| Senin, 01 Agustus 2005 | WACANA |
tajuk rencanaDi China, SBY Menangguk Investasi Besar- Kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke China membawa berkah dan hasil yang cukup meyakinkan. Ibarat jaring disebar, banyak ikan didapat. Lewat lawatannya ke negara raksasa ekonomi baru yang nyaris tertunda itu, SBY berhasil menangguk investasi baru senilai 7,5 miliar dolar AS atau sekitar Rp 68 triliun. Tentu semua itu baru sebatas komitmen ataupun hasil kesepakatan kerja sama dengan sejumlah pengusaha di sana. Sebagian di antaranya bisa jadi bukan hasil rintisan baru, melainkan sudah lama direncanakan. Meskipun demikian, dilihat dari sudut pandang kepentingan ekonomi, apa yang dihasilkan oleh Presiden setelah beberapa hari di China patutlah disambut lega. Investasi baru akan berdatangan khususnya di bidang infrastruktur. - Kunjungan ke China amatlah strategis mengingat pentingnya posisi dan peran negara tersebut dalam kancah perekonomian global, khususnya Asia. Bagi kita, China adalah negara yang memberikan banyak pengaruh dalam hubungan dagang. Betapa banyak barang produksi mereka yang membanjiri pasar domestik, kita semua telah tahu. Masalahnya kemudian, berapa banyak barang dan jasa kita yang bisa menembus pasar mereka. Karena itu akan menentukan posisi neraca pembayaran. Saat ini nilai perdagangan kedua negara masih sekitar 9 miliar dolar AS. Tahun 2010 direncanakan meningkat hingga 30 miliar dolar AS. Sebuah kenaikan yang relatif tinggi dan karena itu memerlukan kerja keras khususnya di kalangan pelaku ekonomi. - Bagi Indonesia tidak ada ruginya, bahkan sangat menguntungkan membuka hubungan ekonomi dengan China. Mereka memiliki pasar domestik dengan kekuatan penduduk 1,3 miliar. Meskipun negeri itu juga sudah menjadi macan ekonomi karena produk-produknya menjelajah dan menguasai pasar dunia, termasuk Indonesia. China tetap merupakan faktor penentu kekuatan ekonomi regional. Dengan angka pertumbuhan ekonomi lebih 9 persen dan stabilisasi nilai tukar mata uang yuan yang cukup meyakinkan, kendati baru-baru ini agak goyah, rasanya tak ada kekuatan mana pun di dunia ini yang mampu menandingi agresivitasnya. Maka sangatlah rugi meninggalkan mereka dan sebaliknya berusaha menarik investasi dari sana sangatlah dibutuhkan. - Menurut apa yang dilaporkan Presiden SBY kepada pers mengenai hasil kunjungannya ke China, kebanyakan investasi yang akan masuk merupakan proyek infrastruktur dengan nilai investasi miliaran dolar AS. Sebagai contoh, investasi pembangunan refineri dan eksloitasi migas, pembangunan PLTU di Muara Enim Sumatera Selatan yang akan memproduksi listrik dengan kapasitas 4 x 600 Mega Watt (MW) dan pembangunan sarana transportasi jalan kereta api untuk pengangkutan batu bara di Sumatera Selatan, serta yang terkait dengan Jawa Tengah adalah investasi PLTU Tanjung Jati A dengan nilai transaksi 1,1 miliar dolar AS dan produksi listrik 2 x 660 MW. Di samping yang sudah disebutkan itu, masih banyak lagi komitmen kerja sama investasi yang ditandatangani. - Begitu penting pembangunan infrastruktur di Indonesia saat ini. Lebih-lebih untuk kebutuhan energi listrik saja kita sekarang sudah kewalahan melayani permintaan. Ketersediaan infrastruktur termasuk prasyarat mendasar dalam pembangunan ekonomi. Bila Presiden langsung turun tangan tentu memberikan bobot tersendiri dan sebagai payung atas kerja sama yang telah ditandatangani baik antara kedua negara maupun dengan pengusaha dan calon investor asing, termasuk lembaga keuangan. Hal itu penting mengingat selama ini kesepakatan kerja sama tak selalu menjamin pelaksanaannya mulus di lapangan. Berbagai hambatan dijumpai mulai dari soal perizinan, pembebasan lahan, ketidakjelasan aturan, dan sebagainya. Apabila proyek dilaksanakan di daerah, kerumitan bisa bertambah lagi. - Maka kedatangan SBY ke sana diharapkan bisa menjadi jaminan kelancaran urusan. Dengan demikian, tak ada sedikit pun keraguan dan kita bisa berharap semoga investasi itu segera direalisasi. Haruslah diingat dalam konteks penarikan investasi, kita berada pada posisi yang tidak sendiri. Persaingan begitu tajam termasuk dengan negara tetangga seperti Vietnam atau Thailand. Sementara ibarat bunga yang sedang mekar, China selalu menjadi daya tarik bagi negara lain termasuk potensi investasinya yang luar biasa. Bagaimana kelak realisasinya akan sangat bergantung pada pelaksanaan di lapangan. Hal itulah yang terkadang menimbulkan kekhawatiran, mengingat kita sering berbenturan dengan masalah-masalah teknis yang mengganjal. |