| Selasa, 02 Agustus 2005 | SALA |
Mitos Bagian dari BudayaRATUSAN penduduk Desa Klakah, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, menolak simulasi meletusnya Gunung Merapi. Mereka menilai Gunung Merapi masih aman, belum ada tanda-tanda membahayakan. Selain itu mereka masih mempercayai mitos atau hal-hal yang kurang rasional. Misalnya, sebelum ''Kiai Petruk'' atau orang yang menjaga gunung membisiki warga, tidak akan mungkin terjadi bencana alam. Berikut petikan wawancara Suara Merdeka dengan Kepala Kantor Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat (Kesbang Linmas), Kabupaten Boyolali, Gintaryo, berkait dengan penolakan warga terhadap rencana simulasi. Warga masih percaya terhadap mitos, sehingga menolak simulasi. Bagaimana tanggapan Anda? Mitos merupakan bagian dari budaya, karena itu kami menghargai dan menghormati keyakinan mereka. Keyakinan mereka kurang rasional. Apa kita ikuti? Kami tidak akan mengikuti pemikiran yang tidak rasional, tetapi kami tetap bertindak dan bergerak sesuai prosedur. Dengan demikian, pemerintah tetap melakukan antisipasi dengan berbagai cara. Misalnya, menyediakan tempat penampungan sementara (TPS) dan tempat penampungan akhir (TPA). Selain itu, menyediakan angkutan untuk mengevakuasi warga bila terjadi letusan gunung. Kenyataannya warga menolak. Apakah hal ini tidak menyulitkan pemerintah ? Kami akan mendatangi dari rumah ke rumah. Mereka akan kami ajak dialog sembari diberi penjelasan tentang ancaman Gunung Merapi. Dengan pendekatan dari hati ke hati, kami yakin mereka akan berubah sikap. Apakah penolakan warga terhadap simulasi ada yang memprovokasi? Kami kira tidak. Mereka benar-benar masih percaya atas bisikan dari seseorang yang menunggu Gunung Merapi. Tapi biarlah, tidak perlu ditentang. Yang pasti, pemerintah terus melakukan berbagai persiapan. Kapan akan dilakukan simulasi? Yang pasti, setelah kami melakukan pendekatan dan mendatangi dari rumah ke rumah, diperkirakan pertengahan Agustus baru dimulai. (Suti Harjoyo-36h) |