logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 02 Agustus 2005 NASIONAL
Line

Raja Fahd Wafat

  • Harga Minyak Lampaui 61 Dolar AS per Barel

Almarhum Raja Fahd

RIYADH - Duka cita menyelimuti segenap warga Arab Saudi ketika Menteri Penerangan Iyad bin Amin Madani Senin kemarin membacakan pengumuman mengenai wafatnya Raja Fahd.

''Dengan penuh duka dan kesedihan, Kerajaan Arab Saudi atas nama Yang Mulia Pangeran Abdullah bin Abdul Aziz mengumumkan wafatnya wali dua masjid suci, Raja Fahd bin Abdul Aziz,'' kata Iyad bin Amin, ketika membacakan pengumuman tersebut. ''Allah kini memperkenankannya beristirahat di surga.''

Dalam pengumuman resmi itu disebutkan, Raja Fahd wafat setelah menderita sakit. Kesehatan Raja Fahd memburuk sejak dia menderita stroke 10 tahun lalu. Menurut rencana, almarhum dimakamkan Selasa ini.

Sejak didera penyakit itu, dia mendelegasikan semua urusan kerajaan kepada Pangeran Abdullah dan Menteri Pertahanan Pangeran Sultan yang kini ditunjuk sebagai putra mahkota.

Bersamaan dengan wafatnya Raja Fahd, Putra Mahkota Pangeran Abdullah diumumkan sebagai raja baru Arab Saudi sehingga tidak terjadi kekosongan kekuasaan di kerajaan penghasil minyak terbesar di dunia tersebut. Anggota kerajaan sudah menyatakan sumpah setia kepada Raja Abdullah. Upacara penobatan raja baru itu akan dilaksanakan Rabu (3/8).

Raja Fahd wafat dalam usia 83 tahun di Rumah Sakit Khusus Raja Faisal di Riyadh, ibu kota Arab Saudi. Almarhum dibawa ke rumah sakit itu pada 27 Mei untuk menjalani pemeriksaan kesehatan. Menurut laporan Reuters, almarhum menderita radang paru-paru. Pihak rumah sakit mengatakan dia meninggal pada pukul 06.00 waktu setempat (10.00 WIB).

Harga Minyak Naik

Berita wafatnya Raja Fahd berpengaruh pada harga minyak dan pertemuan para diplomat Arab. Pertemuan puncak luar biasa negara-negara Arab yang mestinya diselenggarakan pada 3 Agustus di kawasan wisata Sharm al-Sheikh, Mesir, ditunda. Belum ada keterangan resmi, kapan pertemuan itu akan dilaksanakan kembali.

Harga minyak dunia melonjak sampai di atas 61 dolar AS per barel, kemarin, begitu pasar mengetahui kabar kematian Raja Fahd. Banyak pihak mengharapkan, raja Saudi yang baru tidak melakukan perubahan kebijakan minyak karena bisa membuat harga semakin tinggi.

Minyak mentah Light AS naik 52 sen dolar, menjadi 61,09 dolar AS per barel. Tiga pekan lalu, minyak tersebut mencapai 61,23 dolar AS per barel, tetapi kemudian turun sampai di bawah 60 dolar.

Harga minyak dunia mencapai angka tertinggi dalam sejarah pada 7 Juli lalu, yakni 62,10 dolar AS.

Seorang pejabat Saudi memastikan Abdullah akan melanjutkan kebijakan minyak yang lama. Tujuannya adalah menjamin pasar minyak dunia tetap menerima pasokan dengan baik. ''Saya yakin, tidak akan ada perubahan kebijakan perminyakan Saudi,'' kata pejabat yang tidak mau disebutkan namanya itu kepada Reuters.

Sejumlah analis juga memperkirakan, Saudi tidak akan melakukan perubahan kebijakan minyak. ''Tak akan ada perubahan besar. Sebab, Pangeran Abdullah secara faktual telah memimpin kerajaan itu selama beberapa tahun terakhir,'' kata Geoff Pyne, konsultan energi pada Standard Bank.

Belasungkawa

Ucapan belasungkawa mengalir dari negara-negara Teluk dan Arab. Presiden Prancis Jacques Chirac segera menyampaikan pesan belasungkawa kepada pemerintah Arab Saudi, begitu dia mendengar berita wafatnya Raja Fahd. Presiden AS George W Bush juga langsung melayangkan ucapan belasungkawa.

Raja Fahd berkuasa pada 1982 setelah menjadi putra mahkota selama tujuh tahun. Sebagai raja, dia memiliki kekuasaan absolut atas Saudi dan menjadi penjaga dua masjid suci umat Islam di Makah dan Madinah.

Dia terlibat aktif dalam upaya mencari penyelesaian atas perang saudara di Lebanon. Konflik itu berakhir dengan kesepakatan gencatan senjata yang ditandatangani di Arab Saudi.

Televisi pemerintah Saudi melaporkan, shalat jenazah akan diadakan di Masjid Imam Turki bin Abdulah di Riyadh, Selasa ini. Rakyat biasa Saudi umumnya mengatakan mereka bersedih, tetapi tidak terkejut atas wafatnya Raja Fahd. Selama 10 tahun terakhir, Fahd selalu mengenakan kursi roda tiap kali muncul di hadapan publik.

Kemudian, dia makin jarang tampil. Dia terkadang masih memimpin rapat-rapat kabinet, meskipun tidak berbicara di depan khalayak.

''Saya sangat sedih. Namun ini merupakan takdir yang juga bisa menimpa kita semua,'' kata Saud Mohammed, seorang pegawai negeri. Nasser al-Tayyar, pengusaha terkemuka Saudi, menggambarkan wafatnya Raja Fahd membuat dunia Arab sangat kehilangan. ''Fahd memerintah dengan sangat bijak. Kami kini berharap, Raja Abdullah memimpin negeri ini dengan cara yang sama arifnya,'' kata dia.(rtr-bbc-ben-25))


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA