logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 10 Agustus 2005 PANTURA
Line

Hargai Perbedaan Pendapat Masalah Keislaman

PEKALONGAN - Wali Kota HM Basyir Ahmad mengimbau masyarakat agar tetap menghargai berbagai perbedaan pendapat dalam masalah keislaman.

Perbedaan pendapat yang terjadi di kalangan umat Islam, tidak perlu disikapi dengan rasa emosional dan pola-pola yang tidak rasional.

''Perbedaan pendapat adalah sesuatu yang wajar. Mengingat cara pandang manusia dalam mencermati, menelaah, dan menyikapi suatu permasalahan terhadap agama juga berbeda,'' ungkap Wali Kota yang dibacakan Wakil Wali Kota H Abu Almafachir dalam peringatan sewindu Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Pekalongan, kemarin. Hadir dalam acara tersebut, Ketua STAIN Drs Rozikin Daman MAg dan segenap civitas academica kampus itu.

Wali Kota menegaskan hal tersebut berkaitan dengan adanya peristiwa aktual di masyarakat, seperti wanita menjadi khotib dan imam shalat, shalat dua bahasa, dan kasus penyerangan jamaah Ahmadiyah.

Imbau dia, perbedaan pendapat dan penafsiran itu disikapi dengan lapang dada serta dikembalikan ke konteks awal Alquran dan sunah (hadis). Bila keduanya tidak ada maka dapat dicari dengan pintu ijtihad baik ijmak maupun qiyash.

''Agama menjamin perbedaan pendapat itu dengan dua pahala. Jika pendapat itu benar diberikan dua pahala namun jika salah diberikan satu pahala. Dengan demikian, kekeliruan penafsiran masih mendapat tempat dalam Islam. Karena itu, hendaknya perbedaan masalah keislaman harus dihargai.''

Dia mengemukakan, umat Islam bisa bertoleransi dengan umat agama lain. Sayang, kadang tidak bisa toleran terhadap sesama umat Islam yang berbeda dalam implementasi ajaran-ajaran agama.

Dengan adanya permasalahan tersebut, Wali Kota berharap, STAIN sebagai lembaga yang mencetak cendekiawan muslim dapat memberikan wawasan dan pencerahan pemikiran bagi umat Islam. Hal itu perlu mengingat ilmuwan di Indonesia lebih terkonsentrasi pada bidang penelitian dan pengembagan ilmu pengetahuan serta mengesampingkan realitas sosial yang ada dan terjadi di masyarakat.

''Ilmuwan kita juga disibukkan dengan pergulatan politik, seperti tampil sebagai pengurus partai politik, anggota legislatif, eksekutif, dan pengusaha. Sangat sedikit ilmuwan yang memiliki kepedulian sosial untuk mengawal dan memberikan pencerahan dan pencerdasan kepada masyarakat,'' paparnya. (A15-50j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA