logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 11 Agustus 2005 PANTURA
Line

Pesisiran

Tiadakan Saja Kelas Imersi

Oleh: Taufan Arif NS

RAMAINYA kasus di kelas Imersi SMAN 1 Kota Tegal sekarang ini, perlu menjadi pelajaran semua pihak. Dari permasalahan itu masyarakat dapat belajar banyak dari kelas imersi. Apa itu kelas imersi, bagaimana keunggulannya, apakah merupakan suatu kelas ideal, dan apakah merupakan cerminan majunya pendidikan di suatu sekolah?

Masyarakat mengenal kelas imersi sebagai kelas yang bahasa pengantarnya adalah bahasa Inggris, sedangkan menurut beberapa guru SMAN 1 Tegal sendiri saat ditanya tentang kelas imersi, mereka menjawab tidak begitu paham. Nah, lo!

Menurut arti bahasa, yang saya buka di kamus bahasa Inggris-Indonesia karangan John M Echols dan Hassan Shadily, imersi berarti pencelupan. Pertanyaannya, apa yang dicelupkan?

Mari kita tidak usah terjebak dalam pengertian kelas imersi, karena beberapa gurunya saja sulit menjelaskan apalagi komunitas di luar. Hanya saja, permasalahan berikutnya adalah terjadinya miskomunikasi antara pihak sekolah dan orang tua siswa. Semua itu tidak lepas dari sosialisasi yang kurang tepat, sehingga antara harapan dan kenyataan seperti jauh panggang dari api.

Seharusnya sebelum mengadakan kelas imersi, perlu persiapan matang. Seperti persiapan penguasaan bahasa Inggris para guru, TOEFL-nya sudah mencapai skor berapa? Kemudian ketersediaan sarana dan prasarana sudah memadai atau tidak? Sampaikan kepada orang tua apa adanya, jangan memberi harapan-harapan kosong.

Lepas dari segala hal, kalau memang pihak sekolah belum mampu, maka tidak usah memaksakan diri untuk mengadakan kelas imersi. Jangan sampai sekolah hanya sekadar memenuhi keinginan segelintir guru yang lebih mementingkan pamor dan menjaga gengsi sebagai sekolah "unggulan", kenyataannya ke dalam sendiri belum dikondisikan.

Permasalahan yang lain, pihak orang tua siswa di kelas imersi ingin anaknya masuk dalam kelas IPA. Kenapa terjadi orang tua memaksakan anaknya harus di jurusan tersebut, ini perlu dicari akar permasalahannya. Atau memang karena memandang kalau tidak masuk jurusan IPA kemudian gengsinya kurang? Siapa yang salah, pihak sekolah atau orang tua?

Sebagai praktisi pendidikan, saya melihat bahwa memang ada beberapa anggapan dari masyarakat (tetapi bukan orang tua siswa kelas imersi) bahwa kalau anak tidak masuk jurusan tertentu tidak membanggakan. Anggapan ini tentu saja kurang tepat, apalagi sampai memaksakan kehendak supaya anak masuk ke jurusan tertentu. Hal ini menyalahi kaidah-kaidah pendidikan yang seharusnya.

Bukan Pelampiasan

Anak bukanlah pelampiasan dari ketidakpuasan orang tua terhadap masa lampaunya. Kondisi anak sekarang berbeda dengan orang tua pada masanya. Kalau saja orang tua mau membaca tentang kecerdasan emosional (EQ) tentu akan menyadari bahwa keberhasilan anak tidak sekadar keberhasilan karena mempunyai kecerdasan intelektual (IQ) saja.

Menurut Lawrence E Shapiro PhD, seorang psikolog pengarang buku "Mengajarkan Emotional Intellegence" (1999), harusnya orang tua memberi kesempatan bagi anak untuk menguasai dunianya. Jika anak yang sudah bersekolah belum menunjukkan kemampuan akademisnya, maka orang tua dapat menjalin kerja sama dengan guru-guru untuk mengembangkan program pendidikan yang membagi proses belajar ke dalam tahapan-tahapan kecil.

Memberi kesempatan pada anak-anak ini adalah suatu upaya untuk menetapkan sasaran tersendiri dan mengevaluasi kemajuan mereka sendiri, selain mengajari mereka melalui pendekatan multisensorik dengan menggunakan kesenian, musik, dan belajar lewat pengalaman. Alih-alih menyalahkan sekolah karena tidak memberi cukup banyak, mestinya mereka juga harus menambah waktu untuk mendidik anak-anak mereka sendiri.

Apapun yang terjadi, kasus kelas imersi SMAN 1 Tegal harus menjadi pelajaran bagi semua pihak dan masyarakat harus kritis kalau menerima "iklan-iklan" lembaga pendidikan yang tidak realis. Namun, tidak bijak juga kalau sampai memaksakan anak masuk jurusan tertentu yang anaknya saja dianggap tidak mampu oleh pihak sekolah, sehingga terjadi pemboikotan oleh dewan guru. Korbannya tentu saja anak.

Kalau saja kita mau cermat, tidak perlu ada kelas imersi, apalagi kalau hanya sekadar gengsi dari kedua belah pihak, sekolah atau orang tua. Sebab, yang terjadi adalah kelas imersi tidak lebih hanya sekadar pengantarnya saja yang pakai bahasa Ingggris, tanpa ada keistimewaan lain.

Apalagi, kalau di rumahpun bahasa Inggris tidak dipakai sebagai bahasa pergaulan hasilnya pun tanggung. Tapi, kalau anak kepingin sekadar bisa bahasa Inggris cukup dikursuskan, selesai sudah permasalahan. Hanya saja, yang pasti bahwa kelas imersi atau kelas unggulan atau kelas yang diistimewakan, yang didasarkan adalah masalah biaya (bukan di SMAN 1 Tegal). Hal itu sangat bertentangan dengan kaidah pendidikan yang menekankan egalitarian.

Penulis adalah Praktisi Pendidikan, tinggal di Kabupaten Tegal. (19h)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA