| Senin, 15 Agustus 2005 | MURIA |
Harapan di Balik Hadirnya Suara Muria (1)Upaya Bentuk Regionalisasi PemberitaanEdisi khusus Suara Muria akhirnya dapat menyapa pembaca Suara Merdeka, khususnya di eks-Karesidenan Pati setiap pagi, mulai 18 Agustus mendatang. Tentunya, selain bertambahnya jumlah halaman - dari dua menjadi empat halaman berdampak pada makin banyaknya berita yang dapat dimuat, seharusnya ada peningkatan lain yang ditunggu pembaca, misalnya soal ketajaman dan kelengkapan materi beritanya. Biasanya, dengan satu atau dua halaman, sangatlah terbatas berita yang dapat disajikan untuk pembacanya. Bahkan, tak jarang, seorang pelanggan di sebuah kota merasa tak cukup puas, mengingat tak ada satu berita pun tentang wilayahnya, pada koran yang setiap hari dibacanya. Mukti Sutarman EsPe, seorang pendidik sekaligus seniman Kota Kretek, mengaku sering menggerutu karena persoalan tersebut. ''Sering saya tak menjumpai berita dari Kudus meski itu cuma woro-woro,'' katanya. Keluhan warga yang setiap hari rela membelanjakan uangnya barang Rp 1.500, untuk lembaran berita bernama Suara Merdeka itu, kini rupanya dapat secepatnya dicarikan solusinya. Terakomodasi Pemberitaan yang mengangkat isu dan geliat masyarakat di eks-Karesidenan Pati akhirnya dapat terakomodasi, setidaknya jauh lebih ''komplet'' dari biasanya. Penambahan Suara Muria pada Suara Merdeka dari dua halaman menjadi empat halaman pada 18 Agustus mendatang, niscaya akan dapat mengangkat detak aktivitas dan buah pemikiran masyarakat yang ada di Pantura Timur. Namun, di samping adanya kelegaan akan bertambahnya jatah berita yang dapat dimuat, sempat muncul kekhawatiran akan hilangnya akses mengetahui pemberitaan dari daerah lain. Kekhawatiran tersebut muncul lantaran terpakainya ruang yang sebelumnya dipakai untuk pemberitaan daerah lain tersebut untuk Suara Muria. Secara terbuka, Bupati Kudus, Ir HM Tamzil mengemukakan itu pada pertemuan stakeholder Suara Merdeka, Sabtu (13/8) di Hotel Griptha Kudus. Selain Pemimpin Redaksi Sasongko Tedjo SE MM dan pengasuh harian ini, hadir juga sejumlah anggota Muspida dari eks-Karesidenan Pati, tokoh masyarakat, serta perwakilan agen dan loper koran. Menurut Tamzil, dirinya memang menanti kehadiran penambahan halaman Suara Muria, namun sekaligus waswas bila Suara Muria, akhirnya dapat menggeser pemberitaan dari daerah lain. Cukup Diandalkan ''Terus terang, saya takut bila pemberitaan tentang Suara Muria hanya dibaca oleh pembaca di eks-Karesidenan Pati,'' tandasnya. Adapun pemerhati masalah hukum di Kota Kretek, sekaligus koordinator YAPHI PPHM Kudus, Lusila Angela Bodroani mengatakan, sisi terkuat dari Suara Merdeka selama ini adalah nuansa kejawatengahannya. Kalau untuk permasalahan sekitar Jawa Tengah, aktivis yang masih rajin ''turun ke jalan'' tersebut menyatakan Suara Merdeka masih cukup diandalkan. ''Namun demikian, soal analisisnya perlu lebih dipertajam,'' ungkapnya Dari daerah yang dikenal asal makanan nasi gandul - Pati, Wakil Bupati Pati, Drs H Kotot Kusmanto, mengutarakan, keberadaan Suara Muria dapat memperkaya informasi mengenai eks-Karesidenan Pati. Sebagai tambahan, di daerahnya potensi pertanian dan perekonomian cukup layak untuk diangkat. Hal itu, kata dia, merupakan tantangan bagi Suara Muria untuk dapat menyebarluaskan informasi tersebut kepada publik. Pernyataan senada diungkap Tamzil, tren regionalisasi pemberitaan pada media memang sudah saatnya diikuti oleh Suara Merdeka. ''Namun demikian regionalisasi bukan berarti pemberitaan hanya berpusat pada pemerintahan saja,'' tandas dia. Menanggapi hal tersebut, Pemimpin Redaksi Harian Umum Suara Merdeka Sasongko Tedjo didampingi Wakil Pemimpin Redaksi Amir Machmud NS menjelaskan Suara Muria bukan berati meniadakan pemberitaan dari daerah lain. Namun demikian, porsi pemberitaan dari daerah lain akan sedikit berkurang. Pemberitaan luar daerah yang dirasa informasinya tidak dibutuhkan oleh pembaca Suara Muria tidak akan ditampilkan. (Anton WH, Satryani KN-17v) |