| Rabu, 10 Agustus 2005 | SALA |
Kampung MesenDulunya Lahan bagi Pencari RumputPungutan satu sen untuk membeli pupuk itu sangat terkenal. Tidak hanya bagi kalangan pencari rumput, tetapi juga bagi masyarakat sekitar kawasan tersebut. Dari situlah kemudian kawasan itu dinamakan Mesen. Dari kata emes-emes yang harus dibayar satu sen. NUKILAN peristiwa yang terjadi pada masa Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat diperintah SISKS Paku Buwono Ke-III (1749-1788) itu menurut buku Babad Solo karangan RM Sajid adalah awal mula munculnya nama Kampung Mesen. Menarik memang, sejarah nama kampung yang saat ini berada di Kelurahan Sudiroprajan, Kecamatan Jebres, Surakarta tersebut. Sebuah peristiwa yang pernah terjadi di kampung itu, ternyata bisa melatarbelakangi munculnya nama sebuah kampung. Demikianlah, pada masa tersebut, kawasan itu memang berupa tanah lapang yang ditumbuhi rerumputan lebat. Karena kelebatannya tempat itu kemudian menjadi lahan bagi para pencari rumput untuk mencari pakan bagi ternaknya. Mulanya hanya beberapa, namun semakin hari jumlah pencari rumput yang datang semakin bertambah banyak. Semakin banyak orang yang memangkasi rumput tersebut membuat kesuburan rumput semakin lama juga semakin berkurang. Karena itu, untuk mengantisipasi agar pertumbuhan rumput tetap terjaga, pengelola kawasan tersebut kemudian mencari cara. Setiap pencari rumput dipungut biaya satu sen untuk membeli emes-emes (pupuk). Dari situlah nama Mesen kemudian muncul. Perkembangannya kemudian, sebutan Mesen ternyata tak lekang diterjang laju zaman. (Wisnu Kisawa-42n) |