logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 10 Agustus 2005 SALA
Line

Pengusaha Dirikan Sekolah Internasional

KOTA - Para pengusaha besar di Kota Solo bertekad mengurangi devisa yang dikeluarkan untuk keperluan biaya pendidikan anak-anaknya di luar negeri.

Untuk itu mereka berkoalisi mendirikan sebuah lembaga pendidikan bertaraf internasional yang guru-gurunya sebagian adalah para ekspatriat lulusan perguruan tinggi terkenal di Amerika Serikat, Singapura, Australia, dan Filipina.

Sekolah yang diberi nama "Singapore Piaget Academy (SPA) Solo" ini akan mulai dibuka pada tahun pelajaran 2006/ 2007. Para pengusaha yang bergabung dalam pendirian sekolah tersebut antara lain Lukminto (Sritex), Hartono Setyo (Sari Warna), Robby Sumampow (Hailai), dan Ageng (Sasami Motor).

"Kami para pengusaha ini tak hanya berpikir untuk berdagang. Kami sangat menyadari dan peduli terhadap arti penting suatu pendidikan," ujar Hartono Setyo seusai penandatanganan Memorandum of Understanding(MoU) antara PT Piaget Indonesia dan PT Bina Insan Mulia di Rumah Makan Diamond, Solo, kemarin. SPA Solo itu konon mengadopsi kurikulum dari Kementerian Pendidikan Singapore.

Bahasa Mandarin

Dia mengatakan, bahasa pengantar utama sekolah itu adalah bahasa Inggris, sedangkan bahasa kedua adalah bahasa Mandarin dan bahasa Indonesia. Untuk tahap awal, sekolah itu hanya sampai pada tingkat SMU. Namun tidak tertutup kemungkinan untuk ditingkatkan sampai tingkat perguruan tinggi.

Bangunan yang direncanakan tiga lantai untuk sekolah tersebut akan didirikan di atas tanah seluas empat hektare di Kawasan Solo Baru. Hartono juga mengungkapkan, setiap tahunnya jutaan dolar AS uang dari Solo melayang ke luar negeri untuk keperluan biaya pendidikan. "Dengan berdirinya sekolah internasional ini, kita bisa menghemat devisa karena orang tua tak perlu lagi menyekolahkan anak-anaknya ke luar negeri," katanya.

Ia memerinci, setiap siswa rata-rata memerlukan biaya pendidikan di luar negeri 15.000 dolar AS per tahun. Jumlah anak dari Solo yang sekolah di luar negeri setiap tahunnya diperkirakan mencapai ratusan siswa.

"Itu belum termasuk biaya para orang tua untuk menjenguk mereka," katanya.

Pendirian sekolah itu juga dimaksudkan untuk mengatasi dampak buruk perkembangan anak-anak yang belajar di luar negeri. Dampak buruk itu antara lain berkaitan dengan pengaruh budaya. (bt-42n)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA