logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 06 Agustus 2005 MURIA
Line

Pohon Siwalan

Punya Nilai Ekonomi Cukup Tinggi

WILAYAH Kabupaten Rembang yang beriklim kering dengan curah hujan rata-rata 63-117 hari/tahun, ternyata sangat cocok bagi pohon siwalan (Borassus flabellifer). Ribuan pohon siwalan itu menyebar ke seluruh pelosok desa sehingga banyak warga yang membuka usaha pembuatan gula merah yang bahan bakunya nira siwalan.

Selain gula merah, siwalan juga bisa dibuat legen dan tuak. Di sepanjang jalan Desa Landoh, Kecamatan Sulang, banyak kios yang menjual legen, tuak, dan buah siwalan. Untuk menarik minat pembeli, kios-kios itu pada umumnya ditunggui wanita-wanita muda.

Semua itu menunjukkan bahwa pohon siwalan bisa dijadikan sumber penghasilan warga setempat. Pemkab Rembang melalui Dinas Perkebunan setempat tak henti-hentinya membina petani siwalan, baik menyangkut cara-cara pengembangan pohon silawan maupun cara pengolahan hasilnya.

Menurut Kepala Dinas Perkebunan dan Kehutanan Ir H Sutomo MM, tanaman siwalan juga bisa memberikan kontribusi bagi pendapatan masyarakat/petani.

Kontribusi itu diperoleh melalui penjualan buah siwalan, nira (legen), ataupun hasil pengolahan nira berbentuk gula semut.

Tak cuma itu, daun siwalan (lontar) juga bisa diolah menjadi barang-barang kerajinan yang memiliki nilai jual tinggi.

Bila sudah tua, tanaman keras itu bisa dipotong dan kayunya bisa dijual kepada para pemilik tobong gamping.

Disebutkan, total areal tanaman siwalan di Kabupaten Rembang adalah 565 ha yang tersebar di Kecamatan Sulang, Kaliori, Rembang, dan Sumber.

Namun hasil inventarisasi potensi perkebunan itu menunjukkan bahwa tanah yang bisa ditanami siwalan adalah 3.100 ha.

"Jadi, masih ada sisa tanah 2.539 ha yang belum dimanfaatkan," katanya.

Tingkat Produksi

Dia mengakui, pengembangan komoditas siwalan masih dihadapkan pada masalah pengelolaan usaha tani yang cenderung subsisten dengan tingkat produksi yang masih terbatas serta nilai jual produksi yang berfluktuasi.

Hal itu bisa dilihat dari pemikiran petani yang menempatkan tanaman siwalan sebagai tanaman sampingan, walaupun telah memberikan kontribusi terhadap pendapatan petani.

Itu sebabnya, pembangunan tanaman siwalan mulai difokuskan pada kawasan sentra produksi siwalan, yaitu di Kecamatan Sulang melalui upaya peningkatan produksi dan perbaikan pengolahan hasil produksinya.

Semua itu mengacu pada pola pengembangan agrobisnis dan agoindustri sebagai implementasi Konsep Pengembangan Kawasan Industri Masyarakat Perkebunan (KIMBUN).

Menurut Sutomo, jumlah petani siwalan di Rembang 2.964 orang. Rata-rata setiap orang memiliki areal 0,19 ha atau sekitar 23 batang.

Dari jumlah tanaman itu, produksi buah siwalan bisa mencapai 1.292.800 gelondong/tahun. Adapun produksi nira 13.672.100 liter/tahun. Nira sebanyak itu bisa menghasilkan gula siwalan (gula semut) 996.300 kg/tahun dengan asumsi, rata-rata rendemen gula 20%. (Djamal A Garhan-50n)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA