logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 01 Agustus 2005 WACANA
Line

tajuk rencana

Para Pemimpin ASEAN Perlu Berintrospeksi

- ASEAN Regional Forum (ARF) mengalami langkah mundur, menyusul ketidakhadiran wakil tiga negara besar yang menjadi mitra penting ASEAN. Menlu AS Condoleezza Rice menyatakan tidak bisa hadir, dengan dalih sibuk menjalani misi penting di Timur Tengah. Menlu Jepang Nobutaka Machimura mengaku sibuk melakukan lobi di New York untuk mendapatkan kursi tetap Dewan Keamanan. Sedangkan Menlu China Li Zhaoxing membatalkan partisipasinya pada pertemuan ARF di Vientiane (ibu kota Laos) itu, karena tampaknya lebih mementingkan kunjungan ke Yangon untuk berunding dengan junta militer yang berkuasa. Tanpa kehadiran ketiga menlu tersebut, pertemuan tahunan untuk membahas keamanan Asia-Pasifik itu pun terasa tanpa makna.

- Ujian selanjutnya bagi ASEAN adalah tahun depan, saat para pemimpin negara-negara di kawasan itu mengadakan KTT. Akankah para pemimpin AS, China, dan Jepang juga tidak hadir pada konferensi tingkat tinggi tersebut? Jika ya, signifikansi dari eksistensi ASEAN pun patut dipertanyakan. Ironisnya, kemunduran tersebut terjadi setelah Myanmar - yang keanggotaannya di ASEAN dipersoalkan oleh para mitra perhimpunan itu - memutuskan melepas hak untuk menjadi ketua (bergilir) ASEAN pada 2006. Para mitra, khususnya AS dan Uni Eropa (UE), sejak lama tidak menyukai rezim militer yang berkuasa di Yangon karena dianggap antidemokrasi. Lima belas tahun lamanya Aung San Suu Kyi, pemimpin oposisi yang prodemokrasi, ditahan rumah.

- ASEAN dalam 10 tahun terakhir telah berkembang dari organisasi dengan isu-isu regional ke arah eksistensi yang diperhitungkan kelompok regional lain. Isu yang dibahas pun menjadi bersifat internasional. Selama satu dasawarsa, setiap pertemuan baik pada tingkat kepala negara/kepala pemerintahan maupun tingkat pejabat tinggi, selalu melibatkan mitra-mitra. Selain UE dan AS, ada Korsel, Korut, Jepang, India, dan China. Permasalahan serius kemudian muncul, setelah UE dan AS belakangan mengaitkan isu HAM dan demokrasi pada setiap kerja sama yang akan dijalin. Apalagi setelah Myanmar bergabung sebagai anggota ke-10 ASEAN. Mereka menebar ancaman, menjelang masa giliran Yangon untuk memegang tampuk kepimpinanan.

- Untung dengan kesadaran sendiri dan demi menjaga martabat ASEAN, Myanmar akhirnya melepas peluang untuk menjadi ketua bergilir. Yangon tampaknya menyadari lebih pentingnya hubungan ASEAN dengan para mitra daripada ambisinya sendiri untuk menjadi ketua. Praktis Filipina - yang pemerintahannya saat ini sedang dilanda krisis kepemimpinan - bakal menggantikan posisi Myanmar, sesuai dengan giliran yang telah ditetapkan. Untuk langkah positif junta yang berkuasa di Yangon itu, ASEAN patut berterima kasih, tanpa mengecilkan arti permasalahan menyangkut nasib Suu Kyi dan para pemimpin oposisi yang lain. Tentu lebih bagus kalau junta juga membebaskan tokoh prodemokrasi tersebut, dan mengubah haluan menuju jalan demokrasi.

- Sayang, pengorbanan Myanmar seperti tidak ada artinya ketika para menlu AS, China, Jepang - kemudian juga Menlu India - tidak menghadiri pertemuan ARF. Kelihatannya ada yang salah dengan cara ASEAN memberdayakan diri untuk menjadi perhimpunan yang eksistensinya penting bagi para anggotanya, negara lain, atau perhimpunan lain. Para mitra rupanya menganggap ASEAN lebih banyak berbasa-basi dan terkungkung dalam generalitas daripada berupaya ''mendapatkan hasil yang bermanfaat''. Para pemain luar itu jelas ingin membicarakan substansi dan membahas hal-hal konkret yang dapat dirasakan faedahnya bagi semua pihak. Kini ASEAN harus membayar mahal pembinaan hubungan atas dasar formalitas belaka itu.

- Para pemimpin ASEAN harus mengkaji ulang apa yang telah dicapai selama ini, dan melakukan introspeksi. Tanyalah diri sendiri, apakah perhimpunan tersebut sungguh mendatangkan manfaat. Yang orang awam lihat adalah, jangankan membina kerja sama dengan negara atau kelompok lain, menjalin hubungan baik di kalangan anggota sendiri saja kelihatan sulit sekali. Tengoklah ketegangan hubungan RI-Malaysia menyangkut kedaulatan beberapa pulau, konflik Malaysia-Singapura mengenai banyak isu, kurang harmonisnya hubungan RI-Singapura, dan kecurigaan Thailand tentang kemungkinan dilindunginya kaum militan oleh tetangganya di selatan itu. Bersatu dan kompaklah lebih dulu, sebelum menjalin hubungan dengan pihak lain!


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA