logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 10 Agustus 2005 INTERNASIONAL
Line

Iran Siap Batalkan Komitmen Nuklirnya

WINA - Badan Energi Atom Internasional (IAEA) menggelar sidang darurat Selasa kemarin menanggapi dimulainya aktivitas reaktor pengolahan uranium Iran.

Sementara itu, Teheran balik mengancam dengan bertekad akan membatalkan semua janji dan komitmennya perihal nuklir apabila Barat (terutama AS) menyerang fasilitas-fasilitas nuklirnya.

IAEA Selasa kemarin menyatakan, Iran telah memulai kembali aktivitas nuklirnya, dengan tidak menghiraukan seruan tiga negara Uni Eropa (UE) Inggris, Prancis dan Jerman.

Teheran juga tidak peduli dengan ancaman UE yang akan membawa kasus ini ke Dewan Keamanan PBB untuk kemungkinan diberlakukannya sanksi terhadap Iran. UE menganggap aktivitas nuklir Iran sebagai pelanggaran atas Traktat Nonproliferasi yang bertujuan menekan penyebaran senjata nuklir.

Barat bisa saja mengusulkan sanksi atas dasar bahwa Iran melakukan program pengayaan uranium secara ilegal. Termasuk pula, aktivitas reaktor pengayuaan uranium di reaktor rahasia Natanz. Keberadaan reaktor rahasia ini terbongkar saat para pembangkang mengungkapkan hal itu di pengasingan pada 2002.

"Bila Iran tetap melanjutkan aktivitas nuklirnya, negara itu akan berhadapan dengan Dewan Keamanan," kata seorang diplomat UE kepada Reuters. "Sidang IAEA mungkin tidak akan langsung merujuk pada dewan. Iran akan diberi peringatan dulu, dan kalau tetap nekat, badan atom akan bersidang kembali dan merujuk pada Dewan Keamanan." kata dia.

Sidang IAEA dijadwalkan pada pukul 15.30 WIB, namun diundur pada pukul 20.00 WIB semalam untuk memberi kesempatan bagi para diplomat UE melobi 35 negara anggota badan atom. Tujuannya, supaya mereka secara bulat memberi peringatan keras pada Iran.

Krisis Iran berdampak pada harga minyak. Harga minyak melonjak melampaui 64 dolar AS per barel. Para pedagang cemas kalau-kalau krisis nuklir Iran dan kemungkinan serangan di Arab Saudi mengacaukan ekspor minyak dari Timur Tengah.

Trio UE berharap bisa melobi semua negara berkembang pada sidang IAEA untuk mendukung resolusi badan atom itu. IAEA akan mendesak Iran menghentikan aktivitas konversi uranium.

Tidak Gentar

Teheran sendiri tidak gentar dengan berbagai ancaman. Iran bahkan berniat akan membatalkan semua janji dan komitmennya perihal nuklir apabila fasilitas nuklir Iran diserang. Eks menteri pertahanan Iran Ali Shamkhani mengatakan hal itu, kemarin.

"Kalau fasilitas-fasilitas nuklir kami diserang, kami akan membuang semua komitmen kami soal nuklir," kata Ali kepada wartawan. Dia tidak merinci lebih lanjut komitmen-komitmen apa yang akan dibatalkan oleh negara itu.

Tokoh-tokoh konservatif Iran juga mendesak agar pemerintahan mengikuti jejak Korea Utara dan menarik diri dari Traktat Nonproliferasi.

Shamkani mengatakan, dia sendiri tidak yakin kalau AS akan menyerang fasilitas nuklir Iran. Washington, kata dia, harus belajar dari pengalaman invasi berdarah di Irak.

Sementara itu, pejabat AS meredam berbagai spekulasi di media massa tentang kemungkinan rencana serangan terhadap Iran. Di Jerusalem, Perdana Menteri Israel Ariel Sharon mengatakan, negerinya lebih memilih jalur diplomasi ketimbang serangan militer terhadap Iran.

"Apapaun yang dihancurkan akan dibangun kembali di tempat lain" kata Shamkani. "Kemampuan nuklir kami tidak dapat dihancurkan oleh bom satu pun, karena semuanya terletak di universitas-universitas kami."

Shamkani mengatakan, rudal-rudal Shahab-3 milik Iran sekarang telah dikembangkan dengan tingkat akurasi tinggi. Iran mulai mengembangkan Shahab-3 pada Mei lalu.(rtr-gn-25)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA