logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 30 Juli 2005 PANTURA
Line

''Saya Takut dan Ngeri...''

DENGAN mata menerawang, Waspodo mengisahkan peristiwa yang terjadi Rabu lalu yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Ancaman akan dibunuh penjahat dengan golok yang ditempelkan di leher terus melekat dalam pikirannya.

''Saya terus berdoa kepada Allah agar melindungi saya dan Warsito. Selain itu, segera mendapat pertolongan,'' ungkap dia saat ditemui di Ruang Satreskrim Mapolres Batang, siang kemarin.

Dia didampingi Warsito, familinya yang menjadi kernet, meluncur dari kawasan industri Pulogadung pukul 16.00. Kemudian masuk Jl Tol Cikampek.

Sekitar pukul 21.00 saat menyusuri jalan raya pantura, Ciasem, Subang, salah satu roda mobilnya kempis sehingga ia harus berhenti untuk menambalkannya. Setelah berjalan lagi selama satu jam, ia berhenti untuk makan malam. Seusai

makan malam perjalanan mengangkut onderdil sepeda motor ke Surabaya itu pun ia lanjutkan kembali. Namun, Waspodo mengaku badannya terasa letih dan mengantuk. Karena itu, dia bermaksud istirahat sebentar. Akhirnya dia memilih parkir di salah satu SPBU di daerah Losarang, Kabupaten Indramayu.

''Setelah makan di salah satu warung di Ciasem, badan terasa letih dan mengantuk. Karena sudah berkali-kali melakukan perjalanan pergi-pulang Jakarta-Surabaya dan belum sempat istirahat, saya memutuskan untuk istirahat di SPBU Losarang,'' ujar dia.

Ia tidak curiga bahwa bahaya mengancam karena saat itu di SPBU ada empat kendaraan yang sama-sama sedang istirahat.

Namun saat dia terlelap di dalam kabin, tiba-tiba dia dikejutkan oleh kedatangan orang yang langsung menyekap dirinya. Dengan sebilah golok yang ditempelkan di leher Waspodo, penjahat itu mengancam. ''Berteriak saya bunuh kamu!'' ujar Waspodo menirukan penjahat tersebut.

Empat Orang

Penjahat itu ada empat orang. Salah seorang kemudian menutup mulutnya dengan lakban, sedangkan tangannya diikat dengan tali sepatu. Selang beberapa saat, dia mengetahui ada orang yang dimasukkan ke dalam truk, ternyata Warsito.

Setelah itu, truk pun dijalankan penjahat. Di antara mereka mengakui pernah membunuh seorang sopir truk yang dirampoknya.

''Kamu melihat acara patroli di televisi yang menayangkan sopir truk dirampok kendaraanya dan sopirnya dibunuh, sayalah pelakunya,'' kata Waspodo, menirukan ucapan salah seorang penjahat itu.

Dia menjelaskan, penjahat itu menggunakan bahasa Indonesia dengan dialek Jawa Timur. Setelah berjalan sekitar 15 menit, kendaraan dihentikan.

''Saya merasa dipindah ke kendaraan lain. Setelah itu perjalanan dilanjutkan, tapi saya tidak tahu ke mana karena mata tertutup dan mulut disumbat.''

Setelah itu, dia bersama Warsito diajak turun dari mobil kemudian berjalan kaki. Setelah beberapa menit, keduanya lalu ditinggalkan penjahat dalam keadaan mulut dan mata tertutup dan kedua tangan terikat.

''Saya benar-benar takut dan ngeri merasakan golok yang selalu ditempelkan di leher. Alhamdullilah, Allah masih melindungi saya dan Warsito.'' (Arif Suryoto-19n)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA