logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 01 Agustus 2005 PANTURA
Line

Ternak Itik Dipastikan Aman Flu Burung

TEGAL - Itik di sentra peternakan Kelurahan Pesurungan Lor, Margadana, Kota Tegal dipastikan aman dari flu burung. Hal ini dinyatakan Dirjen Peternakan, Ir Tati Setiawati di sentra peternakan itik terbesar di Kota Tegal, Jumat (29/7) lalu.

Pernyataan Dirjen Peternakan itu disampaikan dalam kegiatan Lomba Pengembangan Agrobisnis Tingkat Nasional Kelompok Tani Ternak Itik (KTTI) Satelit Sejahtera.

"Berkaitan dengan isu flu burung yang merebak, itik lebih aman dibanding dengan ayam," ucapnya. Menurut dia, selama peternak menggunakan bibit unggul dan menangani dengan baik, itik akan lebih kebal terhadap penyakit. Oleh karena itu, dia mengharapkan peternak memperhatikan kebersihan dan sanitasi kandang.

Sementara itu, mengenai kriteria penilaian lomba, kata dia, meliputi tiga aspek yang terdiri dari aspek hulu, aspek budi daya, dan aspek hilir. Aspek hulu meliputi sarana produksi peternakan (sapronak) yang terdiri atas pakan serta obat-obatan.

"Kebersihan kandang, sanitasi, serta tata laksana kandang masuk dalam aspek budi daya," terangnya didampingi juri lain, Ir Dwi Joko Setyono MS dan Dr Ir Suryahadi DEA.

Sementara tata laksana pemeliharaan, di antaranya meliputi pemilihan bibit yang baik serta metode pengawinan ternak. "Bahkan untuk efisiensi, kelompok peternak itik di Brebes telah menerapkan inseminasi buatan (IB) untuk pembuahan," tambah Tati. Yang tidak kalah penting dalam pembudidayaan itik adalah pemberian pakan.

Bahan Campuran

"Pakan itik seharusnya memenuhi unsur-unsur yang dibutuhkan, termasuk protein." Aspek ketiga, yakni aspek hilir meliputi penanganan itik apkir dan telur, baik berupa telur segar maupun telur asin. "Ketiga aspek akan dinilai dengan persentase aspek budi daya paling besar, yakni 60 persen,'' terangnya.

Sementara mengenai pakan sebagai salah satu aspek penilaian, dokter hewan Liza Atikah mengatakan, peternak itik di Pesurungan Lor acap kali mengganti ikan pirik sebagai salah satu bahan campuran dengan keong.

Wanita yang bertugas di Dinas Pertanian dan Kelautan Pemerintah Kota (Pemkot) itu menuturkan, pencampuran makanan itu dilakukan untuk mensiasati kelangkaan dan mahalnya harga ikan. "Makanan itik dapat berupa campuran bekatul, nasi kering yang direndam dengan air, serta ikan segar. Namun, ketika kondisi ikan sulit didapatkan dan mahal seperti saat ini, dapat mengganti ikan dengan keong.

Menurut dia, nilai protein ikan dan keong sama saja. Unsur protein yang didapat itik dari kedua makanan itu akan menghasilkan kualitas telur yang sama. Namun demikian, Tati yang sekaligus sebagai ketua tim penilai menyatakan perlu untuk membandingkan telur yang dihasilkan itik yang memakan ikan dengan keong.

"Kami akan membawa dua sampel telur itik yang diberi pakan ikan dengan keong untuk diteliti," papar dia saat ditemui di lokasi perlombaan.

Sementara itu Kepala Koperasi Purwadiwangsa, Rekso Sulaeman mengatakan, saat ini kelompok Satelit Sejahtera mempunyai 150.000 itik dengan produksi telur minimal 75.000/hari. Dia juga mengatakan, peternak itik di Pesurungan Lor memulai usahanya dengan sistem kandang pada tahun 1982. (lei-17d)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA