logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 01 Agustus 2005 EKONOMI
Line

Insider Trading dan Strategi Perusahaan

ADA apa sebenarnya yang terjadi pada perusahaan Sari Husada sehingga harga sahamnya di bursa efek terlihat sangat fluktuatif. Pada hari belakangan ini, isu yang mengemuka yaitu pada saham perusahaan Sari Husada kemungkinan terjadi peristiwa Insider trading atau transaksi semu.

Insider trading atau transaksi semu akan terjadi, bila pihak orang dalam perusahaan mengungkapkan informasi yang sebenarnya bersifat rahasia mengenai kondisi dan informasi perusahaan kepada pihak lain. Perusahaan mempunyai informasi yang sangat bernilai yang belum diungkapkan kepada umum. Rahasia perusahaan itu merupakan sesuatu yang harus dijaga oleh orang dalam yang telah dipercaya oleh Perusahaan.

Telaah teoritis dan penelitian emperis pada umumnya mengemukakan bahwa insider trading cenderung akan meningkatkan volume perdagangan dan harga saham di bursa efek. Adanya insider trading membuat harga sahamnya di bursa efek menjadi bergejolak. Indikasi adanya insider trading yaitu adanya informasi yang tidak berimbang antara pihak orang dalam yang melakukan perdagangan dengan pelaku pasar yang lain.

Pada tanggal 1 Juli 2005 harga saham PT Sari Husada (SHDA) di bursa efek Jakarta pada posisi Rp 1.975,- per lembar saham. Tidak lama kemudian, harga saham Sari Husada mencapai puncaknya pada 27 Juli 2005 yang mencapai posisi Rp 2.925,- per lembar saham. pada hari bursa akhir pekan lalu harga saham Sari Husada ditutup turun menjadi Rp 2.600,- per lembar saham. Harga sahamnya di bursa terlihat volatil, naik turun secara signifikan.

PR Sari Husada merupakan perusahaan penghasil makanan bayi dan susu terutama dengan trade mark susu SGM. Pada akhir tahun 2003 perusahaan PT Sari Husada telah melakukan strategi ESOP. Strategi ESOP atau strategi Employee Stock Option Plan merupakan strategi perusahaan yang memberikan opsi atau fasilitas bagi karyawannya untuk dapat ikut memiliki saham perusahaan (SM 18/7/05). Pada strategi ESOP seharusnya berlaku ketentuan jangka waktu untuk dapat menjual kembali. Peserta ESOP mendapat diskon harga saham tetapi terikat dengan kewajiban untuk tidak menjual kembali selama jangka waktu tertentu, misalnya 1 tahun. Pada program ESOP PT Sari Husada, ada sementara pihak yang mempertanyakan apakah ada ketentuan tentang jangka waktu tersebut. Bila tidak, dikhawatirkan saham program ESOP yang semestinya dimiliki oleh karyawan ternyata sudah dijual atau berada ditangan fihak-fihak lain.

Pemecahan Saham

Menyusul kemudian, strategi stock split atau pemecahan saham, telah dilakukan pada tahun 2004. Ketika itu harga sahamnya sangat tinggi lebih dari Rp 20.000,- per lembar saham. Oleh sebab itu harga sahamnya menjadi kurang terjangkau oleh para investor dan sahamnya menjadi kurang likuid dalam perdagangan di bursa efek. Untuk mengatasi hal tersebut pihak manajemen Sari Husada melakukan strategi stock split dengan rasio 1:10. Artinya 1 saham lama disetarakan menjadi 10 saham baru dengan harga penyesuaian yang lebih dapat terjangkau oleh masyarakat investor.

Strategi buy back juga dilakukan oleh pihak manajemen perusahaan atau oleh pemegang saham institusi lama yang ingin menambah jumlah kepemilikan saham PT Sari Husada. Strategi buy back atau pembelian kembali saham pada umumnya dilakukan dengan harga yang relatif lebih tinggi dari harga eksisting di bursa. Dengan demikian adanya program buy back, harga saham yang terjadi di bursa efek akan menyesuaikan dan akan cenderung naik relatif sama dengan harga yang disepakati pada program buy back.

Pada saat ini pemegang saham mayoritas PT Sari Husada dikuasai oleh NV Royal Numiko sebagai suatu perusahaan yang berkedudukan di negeri Belanda. NV Royal Numiko yang sudah memiliki sekitar 81% saham PT Sari Husada, bermaksud menambah lagi sebesar 5% kepemilikannya.

Rencana tersebut akan direalisasikan terhitung mulai tanggal 20 Juli 2005 dengan harga pembelian Rp 3.500,- per lembar saham. Harga pembelian kembali tersebut berarti lebih tinggi dari harga saham terakhir di bursa Rp 2.600,- (29/7/05).

Strategi ganda yang telah dilakukan berupa stock split. ESOP dan buy back melibatkan berbagai pihak stakeholder diantarnya pihak perusahaan, manajemen, pemegang saham dan para karyawan. Apakah strategi ganda yang telah dilakukan tersebut dapat dinyatakan berhasil dengan baik? Tergantung, apakah dengan strategi tersebut memberikan kemanfaatan yang berimbang bagi pihak perusahaan, manajemen, pemegang saham dan para karyawan. Pihak perusahaan dan manajemen telah merasakan kemanfaatan dari strategi tersebut berupa peningkatan value atau nilai perusahaan. Ditinjau dari pihak pemegang saham pada umumnya juga merasakan kemanfaatan dari strategi tersebut berupa peningkatan return atau harga sahamnya di bursa efek.

Bila stakeholder lainnya yaitu fihak karyawan ternyata merasa mendapatkan kemanfaatan dari strategi tersebut maka dapat dikatakan strategi ganda tersebut berhasil. Namun demikian bila karyawan merasa tidak menerima kemanfaatan secara proporsional maka berarti implementasi strategi tersebut belum dapat berjalan sebagai mana mestinya.

Bappepam selaku otoritas bursa saat ini sedang menyelidiki apakah pada implementasi strategi tersebut terdapat peristiwa insider trading. Bila dinyatakan tidak terjadi insider trading maka para investor masih akan dapat menikmati peluang keuntungan dan harga sahamnya di bursa akan dapat naik lagi.

(Sugeng Wahyudi, dosen pada Program Doktor Ilmu Ekonomi FE Undip Semarang-59)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA