logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 11 Agustus 2005 PANTURA
Line

Soal Kelas Imersi di SMAN 1 Tegal

Sekolah Akhirnya Setujui Tiga Opsi

TEGAL - Pimpinan dan staf pengajar SMAN 1 Tegal akhirnya menerima tiga opsi yang ditawarkan Dinas P dan K Kota Tegal. Pertama, perlu adanya pemantauan siswa IPS yang masih memungkinkan masuk IPA. Kedua, kelas imersi swadana, yakni kelas 11 dan 12, masuk reguler. Ketiga, adanya perlakuan yang sama dari pihak sekolah terhadap siswa.

Hal itu diungkapkan Kepala Dinas P dan K Kota Tegal, Drs Machful, Rabu (10/8). Sebelumnya, Senin (8/8), di SMAN 1 Tegal diselenggarakan forum yang dihadiri Kasi Hubungan Kerjasama Luar Negeri Dinas P dan K Jateng, Djasman Indratno, untuk membahas opsi tersebut.

Pertemuan diikuti Kepala SMAN Drs Suroto MM, beserta para guru, Wakil Wali Kota Dr Maufur, dan Ketua Komisi D DPRD Darni Imaduddin, serta Ketua Dewan Pendidikan SN Ratmana. Selain itu, hadir pula komite sekolah M Iqbal SE MM, serta ketua forum orang tua imersi Haryo Guritno.

Menurut Machful, diskusi sempat berlangsung alot. Namun setelah terjadi diskusi yang cukup panjang, akhirnya sekolah menerima tiga opsi tersebut. Semula sebagian besar guru sekolah itu menolak opsi pertama, dengan alasan memberatkan mereka. Namun forum orang tua menilai penolakan itu sebagai ketidaksiapan pihak sekolah membuka kelas imersi.

"Menyadari demi stabilitas kegiatan belajar mengajar di sekolah tersebut, akhirnya pihak sekolah menerima opsi tersebut," ujar machful .

Menurut dia, seharusnya pihaknya tidak perlu turun tangan mengenai masalah imersi. Begitu pula dengan Dinas P dan K Jateng.

Namun karena terjadi kasus sebelumnya yang cukup kompleks, dan sekolah tidak dapat menyelesaikan, pihaknya merasa bertanggung jawab untuk ikut andil.

Seperti disebutkan Haryo Guritno, bahwa imersi tidak sesuai dengan yang diharapkan banyak pihak, di antaranya para orang tua siswa. Permasalahan bertubi-tubi dialami SMAN 1, berkait dengan kelas yang diharapkan menjadi kelas unggulan itu.

Dia menyebutkan, di antaranya adalah tes remidi yang diselenggarakan sekolah tersebut beberapa waktu lalu, yang dinilai tidak adil. Penyelenggaraan tes remidi itu hanya sebagai langkah mengisi kuota kelas IPA, yang hanya memerlukan beberapa siswa.

"Permasalahan terakhir yang terjadi, sejumlah guru SMAN 1 mengaku keberatan dengan dipaksakannya siswa IPS masuk ke jurusan IPA," ujar dia.

Bahkan menurut salah satu orang tua siswa imersi, Hamidah Abdurrahman SH MH, dirinya mendapat pengaduan anaknya yang mendapat perlakuan tidak baik dari guru sekolah tersebut, terutama yang mengajar kelas reguler.

"Kelas imersi yang pada konsep awalnya sebagai kelas unggulan, siswanya malah menjadi korban sekolah. Status anak-anak dibedakan dengan siswa reguler," ujar dia yang ditemui di SMAN 1 Tegal.

Dia juga menyayangkan fasilitas yang dijanjikan sekolah, seperti komputer dan laboratorium bahasa, tidak terealisasi sampai saat ini.

"Siswa imersi malah disuruh nebeng fasilitas siswa reguler. Padahal, orang tua sudah membayar biaya kebutuhan mereka," tambah dia. (lei-50a)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA