| Selasa, 02 Agustus 2005 | WACANA |
Surat PembacaJawaban Mal CiputraMenanggapi Surat Pembaca 29 Juli 2005 yang ditulis Bpk Antonius A Budiawan mengenai area parkir Mal Ciputra Semarang, kami manajemen menyampaikan terima kasih dan menyesalkan atas ketidaknyamanan tersebut. Kami jelaskan penutupan Jl Anggrek Raya bukan dilakukan oleh petugas keamanan Mal Ciputra, tetapi oleh pihak yang berwenang. Manajemen justru merasa dirugikan karena jalan tersebut merupakan jalan utama pengunjung yang akan menuju gedung parkir. Bagi para pengunjung yang berasal dari luar kota dan belum mengetahui letak gedung parkir dan jalan alternatifnya, akan mengalami kesulitan. Tentang area parkir yang menurut Bpk semata-mata menghasilkan pemasukan yang lebih besar untuk Mal Ciputra, hal tersebut tidak benar. Pada dasarnya tujuan pembangunan gedung parkir untuk memberikan fasilitas yang lebih nyaman kepada para pengunjung. Jika pembangunan tersebut semata-mata untuk menambah pendapatan, sebenarnya investasinya tidak untuk pembangunan gedung parkir. Pendapatan parkir, 20% disetorkan sebagai pajak parkir ke DPKD Pemkot Semarang. Untuk parkir mobil di kanan kiri Jl Anggrek Raya pada hari Sabtu Minggu karena jumlah mobil melebihi kapasitas. Namun demikian kami tetap berupaya mengatur lalu lintas parkir di area tersebut. Perlu diketahui, di area tersebut masih terdapat parkir liar yang juga dapat menimbulkan kemacetan (khususnya di JlAnggrek I dan Jl Anggrek VIII). Dody Eko Susilo Public Relations *** Kartu Matrix Bermasalah Awalnya ketika pakai kartu Mentari, saya tak pernah mengalami masalah. Tapi setelah migrasi ke Matrix no 08157676108/08157676109 (operator yang sama) saya tak bisa SMS. Sebelum migrasi saya juga sudah menghentikan akses Satelindo, tapi tetap muncul kiriman, yang berarti saya harus bayar. Saya 4 kali melapor ke operator di Jl Gadjahmada Semarang dan selalu dijawab: "tunggu dua-tiga hari". Si penerima memang berganti-ganti orang dan setiap mengadu saya selalu ditanya: "dulu diterima mas/mbak siapa?" Pernah dijawab kartu saya rusak dan mereka ganti (laporan kali ketiga), tapi hasilnya sama. Kedatangan kali kelima saya terpaksa "menutup" kartu itu. Pertanyaan saya, apakah setiap laporan ditindaklanjuti, atau hanya dicatat dalam buku pribadi si penerima. Roy Budi T Jl Meranti Barat Dlm 3/89, Semarang *** Stop Privatisasi BUMN Negeri tercinta ini terkenal dengan kekayaan alam yang melimpah ruah. Namun punya banyak kekayaan alam ternyata tidak menjadikan kaya, justru jadi negara miskin. Banyak utang ditambah lagi penduduknya kelaparan di tengah kesuburan tanah negeri ini. Lalu ke mana hasil tambang yang dikeruk selama ini. Saya tahu utang negeri ini banyak sekali, tapi apakah solusinya dengan menjual kekayaan kepada pihak asing. Dengan menjual (privatisasi) BUMN yang nyata-nyata sehat dan menguasai hajat rakyat negeri ini? Saya tidak percaya rakyat akan lebih sejahtera dengan privatisasi. Lha wong kekayaan berpindah ke orang lain gimana bisa sejahtera. Lalu ketika pihak (negara) yang wajib mengurusi dan melindungi rakyatnya berlepas tangan dari tanggung jawabnya. Kepada siapa rakyat harus berlindung. Presiden tentu tahu bagaimana sulitnya masyarakat bebebrapa waktu lalu mendapatkan BBM. Padahal katanya Indonesia kaya minyak. Kenapa hal itu bisa terjadi. Apakah karena porsi minyak yang dimiliki Pertamina hanya sedikit sedang yang lain dibagi-bagi antara Caltex, Arco Indonesia, Mobil Oil dan perusahaan swasta asing lainnya? Mereka berfoya-foya menikmati minyak kita, sementara kita sendiri kebingungan nunggu pasokan minyak. Coba kalau minyak hanya dikelola Pertamina, rakyat tidak perlu antre berjam-jam hanya untuk mendapatkan BBM. Menurut hemat saya, kalau mau bayar utang dan menutup defisit APBN, tidak perlu dengan privatisasi. Cukup dengan menyita harta para koruptor yang hingga kini belum tersentuh hukum. Bila BUMN dikelola secara profesional, niscaya tidak lagi ada KKN di dalamnya.Keuntungannya bisa digunakan sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat. Jadi, stop privatisasi. Hartanti Jl Waru Timur Dlm I/42, Semarang *** Guru Berprestasi 2005 Provinsi Jateng baru saja menyelenggarakan pemilihan Guru Berprestasi tahun 2005. Pada tingkat TK/RA juara I s.d VI (harapan III) hanya satu orang yang memiliki NIP (PNS). Lima lainnya para guru yayasan dengan honorarium tidak seberapa. Pantas diacungi jempol karena mereka benar-benar mengabdi, bahkan ada yang bertugas di daerah tertinggal, mengembangkan potensi anak, di mana usia TK, adalah usia berpikir emas. Karenanya jika Pemerintah peduli terhadap kemajuan pendidikan, maka para guru itu pantas diangkat PNS tanpa tes. Jelas dengan kemenangan mereka, kemampuan melaksanakan tugas dan wawasan kependidikannya tidak diragukan lagi. Semoga di saat profesi guru tidak lagi menjadi dambaan kaum muda karena tidak memberikan kelayakan finansial, Pemerintah bersedia memberikan perhatian. Ani Taruastuti Jl Mayjen Sutoyo 56, Ungaran *** Nikah dan Nyumbang Saya tertarik dengan tulisan rekan Joko Suprayoga, teman sesama Warga Epistoholik (Komunitas Jaringan Penulis Surat Pembaca se-Indonesia) yang mendapat penghargaan dari Museum Rekor Indonesia 27 Januari 2005 di Hotel Grasia Semarang, yang dimuat di Surat Pembaca beberapa waktu lalu berjudul "Nikah & Nyumbang". Orang tua ingin di gedung tetapi anaknya tidak setuju, bahkan gelarnya tidak mau dicantumkan. Kalau acara ini terlaksana di rumah dengan undangan tanpa menyebut gelar apa yang terjadi? Ya tidak apa-apa, tidak celaka tidak apa-apa, cuma malu sebentar, tidak bisa mengundang pejabat/ulama tertentu. Bagi mereka yang uangnya berlebih, mau bermewah-mewah tidak apa-apa, namun bagi yang tidak mampu dalam bidang keuangan, bisa dilakukan dengan cara sederhana. Misalnya kenduri kecil-kecilan, yang dihadiri 20 orang, tanpa harus berutang. Begitu acara selesai, hatinya lega, tidak bingung membayar utang. Bagaimana dengan mereka yang sebetulnya tidak mampu tapi mengadakan hajatan mewah karena menjaga gengsi? Benar-benar memprihatinkan, ada seorang kenalan yang suaminya kena PHK, eh malah menikahkan anaknya secara besar-besaran hingga menanggung hutang cukup banyak. Akhirnya rumah BTN dilego dan sekarang ngontrak sebuah rumah papan di pedesaan. Tentang orang kaya yang diberi sumbangan lebih besar, sedang orang miskin lebih kecil, saya sependapat dengan rekan Joko Suprayoga. Mengapa yang orang kaya tidak diberi sumbangan kecil, sedangkan orang miskin diberi sumbangan lebih besar? RM Ismunandar C Salatiga Permai VI/140-141, Salatiga *** Flexi Trendy Bermasalah Saya pedagang eceran segala jenis voucer isi ulang Hp termasuk Flexi Trendy. Suatu saat mengalami kejadian yang menjengkelkan sekaligus merugikan. Saat ini ada 3 voucer isi ulang Flexi Trendy yang saya miliki tidak dapat digunakan (terdengar nada "kode voucer salah") yaitu, 2 voucer Rp 100.000 dan 1 voucer Rp 50.000. Saya komplain ke Telkom Jl Pahlawan dan saat dicek ternyata voucer dalam kondisi aktif. Bagi saya tidak perduli apakah aktif atau tidak, karena kenyataannya voucer tidak dapat digunakan. Sedikit perdebatan terjadi yang akhirnya disepakati saya harus menunggu proses. Kemudian saya kembali lagi karena belum ada penyelesaian. Kembali saya hanya menerima janji, bahkan disarankan untuk mengembalikan ke dealer. Karena tidak tahu dealernya terpaksa saya kembalikan ke tempat saya kulak yaitu CV Pulau Emas Plaza Simpang Lima Semarang. Di sini saya juga disuguhi setumpuk voucer Flexi Trendy yang bermasalah. Hingga tulisan ini saya buat, belum ada penyelesaian dari Flexi Trendy bahkan terkesan saling melempar tanggung jawab. Kalau begini terus, jelas akan merugikan bagi saya dan penjual eceran lainnya. Keuntungan tak seberapa tapi kerugian sangat banyak. Lantas jawaban apa yang akan diberikan kepada pembeli karena yang mereka tahu adalah, Hp -nya terisi. Bagaimana Telkom Flexi, saya tunggu jawabannya. Djoko Susilo Jl Papandayan Selatan 9 Semarang |