logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 02 Agustus 2005 SEMARANG
Line

Tergiur Keris Pusaka Dokter Tertipu Rp 50 Juta

SEMARANG- Lantaran terlalu mudah percaya omongan orang yang baru dikenal, seorang dokter kehilangan uang Rp 50 juta. Korban, dokter Bambang Darmawan (54), yang juga PNS di sebuah instansi pemerintah, menggunakan uang tersebut untuk membeli dua keris pusaka dan satu jenglot yang ternyata benda biasa dan tak memiliki keistimewaan apa pun.

Kasus penipuan itu kini diproses secara hukum. Pelaku, Surya Wijaya Kusuma (40), warga Jl Siwalan II RT 4 RW 3, Tlogosari Wetan, ditahan di Polwiltabes. Polisi menyita dua keris dan satu jenglot yang disebutkan tersangka sebagai "Betara Karang".

Sesuai dengan ucapan Surya, kedua keris memang dapat bergetar bila dipegang dan jenglot bisa mengeluarkan cahaya merah dari matanya. Namun, hal itu bukan karena benda-benda tersebut sakti, melainkan lantaran dipasangi baterai dan rangkaian elektronik.

Kasus itu bermula ketika Bambang, warga Jl Tlogomukti Raya, Perumahan Graha Mukti, mendengar kabar dari temannya bernama Mulyono, bahwa ada seseorang di Jl Siwalan II yang memiliki benda-benda ampuh. Bambang, yang memang sudah lama gemar mengoleksi benda pusaka, langsung tertarik.

Dia dan Mulyono kemudian mendatangi rumah tersangka, Selasa (12/7) siang. Dengan gaya meyakinkan, Surya menjelaskan kesaktian dua keris Nagasasra dan jenglot Betara Karang yang dimilikinya. Benda-benda itu, katanya, bisa mendatangkan kekebalan tubuh. Sudah ada orang yang hendak membayar dengan sebuah mobil Toyota Kijang, tetapi dia belum mau melepas.

Tersangka lantas menunjukkan mobil tersebut yang ditinggal pemiliknya dan diparkir di garasi rumah. Bambang jadi makin percaya. Apalagi, siang itu juga Surya mendemonstrasikan "kesaktian" keris dan jenglot. Bambang disuruh memegang keris. Salah satunya bergetar, satunya lagi terasa mendatangkan aliran listrik ringan. Jenglot bisa berputar sendiri dan memancarkan sinar merah dari kedua matanya.

Benda Pusaka Palsu

Setelah melalui pembicaraan beberapa saat, akhirnya Bambang bersedia membeli ketiga benda itu dengan harga Rp 50 juta. Pembayaran dilakukan bertahap. Pertama Rp 30 juta, dan beberapa hari kemudian Rp 15 juta dan Rp 5 juta.

Tipu daya tersangka akhirnya terbongkar, ketika korban menceritakan ikhwal ketiga benda itu kepada salah satu "orang pintar" yang dikenalnya. Orang pintar tersebut mengingatkan Bambang, karena banyak benda pusaka palsu diperjualbelikan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Korban lantas mencoba kembali. Dia melepas kedua bilah keris dari sarungnya, dan ternyata tak bisa bergetar atau mengeluarkan setrum. Ternyata setelah dibelah, di dalam gagang keris terdapat dua baterai kecil dan kabel-kabel listrik. Demikian pula di dalam jenglot.

Rupanya rangkaian elektronik itulah yang menyebabkan keris bergetar dan mata jenglot bisa memancarkan cahaya. Merasa diperdaya, korban bergegas mencari Surya di rumahnya, tetapi dia sudah menghilang.

Minggu (31/7) malam, Bambang berangkat ke Polwiltabes untuk melaporkan kejadian itu. Tanpa sengaja, di Kalisari dia melihat tersangka sedang melintas. Korban langsung menangkap lelaki tersebut dan membawanya ke Polwiltabes.

Surya, yang tak memiliki pekerjaan tetap, mengaku mendapatkan keris dan jenglot dari seseorang bernama Moch Alek di Rangkasbitung, Banten, dengan harga Rp 30 juta.

"Saya tahu benda-benda itu memang bohong-bohongan. Tidak ada khasiatnya sama sekali. Saya sengaja membeli untuk dijual lagi ke orang lain yang tidak tahu. Kalau laku, saya bisa dapat untung besar," ujarnya, ketika diperiksa Kanit Harda Polwiltabes AKP Gede Widiana, kemarin. (G3-37s)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA