logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 10 Agustus 2005 PANTURA
Line

Pesisiran

Kemerdekaan untuk Nelayan

Oleh: ES. Prasojo

BEGITU banyak "siluman" yang ada di TPI membuat sebagian nelayan sempoyongan. Akhirnya, mereka memutuskan menjual hasil tangkapan di tengah laut dan itu merupakan hal wajar. Juga harus kita maklumi, sebab masih ada oknum yang punya gaji bulanan tetapi memainkan saudaranya sendiri. Apakah hati nurani mereka sudah mati? Lalu sumpah jabatan yang dulu disaksikan banyak orang, dibuang ke mana?

Bagaimanapun, nelayan/pemilik kapal adalah tulang punggung TPI. Namun akan menjadi lain bila retribusi yang sudah disetorkan ternyata tidak membuat tenang dalam bekerja. Malah, para petugas membuat manuver-manuver yang merugikan para nelayan.

Rupanya nelayan kian hari bertambah cerdas menghadapi tindakan para "siluman" yang semakin menjadi-jadi. Para "siluman" itu semakin menyimpang dari etika ketika menjalankan tanggung jawabnya.

Penting memang menjalin komunikasi/dialog agar nelayan tidak menjual hasil tangkapannya di tengah laut. Agar kedua belah pihak sama-sama berada pada titik temu yang harmonis, diperlukan sikap tidak saling menuduh apalagi menyalahkan. Sebab semua sudah tahu, bagaimana tindak-tanduk sebagian petugas yang memang sangat menjengkelkan. Mungkin mereka memiliki daerah kekuasaan sehingga merasa bisa berbuat seenaknya sendiri. Belum lagi makin banyaknya "alang-alang" (anak-anak) yang suka mengutil ikan dari dalam keranjang.

Potret Nelayan

Sering terjadi, nelayan yang merapat ke darat sambil membawa banyak ikan didatangi seseorang berpakaian preman. Orang itu meminta tiga basket (keranjang) ikan sambil sedikit menggertak. Seketika nelayan melongo, karena kaget menghadapi oknum nggragas seperti itu.

Mungkin kalau minta satu keranjang masih bisa diterima, tetapi ini seperti mau merampok (terang-terangan). Mental begitu jadi petugas, dulu waktu masuk menyogok berapa ya?

Masalah lain yang lebih parah adalah sistem sewa basket. Petugas TPI akan mengeluarkan basket jika sesuai dengan kesepakatan antarpribadi, bukan peraturan yang berlaku.

Misalkan harga sewa basket yang seharusnya Rp 750, bisa menjadi lebih mahal. Dengan demikian, pendapatan para nelayan jadi berkurang.

Para oknum memang keterlaluan, tak kenal belas kasihan. Padahal, para nelayan untuk mendapatkan ikan itu harus berjuang antara hidup dan mati, menghadapi ganasnya gelombang.

Setelah sampai ke darat, nasibnya masih juga dipermainkan. Belum lagi kalau membayangkan anak maupun istri yang menunggu dengan cemas dan takut, ketika tahu hujan badai datang ke tengah lautan.

Penulis banyak mempunyai teman nelayan, rata-rata hidup mereka dalam kemiskinan. Lain halnya dengan nakhoda kapal, bisa mending. Begitu juga dengan para pemilik kapal yang kebanyakan kaya raya. Nasib nelayan sangat menyedihkan, tetapi masih saja ada orang tega menggencet penghasilan mereka lewat potongan-potongan yang tidak masuk akal.

Mengemis

Untuk apa kita membusungkan dada? Untuk apa kita berkumis tebal? Bila ingin makan ikan saja harus mengemis pada nelayan yang miskin. Mengapa kita masih tega membuat hidup mereka bertambah ruwet? Di mana jiwa kemanusiaan berada? Semoga kunjungan Bapak Wali Kota Pekalongan beberapa waktu lalu ke TPI (tempat pelelangan ikan) bisa membuka kesadaran baru, yaitu memahami kesulitan/kesusahan para nelayan lebih penting daripada sok berkuasa sehingga menimbulkan penderitaan lebih dalam bagi orang lain.

Kita bisa menjadi seperti sekarang ini tentu bukan karena makan hasil keringat mereka bukan? Apakah masih ada di TPI orang seperti itu? Makan kenyang dari hasil kerja keras para nelayan.

Tanggal 17 Agustus mendatang, tentu tidak berlebihan bila Pemda memberi cendera mata bagi nelayan tertentu atau berkumpul bersama mereka dalam satu gedung. Mengadakan semacam silaturahmi atau apa pun namanya, baik-baik saja, asal intinya saling membuka isi hati untuk kemajuan Kota Pekalongan sehingga lebih bisa meningkatkan SDM, khususnya para nelayan di TPI.

Agar ketika berhadapan dengan para "siluman" atau oknum, mereka lebih berani bicara. Terutama untuk mengutuhkan arti kemerdekaan, setelah sekian lama tenggelam. Tentu dengan peran serta semua pihak, pendapatan nelayan akan naik. Negara pun akan merasakan hasilnya, terutama Pemkot Pekalongan tidak kebingungan bila terjadi devisit anggaran karena bisa mengambil dari sana.

Memberantas para "siluman" tidak sulit bila Bapak Wali Kota membuka kotak pengaduan di setiap sudut TPI atau di kantornya. Keraguan untuk menghukum/memecat para "siluman" adalah sumber macetnya hukum.

Bangunkan ingatan sehingga para pejuang tidak sia-sia dalam merebut kemerdekaan. Terutama saat tetesan darah dan air mata menjadi hal biasa tetapi mempunyai arti yang sangat mendalam. Apakah setelah merdeka kita tidak malu merampas sepiring nasi orang lain, padahal kita mampu mencari sendiri.

Alangkah indahnya kemerdekaan bila tahu arti dan inti untuk apa kita bekerja? Kepada para "siluman", kembalilah ke kantor masing-masing sebelum para nelayan demo meminta ikan yang sudah masuk dalam perut, tetapi tidak kita bayar.

Terakhir, bebaskan para nelayan dari segala retribusi pada saat 17 Agustus nanti sehingga kemerdekaan benar-benar mereka rasakan, setelah sekian lama diperas.

Pemkot tak akan rugi, Pemkot pun tak akan bangkrut karenanya. Malah hal itu akan memberi kesegaran, gairah maupun optimisme baru untuk meraih hari esok yang cerah.

Penulis adalah aktivis lingkungan hidup dan tinggal di Kota Pekalongan.(19m)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA