| Senin, 01 Agustus 2005 | WACANA |
Surat PembacaTanggapan Polres KendalTerima kasih kepada warga masyarakat (dalam hal ini Bpk Aryo Widiyanto), yang tanggap dan peduli terhadap keberadaan Polri untuk lebih baik di masa datang. Saran dan harapan Sdr akan kami tindaklanjuti demi mewujudkan kemitraan antara masyarakat dengan Polri (khususnya Polres Kendal) guna mendukung terciptanya situasi kamtibmas yang kondusif dan kamtibcarlantas di wilayah hukum Polres Kendal. Kabag Binamitra *** Penulis Surat Pembaca, Bersatulah... Sehubungan dengan banyaknya surat ke rumah yang menanyakan apa itu Epistoholik Indonesia, saya tuliskan kembali penjelasan "penciri" Epistoholik Indonesia Bambang Haryanto, seperti termuat dalam situs www.episto.blogspot.com. Istilah epistoholik diperoleh dari majalah Time (6 April 1992) yang menjuluki Anthony Parakal (72), warga Evershine Nagar, Mumbay, India, karena prestasi hebatnya dengan menulis surat pembaca di pelbagai surat kabar dunia sebanyak 5.000 surat berbahasa Inggris. Parakal telah menulis surat-surat pembaca sejak tahun 1955. Istilah itu merupakan paduan dari kata epistle yang berarti surat dan imbuhan oholic yang berarti kecanduan. Epistoholik Indonesia (EI) digagas sebagai komunitas dan wahana jaringan antarpenulis surat-surat pembaca se-Indonesia. Sebab kita percaya, masyarakat sebaiknya "berani" menulis, karena pemikiran jernih dalam masyarakat yang "amburadul", mempunyai kekuatan seperti cahaya dalam kegelapan. Untuk jadi anggota, tidak gampang dan tidak semua orang bisa diterima. Sekalipun Anda Inul, Rhoma Irama, Beckham, Mike Tyson, atau pun Einstein. Soalnya Anda harus mengidap sebuah "penyakit" yang bernama epistoholik atau kecanduan menulis surat pembaca. Namun percayalah pada dasarnya semua orang yang bisa baca tulis berpotensi menjadi seorang epistoholik. Sebab menulis adalah keterampilan tingkat "sekolah dasar". Artinya, semua orang yang telah tamat SD semestinya bisa menulis. Persoalannya, tidak serta merta bisa "menulis" hanya dengan lulus SD saja. Sebab menulis/mengarang adalah "praktik", sehingga hanya dengan melakukannya kita menjadi "bisa". Menjadi seorang epistoholik bisa gampang kalau ada komitmen, janji pada diri sendiri, untuk mulai menulis sekarang juga. Kalau janji dibiarkan tinggal janji, mungkin lebih baik jadi politisi saja. Iya kan? Joko Suprayoga *** Penghematan BBM Suara Merdeka beberapa waktu lalu memberitakan, Pemerintah berencana mengeluarkan kebijakan penghematan BBM dan mendapat reaksi dari DPR. Juga Menko Perekonomian Aburizal Bakrie mengatakan subsidi BBM terancam melonjak hingga Rp 150 triliun jika konsumsi mencapai 10 % di atas kuota sebesar 59,6 juta kiloliter dan tidak ada penghematan. Jika itu terjadi maka defisit anggaran bakal membengkak menjadi Rp 39,8 triliun. Menurut saya, penghematan penggunaan BBM akan susah dikendalikan, apa sebab?.Pertengahan 2004 saya pernah menulis di rubrik surat pembaca. Intinya memberi masukan pada Pemkot, Dishub, Satlantas dan dinas terkait untuk membatasi jumlah kendaraan/mobil baru. Seperti kita ketahui jalan-jalan raya sudah penuh dengan kendaraan hingga terjadi kemacetan di mana-mana. Bagi produsen mobil tidak ambil pusing, pokoknya jual sebanyak-banyaknya dan meraup keuntungan sebesar mungkin, titik. Di sisi lain kondisi jalan-jalan raya mengalami kerusakan yang parah padahal sangat lamban penanganan perbaikannya. Untuk mengatasi, jalan satu-satunya yang harus ditempuh oleh instansi terkait sbb: Bagi setiap mobil baru yang dimintakan BPKB/STNK pemiliknya harus dapat menyerahkan BPKB/STNK mobil lama yang masih berlaku dalam kondisi apa pun. Dengan demikian jumlah mobil dapat terbatasi dan pemakaian BBM pun bisa dikendalikan. DW Prasetyo *** Harus Pedang Pedang termasuk kategori senjata tajam. Dibuat dari logam pilihan. Kecuali pegangan, seluruh bagian dari kedua sisi apalagi ujungnya semuanya tajam. Kekuatan dan ketajamannya tidak diragukan lagi. Bisa untuk menebas hingga menusuk ke segala arah. Bila kena sasaran dijamin tuntas. Karena keistimewaannya, maka sang Dewi Keadilan dibekali pedang. Demi keadilan, tidak segan membabat kejahatan yang ditemui. Di mana pun posisinya; di atas-vertikal, sejajar-horizontal, maupun di bawah, akan terjangkau dan sulit mengelak dari hunusan hingga tebasan pedang sang Dewi Keadilan. Ini semua rekaan saya sebagai orang awam, kenapa harus pedang yang menjadi salah satu perlengkapan sang Dewi Keadilan. Kenyataannya sering yang menjadi korban tebasan justru hanya pelaku kejahatan yang di bawah. Dikhawatirkan, kejadian ini muncul karena sang Dewi Keadilan keliru berbekal senjata. Dia hanya berbekal senjata khas seperti golok, badik, mandau, rencong bahkan mungkin clurit yang tajam satu sisi saja. Kalau ujungnya tajam, posisi melengkung. Karena design ketajamannya yang pro gravitasi, jadinya hanya tajam untuk memotong, membacok dan menusuk atau ke bawah. Namun menjadi tumpul kalau ke atas. Saatnya senjata yang membekali Dewi Keadilan kembali diganti pedang. Bukan yang lain, sekalipun cambuk. Karena konstruksi pedang memungkinkan tajam ke segala arah. Purnomo Iman Santoso *** Lowongan Kerja Pilkada ternyata menciptakan lapangan kerja baru yaitu berdemonstrasi. Bukan rahasia lagi jika untuk menggerakkan suatu demo baik mendukung maupun menghujat salah satu calon bupati, diperlukan dana yang tak sedikit. Disinyalir bayarannya berkisar Rp 20.000 s.d Rp 50.000/orang para "pekerja demo" siap melakukan apa saja yang diperintah oleh supervisor atau petugas lapangan yang membayarnya. Imbasnya gedung vital seperti KPUD, pendopo kabupaten, maupun gedung DPRD menjadi sasaran empuk demonstran. Suasana mencekam, polisi berjajar di tepi jalan, demonstran berteriak lantang membuat masyarakat pengguna jalan dihantui ketakutan, roda perekonomian menjadi agak terganggu. Aparat kepolisian setidaknya lebih selektif menerbitkan surat izin demonstrasi. Peran intelijen Polri mengidentifikasi pekerja demo di lapangan sangat signifikan dilakukan. Agak menggelikan melihat kelompok demonstran baik yang pro maupun kontra seorang calon bupati adalah orang-orang yang sama. Masyarakat membutuhkan kenyamanan dalam bekerja, jika demo terjadi setiap hari semakin lama rakyat tidak lagi simpati dan menaruh kepercayaan pada demonstran. Diperlukan sikap bijaksana dari semua calon untuk menerima kekalahan dengan jiwa satria dan menyikapi kemenangan dengan menghindari sifat jumawa. Aryo Widiyanto AMd *** Koperasi atau Kejahatan Ekonomi? Saya setuju dengan surat Sdr Daryoso beberapa waktu lalu, bahwa memang begitu mudah memperoleh izin pendirian koperasi meski jati diri koperasinya belum jelas. Misalnya di Kecamatan Purwantoro Wonogiri, ada pengusaha mendirikan Koperasi Simpan Pinjam (KSP), yang asetnya selama 1 tahun sudah mencapai Rp 3 miliar. Jelas ini kejahatan ekonomi modern di mana koperasi punya aset layaknya bank yang tentu tujuannya meminimalkan pajak. Semua tahu, koperasi adalah kumpulan anggota bukan kumpulan modal usaha. Tetapi yang terjadi, 3 pengusaha yang masih ada ikatan keluarga mendirikan koperasi. Sedang 20 anggota sebagai salah satu syarat mendirikan koperasi biasanya fiktif dan karyawan. Anehnya Depkop Wonogiri tidak memberi teguran ketika baru 9 bulan berjalan koperasi tersebut sudah membuka cabang di Jatisrono. Sesuai aturan, minimal 2 tahun koperasi baru bisa membuka cabang. Jika hal ini dibiarkan, selain merugikan pemerintah juga koperasi murni yang modalnya jauh lebih kecil. Di Purwantoro atau Jatisrono banyak koperasi murni yang modalnya kecil. Anggotanya para perajin mete, kerupuk, mebel. Koperasi kecil-kecil ini sulit melanjutkan usaha, kalau KSP membabat habis nasabah di daerah tersebut dengan berbagai kemudahan yang ditawarkan. Pengamatan saya, Bank Kredit Kecamatan (BKK), Danamon Simpan Pinjam (DS) atau BPR BPD pun kuwalahan bersaing dengan KSP. Nah kalau wajah perkoperasian masih seperti ini, layakkah Wonogiri dijadikan proyek percontohan koperasi di Indonesia?. Yusuf Subandi |