| Senin, 01 Agustus 2005 | OLAHRAGA |
Persija Siapkan Protes pada PSSISEMARANG-Melubernya penonton sampai ke lapangan dan kepemimpinan wasit yang dianggap terlalu cepat meniup peluit akhir dilontarkan ofisial Persija, setelah timnya menyerah 0-1 kepada PSIS di Stadion Jatidiri, kemarin. Pernyataan tegas disampaikan Manajer IGK Manila. Dia menyatakan pihaknya siap untuk melakukan protes resmi kepada PSSI. "Ada dua hal yang akan dilaporkan. Pertama, kapasitas stadion mengingat penonton membeludak hingga pinggir lapangan. Kedua, kepemimpinan wasit," jelasnya. Dia menambahkan, saat wasit meniup peluit panjang, waktu pertandingan belum memasuki injury time. Anugrah Supandji, pengawas pertandingan asal Malang menjelaskan, masalah waktu yang menentukan adalah wasit. Secara eksplisit dinyatakannya, waktu resmi yang berlaku dalam pertandingan adalah waktu yang dipakai oleh wasit. Asisten pelatih Isman Jasulmei yang menolak memberikan pernyataan resmi perihal masalah tersebut, berkali-kali meminta wartawan menilai sendiri situasi pertandingan. "Menang atau kalah itu normal. Kami sendiri puas dengan penampilan anak-anak yang bisa bermain normal. Walaupun diteror, mereka tetap bermain bagus. Tapi, prosesnya seharusnya berjalan fair play. Mengapa tidak ada penambahan waktu?" sesalnya. Selain itu, wasit dianggapnya pilih kasih dengan tidak segan-segan meniup peluit dan memberikan kartu kuning apabila terjadi pelanggaran oleh pemain Persija. Hal serupa, lanjutnya, tidak berlaku saat Charis dkk dilanggar dengan keras. Ketenangan Pelatih PSIS Bambang Nurdiansyah berpendapat, kunci kemenangan tersebut adalah ketenangan, kesabaran dan kedisiplinan. Permainan seperti itu sudah kembali terlihat saat laga melawan Persib Bandung. Bambang mengharapkan kedisiplinan itu tetap ditunjukkan saat menjamu Arema Malang, Rabu lusa. ''Anak-anak main bagus. Mereka tidak emosi dan tegang menghadapi Persija yang punya materi pemain bagus,'' pujinya saat ditemui wartawan di ruang ganti. Meski demikian, dia tampak kurang puas dengan penampilan Emmanuel de Porras dan kawan-kawan. Secara psikis mereka drop di babak kedua. Padahal, di babak pertama permainannya bagus. Namun, setelah gol Esaiah Pello Benson pada menit ke-13, mereka terlihat cepat puas. Permainannya menjadi kurang agresif, seakan tidak bernafsu mencetak gol lagi. "Padahal, saya sudah memberikan instruksi menjelang babak kedua dimulai. Pemain harus tampil bagus dan mencetak gol lagi," ungkapnya. Namun instruksinya ternyata tidak berjalan di lapangan. Anak-anak asuhannya tetap bermain hati-hati, dan berusaha keras menjaga gawangnya tidak kebobolan dengan langsung membuang bola jauh-jauh. (H13,aim-22) |