| Senin, 15 Agustus 2005 | KEDU & DIY |
Visi sebagai Daerah Agraris Belum TersosialisasikanKEBUMEN - Hingga saat ini, visi dan misi Kebumen sebagai daerah agraris dan kawasan maritim belum tersosialisasikan kepada masyarakat maupun Pemkab. Bahkan, sumber daya manusia (SDM) untuk merealisasikan dua pola kawasan itu masih lemah. Hal tersebut terungkap dalam Lokakarya Pengembangan Program Pemerintah Daerah di Pemkab Kebumen yang dibuka Sekda H Suroso, Sabtu lalu. Lokakarya yang difasilitasi Yayasan Percik itu dihadiri Geoffrey Swenson dari United States Agency International Development (USAID). Ir H Djoenedi Fatchurahman MSi dari Bappeda Kebumen mengakui, visi-misi dan tugas pokok serta fungsi sebagai daerah agraris dan kawasan maritim masih diletakkan pada struktur organisasi dan tata kerja (SOT) yang tumpang tindih. Bahkan belum ada dinas yang menangani aspek kemaritiman. Dari sisi perencanaan, Djoenedi mengemukakan lemahnya dokumen perencanaan pada satuan kerja. Ada kebiasaan, tanpa dokumen perencanaan, program masih bisa berjalan. Hal itu bisa dilihat dari satuan kerja Pemkab Kebumen yang belum memiliki rencana strategis dan program. Sementara itu, anggota Komisi A DPRD Rahmat OY Basuki mengatakan, kapabilitas DPRD dalam memahami dan merumuskan anggaran umumnya masih lemah, baik dalam menyusun draf perundangan maupun peraturan daerah. ''Kami juga dinilai belum melakukan public hearing terhadap setiap rancanangan peraturan daerah (raperda).'' Press Center Hal lain yang mengemuka dalam diskusi kelompok adalah peranan media. Peserta lokakarya menyoroti keberadaan Press Center yang memang memudahkan praktisi media memperoleh data. Namun kegiatan jumpa pers seminggu dua kali, sering membelenggu wartawan. Meskipun Pemkab telah membuka informasi dialog pejabat publik dengan masyarakat lewat Ratih TV, radio In FM maupun SMS ke Bupati, belum pernah ada uji publik sehingga timbul kesan hanya bermanfaat bagi dinas dan tidak bisa diakses semua lapisan masyarakat. Isu menarik yang dibahas dalam lokakarya itu antara lain, keuangan dan anggaran, manajemen, gender, serta civil society. Namun, temuan-temuan Percik maupun Pemkab Kebumen masih dalam proses dan belum sampai pada kesimpulan. Mr Geoffrey Swenson berterima kasih kepada berbagai pihak, khususnya Bupati Rustriningsih, staf, kalangan LSM, dan masyarakat yang terlibat dalam kegiatan tersebut. Dia menegaskan, muara penelitian yang didukung USAID itu bertujuan agar otonomi daerah berdampak bagi peningkatan pelayanan kepada masyarakat. Swenson menghargai keterbukaan pemerintah dan masyarakat Kebumen. Bahkan saat bertemu bupati, dia memperoleh masukan, dalam periode kedua ini Bupati banyak menghadapi tugas dan persoalan berat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. (B3-42m) |