| Senin, 01 Agustus 2005 | PANTURA |
Wayang, Gudangnya Ilmu Budi PekertiMENGGELUTI dunia pedalangan bagi kaum wanita, tentu sangat aneh. Betapa tidak, umumnya yang melakukan cerita pewayangan itu hampir dilakukan dalang laki-laki. Namun, di Batang ada seorang gadis belia yang kini memperdalam ilmu pedalangan. Dia masih duduk di kelas II SMA 1 Subah. "Saya banyak mendapatkan ilmu setelah memdalami pedalangan. Ilmu yang benar-benar tak ternilai harganya, yaitu sebagai gudangnya ilmu budi pekerti," ujar Nur Isyaroh (16). Menurut dia, dengan mempelajari wayang melalui pedalangan, secara tidak langsung akan didapat ilmu warisan leluhur nenek moyang, yaitu budi pekerti. Selain itu, juga perilaku yang baik dan bijaksana dengan sesama manusia. "Inilah yang nilainya mahal sekali. Semakin dalam mempelajari wayang, kita akan mendapatkan nasihat-nasihat tentang kehidupan dan menanamkan kepercayaan kepada yang Mahakuasa." Dalam pewayangan juga bisa dibuktikan sifat bijaksana dan penyabar, yang akan mengalahkan sifat jahat. Bahkan, dengan sikap ksatria seperti yang diperankan dalam tokoh-tokohnya. Hikmah yang dapat diambil adalah munculnya rasa kebersamaan dan tanggung jawab. Di samping memupuk tenggang rasa, saling hormat-menghormati, dan mengembangkan sikap toleransi. Itu semua sangat berguna bagi kehidupan di alam yang sudah mengglobal. Dalam bayangannya, apabila wayang itu menjadi mata pelajaran, tentu akan berguna dalam pembinaan generasi muda. Juga, dilakukan sebagai upaya dalam melestarikan budaya warisan nenek moyang. "Sebagai generasi penerus, rugi kalau sampai tidak mengetahui pewayangan. Tidak sebatas nguri-uri, tetapi lebih jauh dengan mendalami wayang maka kita akan mengetahui hakikat hidup sebenarnya," ujar putri tunggal pasangan petani Kasmiri dan Kustiyah, yang baru saja menyabet juara MTQ tingkat SMTA se-Kabupaten Batang tahun 2005. Tokoh dalam pewayangan yang menjadi favoritnya adalah Semar. Alasannya, dalam situasi apapun dan di mana pun dia selalu tampil sebagai panutan. Seperti memberi arahan, saran, petunjuk serta menunjukkan pada titik temu. "Saya senang sekali Suara Merdeka menjadikan maskot Semar sebagai Sang Pamomong. Ki Badranaya itu memang benar-benar menjadi panutan." (Arif Suryoto-19s) |