logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 30 Juli 2005 SEMARANG
Line

Kerja Sama Kedungsapur Dinilai Mandek

SEMARANG - Kerja sama antara Kota Semarang dan beberapa kabupaten di sekitarnya dalam wadah Kedungsapur (Kendal, Demak, Ungaran, Semarang, Purwodadi), dinilai mandek dan tidak menunjukkan kemajuan. Padahal dengan kerja sama antarwilayah, masing-masing dapat mengembangkan diri.

Penilaian tersebut disampaikan pakar pendidikan pengembangan pembangunan wilayah dan kota Prof Dr Ir Soegiono Soetomo CES DEA, Jumat (29/7), di sela-sela seminar internasional strategi pengembangan wilayah di Gedung Bappeda Jateng Jl Pemuda. Seminar dalam rangka dies natalis ke-48 Undip itu juga mengundang Prof Adrian Atkinson, dosen institut fur stadt-und Regional Planung Technische Universitat Berlin, Jerman. Soegiono mengemukakan, ''kegagalan'' kerja sama wilayah Kedungsapur, karena tidak didasari oleh kesukarelaan.

Kedungsapur dibentuk oleh pemerintah pusat tahun 1988. Namun setelah kesepakatan ditandatangani, masing-masing wilayah tidak mengupayakan agar kerja sama berlanjut dan cenderung mengedepankan ego kewilayahan. ''Perguruan tinggi, hendaknya bisa ikut mendorong agar kerja sama itu bisa tumbuh kembali,'' kata dia.

Hal ini, menurutnya, sangat berbeda dengan kerja sama regional Sapta Mitra di wilayah pantura. Wilayah yang masuk ke dalam kerja sama tersebut adalah Brebes, Kota Tegal, Kabupaten Tegal, Pemalang, Batang, Kabupaten Pekalongan dan Kota Pekalongan.

Menurut pendapat dia, setelah penandatanganan kerja sama, masing-masing wilayah langsung membentuk semacam paguyuban. Bahkan masing-masing sepakat untuk memberikan iuran setiap tahunnya. Contoh kerja sama regional serupa juga dilakukan antara Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap, dan Kebumen (Barlingmascakep).

Ciri Lokal

Sementara itu, Rektor Undip Prof Ir Eko Budiharjo MSc, lebih menekankan pada pembangunan kota tanpa meninggalkan ciri-ciri lokal. Saat ini beberapa kota cenderung berkembang tanpa memperhatikan ciri lokal. Akibatnya, yang muncul kemudian adalah gedung-gedung berbentuk persegi dan kota pun kehilangan identitasnya.

Maka dia sangat mendukung, ketika muncul rencana untuk menjadikan Gedung Lawang Sewu sebagai hotel. Gedung tersebut merupakan bangunan bersejarah yang telah menjadi salah satu ciri Kota Semarang.

Menurutnya, jika menjadi hotel maka beberapa penyesuaian bisa dilakukan. Antara lain memasang AC, lampu-lampu hias, atau membangun kamar mandi di dalam kamar.

Namun secara keseluruhan, ciri gedung itu harus tetap dipertahankan. ''Hotel Lawang Sewu nantinya akan memiliki pangsa pasar sendiri, misalnya pencinta bangunan bersejarah atau turis Belanda yang ingin bernostalgia,'' ujarnya. (G6-60v)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA