logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 06 Agustus 2005 BANYUMAS
Line

Petani Minta Distribusi Diawasi Ketat

BANYUMAS - Kalangan petani meminta pemerintah, PT Pusri Palembang, dan PT Petrokimia Gresik menertibkan sistem penyaluran pupuk. Sebab, mereka khawatir saat memasuki musim tanam Oktober-Maret terjadi ketersendatan penyaluran pupuk atau kekurangan stok. Apalagi biasanya kondisi seperti itu memengaruhi harga.

Ketua Paguyuban Petani Banyumas (PPB) Slamet Suparno dan pengurus Ade Irawan, kemarin, menyatakan penyaluran pupuk dari distributor ke pengecer harus ditata. Juga dari pengecer ke petani. Sebab, kerap terjadi saat petani membeli di pengecer atau warung tak ada pupuk.

''Harga sering tak sama. Kadang sesuai dengan ketentuan pemerintah, terkadang melebihi batas kewajaran,'' kata Slamet.

Ade menuturkan pola pendistribusian baku dari gudang ke distributor, pengecer, lalu ke petani hendaknya diubah. Atau pola itu dipertahankan, tetapi petani diberi kemudahan untuk membeli ke distributor atau gudang.

''Jika itu dilakukan minimal memotong mata rantai distribusi yang panjang dan kadang menghambat penyaluran, termasuk menghindari monopoli,'' ujarnya.

Bambang Tedy menyatakan penyaluran pupuk sudah sesuai dengan ketentuan. Penyaluran juga diawasi produsen dan instansi pemerintah serta melibatkan camat dan kepala desa seperti tahun-tahun sebelumnya.

Masih Wajar

''Soal harga, yang penting sampai ke pengecer resmi Rp 1.050-Rp 1.100. Yang menjual di atas itu bisa kena sanksi. Namun jika pengecer tak resmi menjual lebih tinggi, harus dicermati apakah petani yang membeli langsung membayar lunas atau utang. Juga daerahnya jauh atau tidak. Sebab, ada pembeli meminta diantar ke rumah atau sawah. Jadi ada tambahan ongkos angkut,'' kata Asnawi

Beberapa petani di Sumbang menuturkan saat ini tak banyak yang membutuhkan pupuk. Harga juga masih wajar. Harga pupuk biasanya naik atau pupuk sulit dicari saat memasuki musim tanam.

''Harga di pengecer resmi sekitar Rp 1.100/kg. Satu kandi (50 kg) paling tinggi Rp 54.000,'' kata Parmin, petani di Banteran, Sumbang, kemarin.

Sesuai dengan ketentuan, harga eceran tertinggi urea dari pabrik Rp 890/kg. Harga di distributor Rp1.020/kg, sedangkan di pengecer resmi Rp 1.050-Rp 1.100 atau Rp 52.000-Rp 54.000/kandi. (G22-53)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA