logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 06 Agustus 2005 NASIONAL
Line

Krisis ASEAN Kian Berat Media Makin Diperlukan

BANGKOK - Krisis yang melanda wilayah ASEAN dirasakan semakin tambah berat dalam beberapa tahun terakhir. Dimulai dengan krisis ekonomi dan moneter pada 1997 yang kemudian disusul menjalarnya wabah SARS, flu burung, dan bencana tsunami pada akhir 2004. Selain itu, di beberapa wilayah juga makin banyak dijumpai aksi kekerasan dan terorisme, termasuk pembunuhan terhadap wartawan.

Dalam hal ini, pemecahan masalah ke depan tidak bisa lagi dilakukan oleh tiap-tiap negara tanpa bantuan negara lain. Solidaritas ASEAN dan terlebih lagi peran pers atau media dalam mencari solusi masalah semakin diperlukan.

Wartawan Suara Merdeka Sasongko Tedjo dari Bangkok semalam melaporkan, masalah di atas mengemuka dalam General Assembly (Sidang Umum) Ke-15 Confederation of ASEAN Journalists (CAJ) dan Konvensi Media yang dibuka Perdana Menteri Thailand Thaksin Shinawatra kemarin di Hotel Century Park Bangkok. Sidang Umum dengan tema "ASIAN News, ASEAN View" itu diikuti oleh lebih 60 wartawan pengurus asosiasi wartawan dari negara-negara ASEAN ditambah negara-negara partner seperti China, Jepang, dan Korea Selatan. Acara akan berlangsung hingga 8 Agustus mendatang.

Hadir dalam pembukaan President Confederation of ASEAN Journalists (CAJ) Hong Win dan para ketua organisasi wartawan. Delegasi Indonesia dipimpin Ketua PWI Pusat Tarman Azzam dengan 16 orang anggota.

Thaksin yang dikenal prokebebasan pers mendapat aplaus yang meriah ketika menyatakan peran pers sangat strategis dalam menggalang solidaritas ASEAN, asalkan pers tetap mampu menjaga kepercayaannya. Pers atau media dapat dipercaya asalkan berperan positif dan konstruktif dalam menggalang opini masyarakat daripada sekadar menimbulkan salah paham dan ketidakpercayaan.

Kebebasan pers, kata Thaksin, merupakan refleksi demokrasi dan negaranya telah mampu melakukannya dengan baik. Hanya dengan kebebasan pers, peran strategis itu bisa diupayakan. Dia mengakui media juga merupakan lembaga bisnis dan lembaga yang tidak bisa bebas dari kepentingan. Justru karena itulah menjaga kepercayaan sangat penting bagi sebuah media. Dalam masyarakat yang berkembang ke arah knowledge base society, media harus banyak melakukan perubahan dan penyesuaian. Demikian juga dalam mengantisipasi perkembangan teknologi yang sangat cepat.

Dialog yang berkembang dalam forum juga mengarah pada perlunya jurnalisme damai untuk menghadapi setiap konflik yang berkembang di masyarakat, baik konflik vertikal maupun horisontal. Konflik di antara negara-negara ASEAN seperti konflik perbatasan antara Malaysia dan Indonesia, separatisme, dan konflik antarpemeluk agama, semakin membutuhkan peran media yang lebih profesional, dengan tetap menjaga keseimbangan, akurasi maupun netralitasnya.

CAJ merasa perlu untuk terus melakukan reformasi dan mendapatkan kekuatan solidaritas baru, setelah terjadi bencana tsunami ataupun berbagai persoalan yang dihadapi wilayah ASEAN dalam beberapa tahun terakhir. Reformasi yang dimaksud, lebih kepada penggalangan kerja sama profesional.

Sementara dalam forum tersebut, Indonesia meraih dua dari tiga pemenang pameran foto CAJ, yakni juara I, "Family Reunion" (foto bersatunya kembali satu keluarga Aceh korban tsunami) karya Sapto, wartawan Antara. Juara III "The Last Supper" (foto kehancuran Lahewa Nias, Sumut akibat gempa bumi) karya Maha Eka Swasta, wartawan Antara . Sementara itu, juara II diraih wartawan foto Thailand, Charoon Thongnuan (yang disiarkan Koran Kom Chad Luek).(14m)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA