| Senin, 01 Agustus 2005 | PANTURA |
''Ikut KB Suntik, Punya Anak Lagi...''
RASMIN (33) terlihat menerawang. Tangannya mengelus-elus telapak kaki istrinya, Ny Maemunah. Lelaki empat anak itu kelihatan sedikit lega, setelah hampir 10 menit menunggui istrinya menjalani operasi Medis Operasi Wanita (MOW). Proses operasi MOW untuk akseptor Keluarga Berencana (KB) baru memang berlangsung singkat. Operasi hanya sekitar tiga menit, tetapi untuk persiapan sampai pelaksanaan sekitar 10 menit. Namun Rasmin waswas, karena baru kali pertama menunggui sang istri masuk ruang operasi. ''Istri saya baru saja menjalani operasi KB wanita. Anak saya sudah terlalu banyak, takut kerepotan lagi,'' paparnya, di salah satu bangsal bersalin, RSU Brebes, kemarin. Lelaki bertubuh tinggi dengan kulit hitam itu, sehari-hari bekerja sebagai nelayan. Latar belakang pendidikan yang hanya mengenyam sampai kelas II sekolah dasar (SD), membuatnya pasrah menerima takdir sebagai anak buah kapal. Penghasilannya yang kecil dan pas-pasan untuk makan sekeluarga, membuatnya harus putar otak. Tiga tahun lalu, istrinya menjadi akseptor KB suntik, tetapi ternyata tetap saja hamil. Atas saran salah seorang anggota keluarganya, dia kemudian mengajak sang istri mengikuti MOW. Tujuan utama ber-KB, yang utama bagi dia adalah untuk memberikan kesempatan istri mengurus rumah tangga. Empat tahun berturut-turut, setelah pernikahan akhir tahun 2000, hampir setiap tahun lahir jabang bayi dari perut istrinya. Sadar akan kebutuhan biaya membesarkan anak-anaknya, Rasmin lalu membujuk istrinya mengikuti program MOW. Mantap ''Istri saya makin mantap, setelah mendapatkan penjelasan dari petugas penyuluh lapangan KB yang sering datang ke rumah,'' paparnya. Kondisi serupa juga dialami Tusini (33), yang kini memiliki empat anak. Istri dari Wartoni (36), warga Desa Prapag Lor, Kecamatan Losari, menyadari kemungkinan kesulitan pada masa yang akan datang, karena banyak anak. Karena itu, kemarin dia memutuskan ikut MOW. Bahkan saat pelaksanaan operasi, dia hanya ditunggui anak pertamanya, Wakiah (16). Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Daerah (BKKBD) Kabupaten Brebes, Dr Hartoyo Suhari MPH mengakui, kesadaran dan animo wanita ikut program MOW makin meningkat. Alasan mereka ikut program itu, sangat praktis karena masa berlaku panjang. ''Sekali pasang untuk selamanya atau seumur hidup,'' ujar Hartoyo, didampingi Kepala Bidang KB BKKBD, Drs Rochadi MM. Guna mendukung minat masyarakat yang tinggi itu, pihak BKKBD kini berupaya menerobos anggaran ke provinsi Jateng. Sebab, pembiayaan untuk pelaksanaan operasi cukup besar, yakni setiap orang/akseptor Rp 300.000. ''Kini kami memperoleh alokasi bantuan untuk 400 orang, padahal sampai Juni 2005 sudah ada sekitar 446 akseptor yang menjalani operasi,'' paparnya. Maka, pihaknya berharap pemerintah kabupaten (pemkab) melalui APBD II mendukung program ini melalui pembiayaan operasi. Sebab, dana APBD II yang dia terima saat ini sekitar Rp 335 juta, masih diarahkan untuk operasional petugas di lapangan. Tentang makin meningkatnya animo masyarakat, salah satunya karena dorongan terus-menerus dari petugas KB di lapangan. Mereka lewat Kepala UPT masing-masing berusaha menggaet akseptor MOW, dengan catatan diutamakan dari keluarga miskin. Mereka digratiskan dari segala biaya, termasuk perawatan di rumah sakit selama menjalani operasi tersebut.(Wahidin Soedja-52s) |