| Senin, 01 Agustus 2005 | NASIONAL |
Bergelut dengan Bahaya demi Rp 40.000SUPARDI berjalan tergesa-gesa. Sesekali keringat yang membasahi kening diseka dengan baju lusuhnya. Lelaki itu tak dapat menyembunyikan kegelisahan ketika memandangi bukit Maskumambang. Di bawah bukit yang baru saja menewaskan empat orang itu, kini disesaki warga yang ingin melihat proses evakuasi. Supardi yang selamat dari longsoran tebing bukit itu tampak cemas. ''Kulo madosi pak polisi, kersane ngusir tiyang-tiyang ingkang sami nonton wonten ngandap mrika. Kulo miris, menawi mangke rontok malih (Saya mencari pak polisi, untuk mengusir orang-orang yang pada menonton di bawah sana. Saya takut, kalau nanti runtuh lagi) ,'' ujarnya gugup. Kekhawatirannya tak berlebihan, sebab tebing yang membentang sepanjang lebih dari 20 km itu baru saja runtuh. Batuan dan tanah bukit itu menimbun empat pekerja dan tiga truk yang akan mengangkut material. Bupati Grobogan H Agus Supriyanto SE bahkan menyatakan segera menindaklanjuti kejadian tersebut. ''Pemerintah sigap menangani hal ini. Saya sudah memerintahkan Tim Bencana Alam Grobogan untuk menanganinya,'' katanya. Namun warga seolah tak menghiraukan peringatan polisi. Mereka tetap tak beranjak dari reruntukan untuk menyaksikan proses evakuasi. Padahal, bagian atas bukit sudah retak. Bongkahan bebatuannya bisa runtuh kapan saja karena bagian dasar bukit itu sudah koyak dikikis para penambang. ''Biasanya kami bersyukur kalau tebing itu runtuh. Tapi sekarang kami sedih karena reruntuhan itu menimbun dan mengakibatkan empat orang tewas,'' kata Masduki, penambang lain yang juga selamat. Tak jauh dari tempat kejadian, di rumah berdinding kayu, Marjimah (55), duduk di lantai. Pandangannya tampak sayu, seolah kejadian pagi itu masih terngiang dibenaknya. Wanita yang mengaku sudah hampir 10 tahun bekerja menggali batu kapur itu sepertinya tidak percaya dengan kejadian itu. ''Selama menambang, baru kali ini ada kejadian seperti ini,'' katanya. Ya, sejak puluhan tahun lalu, bukit kapur itu menjadi sandaran hidup ratusan warga Tanggungharjo. Masduki, Supardi, dan Marjimah adalah sebagian dari puluhan penambang yang menggantungkan hidup dari pekerjaan itu. Mereka hanya bekerja di penambangan manakala tidak ada pekerjaan di sawah. Sebaliknya, ketika musim tanam atau panen tiba, mereka bekerja sebagai buruh tani. Saat tak ada pekerjaan di sawah, Supardi bekerja pada H Kasno. Pemilik sebagian tebing Maskumambang itu memiliki sekitar enam hektare tebing yang digali para penambang. Setiap pagi, sekitar 20-30 pekerja membuat lubang-lubang mirip terowongan di tebing itu. Jika material sudah terkumpul, penambang menjual material pada truk yang datang. Batu kapur itu kemudian dikirim ke Desa Mrisi dan Kapung, untuk dibakar menjadi gamping. ''Setunggal truk regine Rp 40.000, ning dipotong Rp 10.000 kangge ingkang gadhah panggen (Satu truk harganya Rp 40.000, tapi dipotong Rp 10.000 untuk pemilik tambang),'' kata Supardi. Namun demikian, tak setiap hari penambang bisa mengumpulkan batu hingga satu truk. Supardi yang bekerja dengan seorang anak lelakinya mengaku rata-rata baru bisa mengumpulkan satu truk batu dalam 2-3 hari. Namun pekerjaan itu tetap dilakoninya karena tak ada pekerjaan lain. Untuk menopang hidup, para penambang terpaksa mengutang bahan makanan dari pemilik warung setempat. Utang itu baru dibayar ketika batu kapur terkumpul dan berhasil dijual. Karena sudah puluhan tahun digali, tebing Maskumambang tampak sangat curam, bahkan nyaris tegak lurus dengan tanah. Pada tahun 1994, tebing Maskumambang pernah runtuh dan menewaskan dua orang pekerja. Namun penambangan bukit itu terus berjalan. Seperti dikatakan Supardi, warga tak punya pilihan lain kecuali menggeluti pekerjaan yang lekat dengan marabahaya itu. (Ninik Damiyati, Aris Mulyawan-46v) |