logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 30 Juli 2005 EKONOMI
Line

Penjualan Mobil Didominasi lewat Leasing

SEMARANG- Penjualan mobil di Jateng semakin meningkat yang didominasi oleh 2 segmen pasar yaitu pemula (harga mobil Rp 100-130 juta) dan menengah (Rp 150-250 juta). Penjualan itu didominasi oleh leasing yang mencapai sekitar 70-80%.

Hal itu diungkapkan oleh Heribertus Paryanto, Area Service Head-Isuzu Sales Operational Jateng-DIY, dalam diskusi otomotif bersama Astra World "Woman, Car,& Style" di Kafe Segara, Hotel Graha Santika, baru-baru ini.

"Peningkatan penjualan mobil meningkat seiring semakin kompetitifnya perusahaan leasing, banyaknya perusahaan pendanaan di bidang mobil, serta kredit pemilikan mobil yang diluncurkan oleh perbankan," katanya.

Dia mengungkapkan, angka penjualan mobil di Jateng mengalami fluktuasi mulai 2002-2005 ini. Data penjualan 2002-7.845 unit (4.465 unit merupakan mobil non komersial), 2003-8.000 unit (5.385 unit (61,2%) mobil non komersial), 2004-7.094 unit (63,8% mobil non komersial), dan 2005-hingga Juni sebanyak 6.730 unit.

"Penjualan mobil mengalami penurunan pada 2004 akibat adanya Pemilu. Untuk 2005 ini, kami memperkirakan akan mampu mencapai angka penjualan sebanyak 11.000 unit," tuturnya.

Adakah dampak penerapan pajak progressif terhadap penjualan mobil di Jateng? "Hampir tidak ada pengaruhnya. Yang sedikit terkena imbasnya adalah mobil-mobil mewah terutama yang CBU (complete built up)," jawabnya.

Mengenai tren mobil di Semarang, dia menjelaskan, kaum wanita memiliki trauma dengan banjir. "Saat ini, banyak wanita yang lebih memilih mobil-mobil seperti yang disukai kaum pria yaitu besar dan tinggi (grand touring). Mobil itu dipilih agar mudah melintasi daerah banjir," ujarnya.

Konsumen Wanita

Sementara itu, Hotmauli Sidabalok, Pusat Studi Wanita Unika Soegijapranata, mengungkapkan banyak produsen mobil yang belum memikirkan konsumen wanita, padahal perbandingan konsumen pria dan wanita adalah sama.

"Desain mobil dan perlengkapannya, belum mengakomodasi kebutuhan wanita. Contohnya, saat mengemudi, wanita dengan rambut disanggul ataupun dikucir masih mengalami kesulitan mengatur duduknya. Ada lagi, seat belt yang ukurannya tidak memperhatikan struktur tubuh wanita sehingga ketika dipakai justru menyesakkan dada. Mereka (produsen mobil) lupa kalau kita (wanita) punya gunung dua," tuturnya yang disambut canda tawa peserta diskusi.

Lalu, bagaimana kriteria mobil yang sesuai harapan wanita? "Penggunaan bahan bakar yang irit, feasibility (kemudahan), dan safety (keamanan). Wanita membeli mobil berdasarkan kepercayaan. Saat mereka sudah percaya terhadap sebuah mobil (merek/jenis), ketika memutuskan untuk mengganti mobil, maka akan lebih memilih mobil yang sama," tuturnya.(H10-59)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA