logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 02 Agustus 2005 SEMARANG
Line

Azis Lumpuh dan Tidak Bisa Bicara

KENDAL Diduga karena menderita gangguan saraf di punggungnya sejak masih berusia sembilan bulan, kini perkembangan mental dan fisik Azis Supriyanto (6) menjadi terganggu. Akibat kondisi yang dideritanya itu, hidup Azis bergantung sepenuhnya kepada kedua orang tuanya.

''Adanya gangguan saraf di punggung anak itu, kami ketahui berdasarkan hasil diagnosa dokter Hartono yang membuka praktik di Banyumas. Anak tersebut kami periksakan ke dokter spesialis anak saat masih berusia sekitar dua tahun,'' tutur ayah Azis, Salim (35) ketika ditemui di rumahnya RT 3 RW 1 Dukuh Krajan, Desa Pidodo Kulon, Kecamatan Patebon, Kendal, kemarin.

Didampingi istrinya, Ny Suparti alias Ceplis (28) menjelaskan, sebenarnya setelah diperiksakan kepada dokter Hartono, kesehatan anak sulungnya itu mengalami perkembangan positif. ''Namun lantaran terbentur keterbatasan biaya berobat, akhirnya Azis hanya kami periksakan ke dokter satu kali itu saja. Indikasi perkembangan anak itu, antara lain diketahui dengan dapat digerakkannya telapak tangan hingga sebatas pergelangan seperti anak normal lainnya.''

Butuh Bantuan

Setelah cukup lama tidak berobat, lanjut dia, kedua pergelangan tangannya yang semula dapat digerakkan, lambat laun mulai tidak dapat berfungsi kembali. ''Beberapa tahun terakhir, kondisi anak ini nyaris tak berkembang. Selain telapak tangannya tidak mampu digerakkan, kedua kakinya juga menderita lumpuh serta tidak bisa diajak berbicara atau berkomunikasi,'' ungkap Salim yang sehari-hari bekerja sebagai buruh tani dan buruh nelayan itu.

Sehubungan dengan kondisi anak pertama dari dua bersaudara itu, pasangan Salim-Ceplis sangat mengharapkan pihak lain untuk dapat mengulurkan bantuannya guna pengobatan Azis. ''Kami sangat berharap, anak kami dapat segera diobati. Kami yakin, anak itu masih bisa diobati.''

Sejak lama dia ingin mengobatkan anaknya, namun semua itu hanya sebatas angan-angan. ''Jangankan untuk membawanya berobat, mencari uang untuk biaya hidup kami sehari-hari saja sangat kesulitan. Penghasilan kami sebagai buruh tani dan buruh nelayan tidak dapat dipastikan. Memperoleh uang guna mencukupi kebutuhan makan dan minum saja, kami sudah bersyukur,'' papar pasangan suami istri yang hanya lulusan SD tersebut. (G15-51d)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA