| Senin, 01 Agustus 2005 | PANTURA |
Ekspor Meningkat, Harga Nilam Anjlok
KAJEN - Petani dan pengepul di Kabupaten Pekalongan mengeluhkan harga minyak nilam yang anjlok drastis. Padahal, nilai ekspor minyak itu ke berbagai negara belakangan justru mengalami kenaikan. Meski mengetahui permintaan dari luar negeri meningkat, para petani dan pengepul tak dapat berbuat banyak untuk mendongkrak harga nilam. Sebab, mereka tak punya akses ke mana melempar minyak tersebut. Saekhu (35), salah seorang petani sekaligus pemilik penyulingan nilam mengatakan, harga nilam anjlok sampai Rp 170.000/ kg. Padahal sebelumnya Rp 600.000/ kg. Anehnya, permintaan dari agen yang mengekspor keluar negeri justru meningkat. "Tiap hari saya bisa menghasilkan paling tidak satu ton nilam," ungkap warga Buaran itu. Dengan harga hanya Rp 170.000 /kg, petani dan pengepul merugi. Sebab biaya produksi per kilo mencapai Rp 200.000. Selama ini, Saekhu mengumpulkan nilam dari para petani di Kabupaten Pekalongan dan Batang. Antara lain dari Kajen, Kandangserang, Paninggaran, Petungkriyono, dan Bandar. Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Kabupaten Pekalongan, Drs Bambang Sunaryo kepada Suara Merdeka mengatakan, pihaknya juga mendapatkan keluhan dari para petani dan pengepul nilam. Permainan agen Dari hasil penelitian di lapangan, kata Bambang, anjloknya harga nilam diduga karena adanya permainan dari para agen yang membawa nilam ke eksportir. Masalahnya, para petani dan pengepul di Kabupaten Pekalongan tak punya akses langsung dengan eksportir. "Padahal dari hasil penelitian kami, harga ekspor nilam ke luar negeri paling sedikit mencapai Rp 6 juta/kg," tuturnya. Selama ini para pengepul nilam di Kabupaten Pekalongan hanya bisa memasarkan nilam melalui tiga agen, yaitu dari Purwokerto, Banjarnegara, dan Purbalingga. Agen-agen itulah yang kemudian menyetorkan ke eksportir di Jakarta. "Anehnya beberapa kali kami melacak ke Jakarta dan departemen terkait, tetap tidak ada yang tahu keberadaan eksportir nilam," tandasnya. Jika petani atau pengepul nilam di Kabupaten Pekalongan punya akses untuk langsung berhubungan dengan eksportir atau memasarkan sendiri ke luar negeri, harganya pasti jauh lebih tinggi. Nilam selama ini dimanfaatkan sebagai bahan baku berbagai jenis minyak, seperti minyak wangi dan bahan bangunan yang harganya mencapai jutaan rupiah. Di Asia, penghasil nilam terbaik adalah Thailand dan Indonesia. Di Indonesia, nilam paling banyak dibudidayakan di Aceh. "Pascabencana tsunami, pasokan nilam dari Indonesia sempat berkurang. Namun permintaan pasar luar negeri tetap tinggi, khususnya di negara-negara Eropa dan Kanada," papar Bambang. HIPMI, tegas dia, tetap akan berusaha menemukan eksportir yang selama ini menjual nilam ke luar negeri. "Kami berharap Pemkab juga ikut membantu, karena ini juga demi kepentingan masyarakat Kota Santri," tambahnya. (G16-52s) |