logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 02 Agustus 2005 PANTURA
Line

Wawasan Kebangsaan Cenderung Mengendur

PEKALONGAN - Ikatan dan nilai-nilai kebangsaan Indonesia, dewasa ini cenderung mengendur. Hal itu disebabkan oleh demokrasi yang diartikan bebas menentukan nasib sendiri, sehingga perilaku, sikap, idealisme dan kepentingan fragmental di luar koridor kepentingan nasional.

Demikian ungkapan Kabid Ketahanan Bangsa, Badan Kesbanglinmas Jateng, Endah Tri Wahyuni SH CN saat tatap muka kerukunan antarumat beragama Kota Pekalongan, Sabtu. Kegiatan itu dibuka oleh Wali Kota dokter HM Basyir Ahmad di ruang sidang sekretariat.

Menurut Endah, menurunnya wawasan kebangsaan menyebabkan munculnya kelompok-kelompok masyarakat yang memanipulasi logika demokrasi demi kepentingan mereka sendiri.

Hal itu harus dicermati dan diwaspadai agar tidak semakin meluas seperti yang terjadi di Aceh, Papua, Ambon, dan Poso maupun berbagai pengkhianatan di masa lalu yang apabila dibiarkan akan meruntuhkan wawasan kebangsaan.

Rasa cinta tanah air, kata dia, kini juga cenderung menurun. Hal itu dibuktikan dengan mulai meningkatnya kecintaan warga dengan hasil produksi dari luar negeri dibandingkan dengan produk dalam negeri, karena dianggap lebih bermutu. Oleh sebab itu, dalam hal produk pakaian, Gubernur mengeluarkan instruksi kepada PNS di provinsi agar berpakaian batik pada hari Kamis.

Menyadari akan kompleksnya permasalah, maka diperlukan reorientasi rasa, paham, dan semangat kebangsaan.

Karena itu, perlu sosialisasi wawasan kebangsaan yang berkelanjutan sehingga aplikasinya dapat menyadarkan setiap anak akan jati diri sebagai bangsa Indonesia.

Drs Faqihuddin Ufar, Penyuluh Agama dari Depag Kota Pekalongan menambahkan, bagi bangsa Indonesia, beragamnya agama, suku, dan budaya tidak dirasakan sebagai kelemahan, tetapi justru sebagai kekayaan yang diberikan Tuhan. Timbulnya ketegangan hubungan teologis, sosial dan politis di antara umat beragama adalah karena kesalahan dalam menyikapi dan menempatkan keagamaan itu tidak pada tempat sewajarnya.

Dalam mengurangi ketegangan akibat kesalahan menyikapi agama maka perlu dialog antarpemeluk/pemuka agama. Dengan dialog, diharapkan akan dapat meningkatkan rasa saling memahami, sehingga perbedaan agama tidak lagi dipandang sebagai pemicu konflik, tetapi justru sebagai landasan kerja sama.(A15-52d)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA