| Senin, 01 Agustus 2005 | NASIONAL |
Persija Memang Magnet Kompetisi
PERTANDINGAN PSIS lawan Persija Jakarta Pusat pada sore kemarin di Stadion Jatidiri memang sudah ditunggu-tunggu penggemar sepak bola Semarang. Pasalnya, kedua tim tersebut merupakan penghuni papan atas Wilayah I. Apalagi, Persija bukan tim sembarangan. Hampir semua pemainnya berkualitas dan pernah bergabung dengan tim nasional. Tak heran, pertandingan sore itu menjadi daya tarik tersendiri bagi penonton untuk berbondong-bondong datang ke Stadion Jatidiri. Agaknya anak-anak Ibu Kota memang menjadi pusat perhatian penikmat kompetisi domestik musim ini. Ketika mereka bertandang ke Bandung pada putaran pertama, Stadion Siliwangi juga penuh sesak. Penonton pun meluber sampai ke pinggir lapangan. Bahkan ketegangan terjadi di akhir pertandingan. Tiga minggu lalu ketika bertanding di Malang untuk menghadapi Arema, 60 ribu penonton menyaksikan pertandingan itu. Panpel Arema sudah memperkirakan Stadion Gajayana tak sanggup menampung penonton yang bakal hadir. Karena itu mereka memindahkan pertandingan ke Kabupaten Malang. Stadion Kanjuruhan yang berkapasitas sekitar 50 ribu penonton jadi pilihan. Namun, nama besar Persija membuat penonton yang hadir mencapai 60 ribu orang. Panitia sampai harus menutup pintu, sekalipun masih banyak penonton berkarcis yang tak bisa masuk. Peristiwa tragis terjadi. Seorang suporter Arema meninggal dan belasan lainnya luka-luka ketika mereka berdesak-desakkan. Apa yang terjadi di Stadion Jatidiri kemarin makin mengukuhkan reputasi Persija sebagai magnet kompetisi musim ini. Para penonton sudah memadati stadion pada pukul 13.00 WIB. Tempat Parkir sepeda motor dan mobil di sekitar stadion pun penuh sesak. Bahkan deretan kendaraan itu hampir memenuhi separo jalan masuk ke kompleks GOR Jatidiri. Pada pukul 14.00, tribune-tribune sudah penuh sesak. Sebagian penonton akhirnya turun ke sintelban. Tertib Petugas keamanan tidak mampu membendung arus suporter yang terus turun dari tribune timur. Perlahan namun pasti, mereka merangsek maju hingga di belakang gawang. Menjelang kick-off, hampir seluruh sintelban tertutup lautan manusia. Meski demikian, pertandingan tetap dilaksanakan. Mereka ternyata memang tidak mengganggu jalannya permainan. Jumlah yang mencapai sekitar 40 ribu orang merupakan rekor tersendiri bagi PSIS selama berlaga di Stadion Jatidiri. Jumlah tersebut belum termasuk penonton yang ada di luar stadion karena tidak bisa masuk. ''Ini merupakan rekor baru di Stadion Jatidiri. Kami sampai pusing mengaturnya. Namun, syukur, penonton bisa tertib,'' ungkap Ketua Panitia Pelaksana Pertandingan PSIS Ir Dedy Satria Budiman. Sebelumnya, rekor penonton terjadi saat PSIS lawan Arema Malang di KLI IX lalu. Jumlah penonton saat itu diperkirakan 35 ribu orang. Pada pertandingan yang berakhir 0-0 tersebut, penonton juga masuk ke sintelban. Namun, mereka tidak sampai memenuhi tempat tersebut. Hanya saja, meski jumlah penontonnya banyak dan meluber hingga sintelban, pertandingan antara PSIS lawan Arema di KLI IX dan PSIS lawan Persija di KLI XI berlangsung aman. Tidak ada kerusuhan atau keributan antarpenonton. Padahal, kedua pertandingan tersebut sama-sama didatangi suporter tamu, yaitu Aremania dan Jakmania. Namun, penonton PSIS dan kedua kelompok suporter tamu itu bisa berlaku simpatik dan penuh persahabatan. Bandingkan dengan pertandingan saat lawan Persijap Jepara di Piala Indonesia lalu. Meski jumlah penontonnya hanya sekitar 20 ribu orang, namun kerusuhan tetap terjadi. Begitu pula saat pertandingan delapan besar Kompetisi Divisi I 2001 lawan Perserang Serang. Jumlah penonton saat itu tidak sebesar saat lawan Arema maupun Persija. Namun, karena kecewa dengan penampilan PSIS, suporter marah dan melakukan perusakan-perusakan fasilitas di Stadion Jatidiri. ''Kami sempat khawatir pertandingan akan rusuh. Sebab, penonton sudah meluber sampai ke sintelban. Tapi, kekhawatiran itu lenyap dengan kemenangan yang diraih PSIS,'' terang Dedy yang juga menyatakan terima kasih kepada masyarakat Semarang atas ketertibannya saat menyaksikan pertandingan tersebut. Dengan jumlah penonton sebanyak itu, pendapatan dari penjualan tiket meningkat. Target panpel Rp 180 juta terlampaui. Di pertandingan itu pendapatan mereka mencapai Rp 275 juta. Jumlah tersebut juga memecahkan rekor pendapatan yang sebelumnya diraih saat pertandingan PSIS lawan Arema pada KLI IX. Ketika itu terkumpul Rp 222 juta. ''Jika melihat jumlah penonton serta tiket yang dicetak habis, bisa dipastikan hasil penjualan tiket di pertandingan ini di atas rekor pemasukan saat PSIS lawan Arema,'' tegasnya. (Budi Winarto, Abduh Imanulhaq-22) | ||||