logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 02 Agustus 2005 INTERNASIONAL
Line

China Usulkan Draf Baru Resolusi Nuklir Korut

BEIJING - China mengusulkan rancangan deklarasi baru dalam perundingan enam negara, Senin kemarin. Akhir pekan lalu, keenam negara itu gagal menyepakati isi pernyataan bersama mereka. Jika berhasil disepakati, deklarasi tersebut akan menetapkan prinsip-prinsip dasar untuk menyelesaikan krisis nuklir Korut.

Perundingan enam negara yang bertujuan mengakhiri program nuklir Korut tersebut berlangsung alot. Di sela-sela pertemuan, Pyongyang dan Washington sempat mengadakan beberapa kali pembicaraan bilateral untuk mencari titik temu.

Perundingan-perundingan bilateral itu sempat menciptakan suasana yang positif bagi pertemuan enam negara. Sebab, AS dan Korut sebelumnya sering bersitegang. Bahkan, Washington menjuluki Pyongyang sebagai "poros kejahatan". Kendati demikian, sejauh ini keenam negara (Korut, Korsel, Jepang, China, Rusia, dan AS) belum berhasil menyepakati isi komunike bersama.

Pernyataan itu diperkirakan tidak akan menyelesaikan isu penting yang menjadi pokok masalah antara Korut dan AS. Korut menuntut AS terlebih dulu memberikan jaminan keamanan, sebelum ia menghentikan seluruh program nuklirnya.

"Sampai kemarin malam, rancangan kedua telah disusun. Komite penyusun deklarasi akan sekali lagi membahas rancangan tersebut," kata Christopher Hill, ketua delegasi AS.

Masih Alot

"Banyak ketentuan di rancangan itu masih diperdebatkan oleh masing-masing delegasi," kata dia. "Kemungkinan, perundingan akan berlangsung alot."

Kantor berita China Xinhua melaporkan, para ketua delegasi dari masing-masing negara telah berulang kali berunding. Mereka membahas secara mendalam penggunaan istilah-istilah pada rancangan pernyataan bersama itu.

"Rapat-rapat konsultasi masih berlangsung," lapor Xinhua, mengutip seorang utusan China.

Hill mengatakan, rancangan deklarasi baru itu meliputi pencantuman tawaran Korsel tentang bantuan pasokan listrik 2.000 megawatt kepada Korut jika Pyongyang bersedia menghentikan program senjata nuklirnya.

Pasokan listrik sebesar itu sama dengan total produksi yang mampu dihasilkan oleh perusahaan listrik negara Korut. Namun Pyongyang masih belum puas dengan tawaran tersebut.

"Korut khawatir, kesepakatan itu akan mengancam keamanan negaranya," kata sumber diplomatik kepada Reuters. "Dikhawatirkan, Korsel menghentikan pasokan listrik itu sewaktu-waktu."

Utusan Korsel Song Min-soon mengatakan keenam negara sejauh ini baru menyepakati penyusunan kerangka denuklirisasi Semenanjung Korea. Kesepakatan itu dicapai setelah perundingan sengit akhir pekan lalu.(rtr-ben-25)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA