logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 11 Agustus 2005 EKONOMI
Line

Sengitnya Kompetisi di Bisnis EO

Pertanyaan:

Akhir-akhir ini saya melihat begitu banyaknya event organizer yang tumbuh di Semarang. Disamping itu, pemain-pemain Jakarta juga mulai merambah daerah. Terus terang, sebagai pemain lama, kami harus ekstra pasang kuda-kuda, mengantisipasi persaingan yang semakin rapat.

Ada beberapa persoalan yang muncul dengan hadirnya pemain-pemain baru, yang pertama adalah masalah organizing fee. Karena kebanyakan tujuan mereka adalah mengikat relationship, maka kadang mereka memasang harga yang sangat tidak rasional. Sulitnya, kebanyakan pasar sasaran EO di Jawa Tengah lebih banyak mempertimbangkan aspek ''murah'' daripada soal pengalaman kerja. Persoalan kedua, datangnya pemain-pemain Jakarta, kami lebih tergusur karena mereka langsung terkoneksi dengan para pengambil keputusan di Jakarta. Seperti anda tahu, sekarang banyak event yang berlabel roadshow, yang artinya pengelolaannya sudah diborong langsung dari Jakarta.

Persoalan ketiga adalah masalah hak cipta intelektual. Setiap kali terjadi lelang order, kami sering kalah tetapi ide even kami tetap dipakai. Ini persoalan yang sangat sulit buat kami, kalau presentasi ala kadarnya, pasti tergusur, tetapi kalau tampil habis-habisan, ide kami saja yang dicomot.

Dari persoalan-persoalan ini, kami mohon saran strategi apa yang harus kami mainkan agar kami tetap eksis? Terima kasih.

Soeharto
Ngesrep Barat Semarang

Jawab

Mas Harto, kemarin waktu ada acara di gedung Dharma Wanita, saya sempat diwawancara oleh reporter dari salah satu radio bisnis di Semarang, juga soal Event Organizer. Kemarin, harian ini juga memuat bahasan yang sama, tentang menjamurnya EO di Jawa Tengah. Sebenarnya kekhawatiran anda logis, tetapi masuknya pemain baru, serbuan pemain luar, bukan hanya pada bisnis EO, tetapi juga pebisnis lainnya. Saat tampil sebagai pembicara dengan Adrie Soebono dari Java Musikindo dalam seminar ''EO bisnis or trend?'', saya menjelaskan bahwa jumlah pemain di bisnis EO akan selalu banyak, tetapi jumlah pemain yang tetap eksis dapat dihitung dengan jari. Salah satu penyebabnya, banyak kalangan yang berpikir bahwa EO hanyalah sejenis kepanitiaan yang bertugas melaksanakan event. Nah, EO yang lahirnya didasari pemikiran semacam ini hanya hidup musiman! Yang perlu Anda waspadai adalah munculnya gejala diversifikasi usaha dari bisnis media atau advertising, yang juga ikut-ikutan bermain bisnis EO. Disamping memiliki modal financial yang kuat, networking yang luas, dan kemudahan publikasi, rata-rata mereka memiliki SDM yang terbiasa untuk mengkomunikasikan ide kreatifnya ke kliennya.

Untuk pemain dari Jakarta, anda seharusnya tak perlu terlalu risau, pasalnya seharusnya anda lebih tahu tentang karakter masyarakat di Jawa Tengah daripada mereka. Adrie bahkan sempat bilang ke kami, bahwa dia belum menggelar grup musik dunia di Semarang, karena dia tidak tahu karakter masyarakat Semarang dan tidak memiliki partner (co organizer) di Semarang. Banyak pemain Jakarta yang gagal bermain di Jawa Tengah. Kami masih ingat betul bagaimana EO besar di Jakarta, bingung, kalang kabut dan nyaris gagal membuat event Borobudur International Festival. Jadi mindset Jakarta lebih hebat mesti dihilangkan dulu dari kinerja kita. Sebaliknya, Anda meski berpikir taktis, yaitu dengan menjadikan mereka sebagai partner bisnis. Nah, kalau Anda tanya strategi, saya selalu menekankan pentingnya diferensiasi produk menjadi langkah awal, atau bahasa gampangnya ''Apa yang membuat EO anda beda dengan EO lainnya?'' Sebagai contoh, Java Musikindo menetapkan produknya adalah pemusik-pemusik dunia, sehingga setiap orang selalu berpikir ketika ada pentas musik mancanegara, pasti Java yang menggelar! Kata kunci untuk menciptakan diferensiasi adalah kreativitas. Di Semarang kita punya Capung Organizer, yang memiliki produk yang spesifik yaitu event yang berbau China. Mereka membuat seminar Tsun Tzu, Pasar Kopi Semawis (komunitas Pecinan Semarang untuk Pariwisata), dan yang terakhir membuat event internasional 600 tahun Cheng Ho. EO lain yang juga sangat spesifik adalah TOP in productions, yang khusus memproduksi event seminar. Hampir semua pembicara nasional dan internasional pernah dihadirkan oleh EO ini. Tak mengherankan jika setiap ada seminar, orang Semarang selalu menanyakannya ke EO ini. Nah, anda mau membedakan produk anda seperti apa?

Langkah kedua, anda harus menetapkan positioning, yaitu menciptakan posisi khusus di benak konsumen/klien anda. Positioning adalah janji Anda kepada konsumen, sehingga kata kuncinya adalah komitmen yang tinggi. Pemain-pemain amatiran, biasanya sulit memegang kata kunci ini, hasilnya setelah order ditandatangani, pelaksanaan ala kadarnya... Pemain-pemain besar (seperti Java Musikindo) bahkan rela untuk merugi besar asal ''produknya'' tetap terjaga di benak konsumennya. EO sebagai bisnis jasa sangat ditentukan oleh kualitas SDM-nya. Dalam jasa, produk yang Anda jual adalah ''kualitas orang-orangnya''. Saya sering menjumpai di EO memiliki crew yang berjubel, tetapi mereka cuma sekadar ''bala dhupak'' yang cuma berpikir ''enjoy aja'' dan bukan berpikir bisnis!

Rata-rata mereka tidak memiliki spesifikasi keahlian dan ketrampilan yang terkait dengan bisnis EO. (59)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA