaian di Aceh. (sas,F-4,aih, dtc, ant-14,49h)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA