| Senin, 01 Agustus 2005 | PANTURA |
Penemuan di Hutan SemedoFosil Binatang Purba Masih MisteriSLAWI - Penemuan fosil binatang purba di Desa Semedo, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Tegal, 12 Juli lalu, hingga kini masih misteri. Maksudnya, baik dari LSM Gerbang Mataram dan Pemkab Tegal itu sendiri, belum bisa menentukan jenis dari binatang purba apa. Menurut Bambang Purnomo, Ketua LSM itu, dan Ir Muanas (anggota Komisi C DPRD) yang terus mencari informasi soal penemuan tersebut, jika sudah ada arkeolog datang ke lokasi penemuan dan meneliti sejumlah fosil, tentu akan diperoleh kejelasan. "Seluruh temuan warga dan LSM Gerbang Mataram tersebut, kini masih diamankan di sejumlah rumah penduduk. Kalau ada arkeolog datang akan diserahkan untuk diteliti," tutur Muanas, yang juga anggota Fraksi Partai Amanat Nasional (FPAN) DPRD. Sebagai catatan, pertama kali yang menemukan fosil tersebut adalah seorang penduduk bernama Dakri (46), warga RT 5 RW 2. Dia adalah pencari kayu dan ranting di hutan terpencil yang berbatasan dengan Kecamatan Warureja dan Kabupaten Pemalang. "Awalnya saya sangat terkejut melihat potongan tulang dalam ukuran cukup besar. Siapa tidak kaget, ada tulang betis dengan diameter 10 cm," kata Dakri. Secara kebetulan, LSM Gerbang Mataram yang dipimpin Bambang Purnomo tengah melakukan orientasi soal lahan kritis di desa tersebut. Penemuan tulang besar itu kemudian dilaporkan ke LSM yang dipimpin keturunan pendiri Tegal Ki Gede Sebayu. Mendapat laporan itu, empat anggota LSM yang belum lama berdiri itu langsung menuju lokasi penemuan yang berjarak 1,5 km dari permukiman penduduk. Yaitu di hutan Semedo, Tirem dan Geger Pelem. Setelah dilakukan pelacakan dengan mengorek tanah sekitar lokasi penemuan, ditemukan ratusan jenis tulang dalam berbagai bentuk dalam radius hingga empat km2. Sebagai misal, rahang binatang purba seperti gajah dan buaya. Di hutan Tirem, Tim LSM dan sukarelawan dari warga desa itu juga menemukan gading gajah dalam ukuran besar, tengkorak berdiameter 80 cm, serta tulang kaki dan gigi. "Ini jelas fosil dan artefak, a binatang purba," tutur Bambang Purnama dan Teguh Herdi Sancoyo (PLS Dinas P dan K Kecamatan Kedungbanteng). Zaman Pleistosen Anggota Komisi C Ir Muanas yang juga lulusan Fakultas Geologi UGM Yogyakarta mengatakan bahwa fosil dan artefak yang ditemukan di hutan Semedo, Tirem dan Geger Pelem diduga berasal dari zaman Pleistosen. Pada zaman itu atau zaman Tersier Akhir, kata dia, daerahnya masih berbentuk bebatuan. Sehingga, cukup mengagetkan jika sekarang ditemukan sejumlah fosil di daerah yang selama ini jarang dijamah arkeolog mana pun. Dia yang pernah melakukan penelitian kondisi tekstur tanah di Kecamatan Kedungbanteng dan Warurejo mengungkapkan, pergeseran kondisi tanah memang memungkinkan keberadaan binatang purba di daerah tersebut. Hal lain yang cukup mengagetkan, sangat jarang ditemukan fosil binatang purba seperti gajah dan binatang jenis molluscaa seperti kerang. Bahkan, dengan ditemukan fosil buaya dalam ukuran besar menunjukkan kekayaan arkeologi di Kabupaten Tegal yang layak dilakukan penelitian lebih lanjut. Karena itulah, untuk menjawab seluruh dugaan yang kini berkembang, pihaknya sangat mengharapkan kedatangan arkeolog dari Balai Konservasi Kepurbakalaan Jawa Tengah dan DIY untuk segera melakukan penelitian. Di sisi lain, pihaknya sangat memahami kesibukan arkeolog di balai itu yang kini tengah melakukan penggalian sejumlah penemuan benda purbakala di beberapa daerah. Karena itulah tenaga ahli kepurbakalaan belum bisa secepatnya meneliti penemuan di Kecamatan Kedungbanteng. "Arkeolog kita kan jumlahnya terbatas. Jadi kalau ada penemuan seperti ini harus antre. Juga untuk melakukan penelitian dan penggalian dibutuhkan dana tidak sedikit. Jadi inilah kendalanya," tutur Muanas. (D12-19h) |