| Rabu, 10 Agustus 2005 | PANTURA |
Budi Daya Pembibitan Bakau Dikembangkan di SiganduADA pemandangan menarik apabila Anda berkunjung ke objek wisata Pantai Sigandu, Batang. Sebelum masuk ke pantai, di timur akan terlihat pemandangan beberapa pekerja yang sedang sibuk menanam bakau. Tanaman bakau (mangrove) itu untuk merupakan pohon penghijauan di kawasan pantai. Di Pantai Sigandu itulah budi daya pengembangan bibit bakau sedang digalakkan. Hal itu mengingat tanaman tersebut berprospek cerah baik untuk memenuhi kebutuhan lokal maupun nasional. Itu berkaitan dengan banyaknya kawasan pantai di berbagai daerah yang rusak akibat abrasi. "Pohon bakau paling cocok sebagai tanaman penghijauan ataupun sebagai upaya perlindungan kawasan pantai dari ancaman abrasi," ujar Istoni, pengelola budi daya bibit bakau di Sigandu ketika ditemui Suara Merdeka, siang kemarin. Dia mengemukakan, pembibitan tanaman mangrove itu mungkin baru satu-satunya di pantura Jateng. Awal mula usaha itu, selain menyediakan stok bibit bakau juga dalam rangka memberikan lapangan pekerjaan bagi warga sekitar. "Khususnya untuk penyediaan bibit, penunjang program pemerintah dalam melestarikan kawasan pantai, juga dalam rangka pemberdayaan masyarakat." 170.000 Bibit Dia mengungkapkan, pihaknya dengan usaha pembibitan bakau itu sekaligus memberdayakan warga sekitar mulai dari pengisian tanah dengan upah Rp 15 per kantong dan rata-rata setiap orang bisa berpenghasilan Rp 15.000 - Rp 20.000/hari. Sementara itu, yang bekerja di bagian penanaman mendapat upah Rp 40.000/hari. Sekarang ini, di lokasi pembibitan sudah ada sekitar 170.000 bibit bakau, masing-masing ditanam dalam tanah ukuran 4,5 x 9 meter. Bibit itu dari sekitar Sigandu, seperti dari Ujungnegoro. Ada pula yang didatangkan dari Pantai Mangkang, Kota Semarang serta dari Comal, Kabupaten Pemalang. Dia menyebutkan, sudah menjalin kerja sama dengan PT Agrowisata Pagilaran yang mengembangkan pembibitan tanaman pegunungan, seperti teh dan tanaman dataran tinggi lain untuk membawa rombongan ke lokasi pembibitan bakau. "Keberadaan kami juga dalam rangka menyinergikan kunjungan wisatawan khususnya mahasiswa Fakultas Pertanian ke Batang jika melakukan penelitian tanaman pegunungan seperti teh di Pagilaran. Selain itu, untuk pembibitan tanaman pantai, seperti bakau, ketepeng, atau cemara laut bisa ke Sigandu," paparnya. Bibit yang ditanam di lokasi pembibitan itu berusia satu bulan. Setelah keluar daunnya, baru bisa dicabut kemudian ditanam di pantai yang akan dihijaukan. Perawatanya pun sederhana. Di atas pembibitan diberi peneduh dari anyaman daun rumbia. Sementara itu, tanah harus selalu mendapat pasokan air laut. "Setelah keluar daunnya atau berumur sekitar empat bulan, bibit itu sudah bisa ditanam di lokasi baru," tambah Istoni. (Arif Suryoto-17j) |