| Senin, 15 Agustus 2005 | KEDU & DIY |
Mantan Pejuang yang Jadi Tukang PatriSEORANG laki-laki renta tampak mengayuh pelan sepeda kayuhnya. Dia berkeliling dari kampung ke kampung sembari berteriak, ''Patri, patri...'' Suara lirih tak begitu kuat. Meski demikian, orang-orang di kampung sudah tahu, itulah suara Amat Mukmin yang sudah berusia 78 tahun. Mantan pejuang '45 yang kini di usianya sudah uzur tersebut masih berusaha mencari tambahan penghasilan. Upah pensiun veteran Rp 450.000/bulan tidak cukup untuk menghidupi keluarganya. Karena keahliannya mematri, jadilah dia keluar masuk kampung membantu ibu-ibu rumah tangga yang panci atau wajannya bocor. ''Uang pensiun tidaklah cukup untuk menyekolahkan anak, untuk makan saja harus sangat berhemat. Karena keahlian saya mematri, ya mau tidak mau saya kerjakan. Lumayanlah buat nambah biaya hidup sehari-hari,'' tutur Mukmin yang sedang menghidupkan api untuk memanasi patri. Namun, pengguna jasa patri saat ini sudah sangat jarang. Lelaki dari Dusun Gunungan, Bambanglipuro Bantul, Yogyakarta itu menceritakan, selama 10 tahun terakhir rata-rata hanya mendapat empat sampai lima pengguna jasanya dalam sebulan. Sekali mematri, Mukmin memasang tarif Rp 4.000. Jadi, sebulan paling dia hanya memperoleh Rp 16.000. Sembari mematri, dia mengisahkan masa lalunya yang heroik ketika membela negeri ini. Puluhan tahun silam, sewaktu terjadi agresi militer II tahun 1948, dia bersama pejuang lain dengan gagah berani maju di garda depan peperangan. Tanpa pamrih, dengan persenjataan apa adanya mereka berperang melawan Belanda. Sudah barang tentu, nyawa menjadi taruhannya. Kecewa Setelah sekian lama merdeka, ada sedikit kekecewaan di hatinya. Apa yang dia dan teman-teman perjuangkan saat ini hanya menjadi rebutan penguasa yang tak lagi memperhatikan rakyat di bawah. Dia melihat orang-orang di atas hanya memperkaya diri sendiri tanpa memperhatikan nasib orang kecil. Yang kaya semakin kaya, sedangkan orang kecil yang dulu banyak berjasa pada negeri ini untuk sekadar bertahan hidup saja susah. Mukmin ternyata tidak sendirian, masih ada Poniman Somowihardjo (78). Dia dulu juga ikut ambil bagian dalam masa revolusi. Saat itu dia tergabung dalam Tentara Pelajar Datasemen III Batalion-17. Setelah agresi Belanda, Poniman keluar dari kesatuannya dan berkeluarga. Sebagai mantan pejuang, tahun 1962, Poniman mendapat sertifikat veteran dan mendapatkan uang santunan pada tahun 1982 Rp 45.000 yang naik berkala setiap tahun dan saat ini mencapai Rp 400.000/bulan. Seperti juga Mukmin, uang sebesar itu tidaklah cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Dia juga berusaha mencari tambahan penghasilan dengan berjualan gudeg di Condong Catur, Yogyakarta. Menjelang kemerdekaan ini, kisah-kisah mereka terangkat kembali. Namun hanya sekilas saja, kemudian hilang. Pejuang lainnya, Dudut Moejiono (77), sudah tidak kaget dengan perilaku manusia yang cepat melupakan sejarah, sebab sejak dulu orang-orang seperti itu juga sudah ada.(Agung PW-42d) |