logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 02 Agustus 2005 MURIA
Line

Kesadaran Wisata Karimunjawa

Oleh: Muhammad Ali

KELIHATANNYA sepele, Gubernur H Mardiyanto membuka Lomba Memancing Bupati Jepara Cup II dan Lomba Foto Wisata Karimunjawa. Namun, di balik kegiatan yang terselenggara atas kerja sama antara Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara dan Harian Umum Suara Merdeka, 23-24 Juli lalu membawa harapan besar, yaitu perkembangan kegiataan dan kunjungan wisata di Karimunjawa.

Dari pidato Gubernur di depan puluhan peserta lomba dari berbagai daerah di Jateng saat acara pelepasan, tersirat harapan besar tersebut.

''Beritahukan kepada kami jika masih ada kekurangan yang harus dibenahi. Namun, beritahukan pula kepada sanak saudara dan teman-teman mengenai keindahan Karimunjawa agar mereka berkunjung ke sini,'' ungkap Gubernur di dermaga perahu nelayan Karimunjawa, tempat acara pelepasan lomba.

Bagi pemimpin Provinsi Jateng itu, lomba memancing merupakan salah satu sarana efektif untuk mempromosikan gugusan 27 pulau yang mempunyai keindahan laut nan eksotis yang kaya akan keanekaragaman ikannya, terumbu karang, air laut yang masih jernih, dan pantai yang berpasir putih.

Kesadaran Wisata

Untuk mengembangkan wisata, memang tidak cukup hanya dengan mengucurkan dana besar. Akan tetapi, yang sangat penting adalah mengembangkan kesadaran wisata bagi warga baik yang dikunjungi maupun yang mengunjungi.

Kesuksesan wisata di Pulau Bali tak dapat dilepaskan dari kesadaran wisata warganya. Sebagai tuan rumah, masyarakat di sana sadar betul soal itu. Kedatangan wisatawan adalah berkah karena mereka membawa uang yang dibelanjakan. Masyarakat Bali menciptakan kondisi sedemikian rupa sehingga wisatawan merasa nyaman dan aman tinggal di pulau tersebut.

Kesadaran wisata inilah yang juga perlu dibangun warga Karimunjawa. Pada acara temu muka dengan warga di sela-sela kegiatan lomba memancing, Bupati menekankan, kunjungan wisatawan akan mendatangkan keuntungan bagi warga. Perahu-perahu nelayan yang selama ini hanya untuk mencari ikan dapat disewakan untuk mengantarkan wisatawan. Begitu pula, rumah-rumah penduduk dapat dimanfaatkan sebagai homestay yang kesemuanya bisa mendatangkan uang. Selain itu, para perajin suvenir yang berbahan baku dari kerang-kerangan, kayu dewadaru, kayu setigi, dan kayu kalimasada (ketiganya merupakan kayu khas Karimunjawa) juga bisa berkembang.

Tenaga Profesional

Berdasarkan pantauan penulis, kesadaran wisata warga Karimunjawa memang masih harus ditumbuhkan. Selama ini, 99% warga bermatapencaharian sebagai nelayan.

Dunia pariwisata membutuhkan sumber daya manusia (SDM) yang memadai. Dalam bidang akomodasi misalnya, perlu orang-orang yang bisa mengelola penginapan dengan baik. Selain itu perlu sentuhan profesional di bidang travel, informasi dan publikasi, guide, dan pembuat suvenir.

Untuk mengantisipasi jumlah kunjungan wisatawan yang semakin meningkat dan menawarkan tempat akomodasi yang memadai, kini sudah ada investor yang sedang membangun hotel di Pulau Karimunjawa.

Selain soal akomodasi, masih banyak hal yang harus dikembangkan.

Pertama, sarana transportasi yang memudahkan pengunjung untuk datang ke Karimunjawa dan mengantarkan ke titik-titik wisata.

Untuk datang ke kepulauan itu dapat ditempuh lewat jalur laut dan udara. Ada Kapal Muria yang melayani rute Jepara-Karimunjawa dan ada Kapal Kartini I yang melayani Semarang-Karimunjawa. Frekuensinya masih terbatas, yaitu seminggu hanya dua kali. Bila animo kunjungan ke daerah itu semakin meningkat maka frekuensi keberangkatan kapal bisa bertambah atau bahkan jumlah kapal.

Tentang transportasi udara, kini dapat ditempuh dengan penerbangan perintis dari Bandara Ahmad Yani Semarang ke Bandara Dewadaru dengan pesawat carter jenis Cassa 212 yang berkapasitas 2-8 penumpang. Sebagai antisipasi pertambahan pengunjung, landasan pacu Bandara Dewadaru diperpanjang lagi sehingga dapat didarati pesawat yang lebih besar.

Yang tak kalah penting untuk dipikirkan adalah sarana transportasi yang mengantarkan wisatawan dari satu titik lokasi wisata ke titik lokasi wisata lain karena objek wisata di kepulauan tersebut memang menjual keindahan laut. Selama ini, perahu nelayan dimanfaatkan untuk mengantar para wisatawan. Perahu yang khusus untuk itu perlu terus ditambah.

Kedua, membuka, menata, mengelola, dan memelihara objek-objek wisata agar tetap terjaga keindahannya. Di samping peran pemerintah, untuk kegiatan ini juga bisa melibatkan investor swasta.

Ketiga, promosi dan informasi perlu dilakukan baik kepada calon wisatawan domestik maupun calon wisatawan mancanegara. Pelibatan biro-biro travel sangat dibutuhkan. Keempat, mengundang investor untuk menanamkan investasinya di bidang perhotelan, transportasi, pembukaan dan pengelolaan objek-objek wisata, serta restoran.

Kelima, penyiapan tenaga-tenaga guide profesional yang dapat mengantarkan sekaligus memberi penjelasan kepada wisatawan.

Gubernur tak hanya memikirkan tentang kesadaran wisata bagi warga Karimunjawa. Dia juga memikirkan bagaimana pengelolaan potensi wisata di kepulauan itu sehingga memudahkan turis yang akan berkunjung ke daerah tersebut.

Kesadaran wisata yang sudah diperlihatkan oleh Gubernur dan Bupati ini perlu diikuti oleh kesadaran wisata warga Karimunjawa dan pihak-pihak yang terkait dengan dunia wisata, seperti para investor dan biro-biro perjalanan untuk menggali potensi wisata yang belum tergarap itu. (54j)

-Muhammad Ali, wartawan Suara Merdeka, asal Jepara.


HexWeb XT DEMO from HexMac International

Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA