logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 30 Juli 2005 SEMARANG
Line

Pengunjung Sepi Superdome Tutup

SEMARANG - Pengunjung yang sepi dalam setahun belakangan ini, membuat pemilik diskotek Superdome (SPD) Klab menutup usahanya. Akibatnya, karyawan diskotek di Jalan Jenderal Sudirman 203-205 Semarang itu harus kehilangan mata pencahariannya. SPD Klab yang menaungi tempat usaha diskotek, karaoke, dan biliar tutup sejak 26 Juli lalu.

Menurut keterangan pemiliknya, Setyabudhy Irawan Tjokrohandoko, usahanya mengalami kerugian sejak setahun lalu. SPD Klab beroperasional sejak 1990, awalnya bernama Superdome. Selama hampir 15 tahun, diskotek tersebut telah mempekerjakan 120 orang. Karyawan yang bekerja sebagai staf administrasi berjumlah 70 orang, di tempat biliar (20), dan pramuniaga diskotek (28).

Dia mengakui, berbagai usaha telah dilakukan untuk memperbaiki kondisi keuangan perusahaan agar dapat bertahan lebih lama. Salah satunya adalah dengan mengubah konsep diskotek yang dia kelola dari house music menjadi tempat hiburan yang menyuguhkan musik dangdut. Untuk tempat biliar, harganya pun sudah diturunkan dari harga pasar.

Namun, berbagai upaya itu tidak membuahkan hasil. "Kalau tidak ditutup, saya justru mempunyai tanggung jawab dan beban yang lebih besar soal pendanaan. Sebab, dana untuk pesangon karyawan kan juga besar," ujarnya.

Dia menampik berita yang mengabarkan penutupan diskotek miliknya itu karena ada penemuan soal peredaran narkoba di SPD Klab. "Penutupan ini murni karena kami merugi, bukan masalah lain," tandasnya.

Konsep Hiburan

Sepinya pengunjung tersebut, tutur Irawan, karena beralihnya konsep hiburan yang disukai masyarakat saat ini. "Mungkin masyarakat menyukai tempat hiburan yang menawarkan konsep keluarga. Mereka menyukai sesuatu yang baru."

Dengan penutupan SPD Klab, bangunan berlantai tiga yang selama ini berfungsi sebagai tempat biliar dan sebuah gedung untuk diskotek itu dibiarkan kosong. ''Saya belum tahu, mau difungsikan untuk apa nantinya."

Salah seorang karyawan yang dikenai PHK, Suhadjito, memaklumi kebijakan perusahaan. "Yang dilakukan pimpinan sudah tepat, kami bisa memahami kondisi keuangan perusahaan," ucapnya.

Menurut penuturannya, pria beranak dua itu sudah bekerja di SPD Klab 10 tahun sebagai accounting manager. "Saya belum dapat pesangon, mungkin beberapa hari lagi. Saya juga belum tahu mau kerja di mana lagi untuk menghidupi keluarga," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Kota Semarang Drs H Agus Sudarmadji MM mengemukakan, pihaknya sudah memberi surat perpanjangan izin pengelolaan kepada SPD Klab. Akan tetapi hingga batas masa berlaku izin pengelolaan habis, SPD tidak memperpanjangnya. Surat perpanjangan izin pengelolaan tempat hiburan, lanjut Agus, diterbitkan setahun sekali. (fzm-18j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA