logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 15 Agustus 2005 INTERNASIONAL
Line

Kapal Selam Pembunuh Itu Telah Dipensiunkan

MILAN - Selama tahun-tahun kejayaannya, Enrico Toti dikenal sebagai kapal selam pembunuh. Tubuhnya yang berwarna hitam membuat kapal selam itu sulit dideteksi musuh. Tugas utamanya adalah memburu kapal selam Soviet yang bertenaga nuklir.

Saat ini, Toti sudah renta. Ia melakukan pelayaran terakhir menuju Italia utara, untuk menunaikan "misi damai".

Kapal selam yang aktif semasa Perang Dingin itu kini dipensiunkan dan dipamerkan di sebuah museum Kota Milan.

Toti berbentuk seperti ikan paus dengan panjang 46 meter. Bobotnya 536 ton. Kapal selam yang selalu menjalankan misi rahasia itu dibawa dengan truk besar, melewati ladang-ladang jagung dan kawasan industri menuju Milan.

"Di mana tempat peluncur rudalnya?" tanya Davide Albiate, bocah lelaki berusia delapan tahun, kepada ayahnya saat Toti memasuki Milan.

Toti dibuat pada 1965 sampai 1967. Ia merupakan kapal selam pertama buatan Italia, sejak negara itu dibolehkan kembali memproduksi senjata setelah Perang Dunia II.

Saat itu, Toti merupakan terobosan teknologi karena pertama kali menggunakan alat deteksi sonar.

Kapal selam itu menggunakan mesin listrik berkekuatan 772 tenaga kuda. Toti dapat berputar 180 derajat dalam jarak 250 meter.

"Kapal selam ini merupakan bagian penting dari warisan sejarah kita. Bayangkan, selama 30 tahun orang-orang bekerja di bawah laut yang gelap," kata Fiorenzo Galli, direktur Museum Sains Leonardo da Vinci di Milan.

Kurangi Bobot

Pemindahan Toti dari pangkalan AL di sekitar pantai Adriatic, Sicilia, ke Sungai Po kemudian ke museum Milan juga merupakan ujian tersendiri bagi teknologi modern.

Para teknisi terpaksa mencabut sejumlah tiang Toti untuk mengurangi bobotnya, sehingga dapat diangkut truk dan melewati jalan aspal.

Program komputer tiga dimensi digunakan untuk memastikan Toti tidak akan membentur gedung atau jembatan saat menempuh perjalanan darat.

"Untuk sampai ke Milan, kami terpaksa mengambil jalan berputar. Lampu-lampu jalan diturunkan, jalur trem ditutup sementara," kata Giovanni De Paolo, teknisi yang bertugas memindahkan Toti.

Namun sebagian orang beranggapan, perjalanan terakhir Toti baru selesai ketika kapal selam itu telah dipamerkan di museum Desember mendatang.

"Suami saya bertahun-tahun bekerja di kapal selam. Kapal selam ini sungguh menakjubkan," kata Rosa Martini (83), saat melihat Toti dengan tatapan takjub.

"Kini, saya bisa berdiri di samping meja pengendali. Saya bisa membayangkan, bagaimana suami saya bekerja dulu."(rtr-ben-25)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA