logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 01 Agustus 2005 BANYUMAS
Line

Aparat Perhutani Dimintai Keterangan

PURWOKERTO- Setelah pembalakan liar di Majenang terbongkar, Perhutani KPH Banyumas Barat mengecek ke lokasi. Memang benar terjadi penebangan liar di hutan pinus Pasir Dandang, Majenang.

''Kami mengecek untuk memastikan berapa pohon pinus yang ditebang secara liar serta memastikan apakah ada aparat Perhutani terlibat atau tidak. Ternyata tak ada aparat Perhutani terlibat. Dua karyawan Perhutani di Majenang memang dipanggil ke Polwil. Namun mereka hanya dimintai keterangan sebagai saksi,'' kata Ajun Administratur Majenang KPH Banyumas Barat Erwin.

Sebelumnya diberitakan (Kamis, 27/7), Tim Resmob Polwil Banyumas membongkar pembalakan liar di Majenang. Polisi menangkap tiga orang tersangka, yakni Yulianto, Agus Priyono, dan Yani asal Majenang. Polisi juga menyita 162 batang pinus yang diduga hasil jarahan.

Erwin menyatakan dalam pengecekan ada 15 tunggak pinus di Pasir Dandang ditebang secara liar. Kayu itu setara 8,87 m3. ''Kerugian memang tak terlalu besar. Namun bila tak ditindak, aksi itu bisa meluas.''

Sebab di lokasi lain di BKPH Majenang juga ada pinus ditebang secara liar. Sampai pertengahan Juli pinus milik Perhutani di Majenang yang dicuri 32 pohon dengan total kerugian Rp 9,42 juta.

''Pencurian di Majenang beberapa bulan terakhir ini menurun drastis, antara lain karena keberadaan lembaga masyarakat desa hutan (LMDH) yang mengelola hutan bersama Perhutani. Masyarakat marah bila ada orang mencuri kayu di hutan karena jelas merugikan mereka,'' ujar dia.

Meski pencurian menurun, ujar dia, dampak penjarahan hutan tahun 1998-2000 di KPH Banyumas Barat sampai saat ini masih terasa.

Kini banyak hutan gundul. KPH Banyumas Barat tahun ini akan menanami kembali hutan gundul 1.094 ha di delapan bagian kesatuan pemangkuan hutan (BKPH).

''Mudah-mudahan penghijauan rampung tahun 2008,'' kata Erwin, didampingi Hubungan Masyarakat Dwi Edi Prihartadi.

Kini, kata dia, Perhutani tak bisa seenak hari menebang habis pohon pinus tanpa rekomendasi Bupati. Tahun ini pohon pinus di hutan produksi KPH Banyumas Barat yang ditebang hanya sekitar 20.000 m3.

''Permintaan akan kayu pinus banyak. Namun karena produksi terbatas, para pengusaha kami sarankan mengambil kayu rakyat seperti albasia sebagai pengganti.'' (G23-53)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA