| Rabu, 10 Agustus 2005 | WACANA |
tajuk rencanaJalan Lapang Chrisjon Menuju Las Vegas- Ketika Elly Pical - petinju Indonesia pertama yang juara dunia - harus berurusan dengan penegak hukum karena menjual narkoba, ring tinju profesional negeri ini justru berada di masa puncaknya. Sebenarnya dua gelar juara dunia milik Indonesia atas nama Chrisjon dan M Rachman sekarang, masih sama dengan apa yang terjadi pada akhir 1980-an saat Elly Pical dan Nico Thomas merengkuhnya. Bedanya, lewat kepalan Chrisjon kita punya petinju yang tak hanya belum terkalahkan, tetapi juga dua kali menunjukkan keperkasaannya di kandang lawan. Gelar juara dunia kelas bulu WBA telah empat kali dipertahankan, dua di antaranya dengan bertarung di negeri orang. Pertama, petinju Jepang Osamu Sato dibuatnya menyerah dengan angka di Tokyo - Petinju Australia Tommy Browne, giliran dipermalukan di negerinya sendiri, Australia, pada Minggu lalu. Dia dinyatakan kalah TKO-pada ronde kesepuluh dalam pertarungan yang berlangsung di Penrith, pinggiran Kota Sydney. Partai ini secara sepintas memiliki kesan istimewa, mengingat promotor Tony Caradonna sukses mendatangkan mantan juara dunia kelas berat Joe Frazier. Jadilah petinju pertama penakluk Muhammad Ali itu menjadi salah satu saksi langung kehebatan Chrisjon. Kenangan bakal makin indah bagi petinju kelahiran Banjarnegara tersebut, mengingat salah satu stasiun televisi Australia menghadirkan Jeff Fenech untuk menganalisis partai ini. Fenech adalah salah satu mantan petinju hebat Australia, yang amat disegani di pentas internasional. - Rekor mengkilap Chrisjon merupakan senjata utama menembus Las Vegas, yang dianggap sebagai kiblat bagi puncak karier petinju. Gempita dunia tinju pro nasional setelah industri televisi tertarik meramaikan, membuatnya banyak mendapat kesempatan naik ring. Mantan atlet Sasana Tugu Muda Bank Buana Semarang ini telah 37 kali naik ring dalam usia baru 25 tahun. "Noda" prestasinya bukanlah kekalahan, melainkan satu kali technical draw saat melawan Jose Rojas. Lebih dari separoh kemenangannya dituntaskan lewat KO. Dengan perjalanan karier demikian, tak heran bila sasana tinju di Australia bersedia menampung ketika dirinya menghadapi masalah dengan pelatih yang mengasahnya sejak remaja, Sutan Rambing. - Masalah dengan Sutan Rambing yang bergulir di pengadilan, tentu saja merupakan beban tersendiri yang harus dihadapi. Namun, di tengah persoalan hukum itu, dia mampu mencurahkan kemampuan untuk menghentikan perlawanan Browne. Lawannya sempat menunjukkan permainan agresif di beberapa ronde awal. Tetapi, itu tidak cukup untuk menghentikan Chrisjon. Bahkan tidak cukup pula untuk sekedar bertahan sampai 12 ronde. Memang, yang bisa dijual Chrisjon adalah permainan taktis, memadukan kesabaran dengan oportunisme. Gaya demikian berbeda dari penampilan para jagoan yang lebih dahulu bersinar di kelas bulu dunia. Namun justru perbedaan itu membuat pertarungan bakal laris dijual, bila nama petarungnya sudah amat dikenal. - Nasheem Hamed tampil provokatif sebelum naik ring maupun saat bertanding. Dia menampilkan kelenturan dengan "akrobatisme" yang menawan. Sedangkan Marco Antonio Barrera dan Eric Morales adalah petarung terbuka yang siap bersimbah darah sampai akhir pertarungan. Kelas ini juga punya Manny Pacquaio, jagoan Filipina yang bisa memadukan ketaktisan dan keberingasan. Mempertemukan salah satu dari mereka di Las Vegas barangkali sudah ada di benak promotor Don King, yang dikenal peka pada detail perkembangan tinju dunia. Bisa dimengerti bila Tony Caraona bersusah payah mendatangkan Joe Frazier. Dunia tinju pro memang sarat permainan citra, sehingga mungkin saja itu merupakan upayanya untuk melapangkan jalan Chrisjon dipertarungkan oleh Don King. - Idealnya, keberhasilan putra Indonesia ditangani dan dirancang oleh tim dari Indonesia pula. Tetapi, tinju butuh dukungan tim kuat, internal maupun eksternal. Pada partai-partai Chrisjon sebelumnya, pertarungan melawan deadline amat terasa. Saat melawan Browne, gambaran yang pertama muncul adalah mulusnya jalan. Kini bahkan telah tergambar kesempatan tampil dalam partai tambahan Roy Jones vs Antonio Tarver pada Oktober mendatang. Jalan Chrisjon untuk bisa bertanding di Las Vegas terasa makin lapang. Kalaupun untuk itu semua dia harus melalui tim yang berpusat di Australia, yang untung tetap Indonesia juga. Toh Indonesia Raya bakal berkumandang sebelum pertandingan, seperti halnya kibaran sang Merah-Putih |