| Sabtu, 30 Juli 2005 | EKONOMI |
Pertamina Belum Putuskan Manfaatkan Kilang di JeparaSEMARANG- PT Pertamina menyerahkan sepenuhnya keputusan pada pemerintah untuk mengambil stok bahan bakar minyak (BBM) pada perusahaan kilang minyak baru di Jepara. Selama ini, belum ada pernyataan resmi dari pusat mengenai pasokan di Jateng Utara melalui kilang yang rencananya akan dibangun oleh pihak swasta itu. "Saya malah baru tahu dari koran. Di Tuban memang ada kilang yang dikelola swasta, dan hasil produksi pengilangannya (BBM-red) dibeli oleh pemerintah untuk kebutuhan di daerah sekitar. Tapi, saya belum tahu bagaimana keputusan pemerintah untuk Kilang Jepara, jadi belum berani memberi komentar," ujar I Gusti Bagus Wisnu, Kepala Humas PT Pertamina Unit Pemasaran (UPMS) IV Jateng-DIY, kemarin. Selama ini, pasokan untuk memenuhi kebutuhan BBM di Jateng Utara diambil dari Kilang Cilacap, Balongan, Dumai, Balikpapan, dan Plaju. Sebagian besar pasokan BBM yang didistribusikan berasal dari kilang milik Pertamina dan disalurkan ke Depo Pengapon dari jalur laut (melalui kapal tanker-red). Bila kapal terlambat datang, pasokan dialihkan dari Depo Rewulu Yogyakarta. Dengan kondisi tersebut, suplai BBM dinilai akan lebih terjamin bila pembangunan kilang baru itu bisa terealisasi. Menurut Ketua Hiswana Migas Harsono, makin banyak stok, pemenuhan kebutuhan pun makin aman dari kelangkaan. "Tapi semuanya tergantung Pertamina, akan menggunakan BBM dari kilang itu atau tidak. Selama ini, pengelolaan minyak mentah di Jawa Tengah memang baru dilakukan di Cilacap. Kalau pengelolanya swasta, hasil produksi belum diketahui akan dipakai untuk siapa. Mungkin malah justru bersaing dengan produk Pertamina sendiri," ujar dia. Kapasitas produksi kilang yang rencananya dibangun di kawasan pantai Kecamatan Kedung dan Mlonggo itu berkisar 150.000 barel per hari. Jumlah itu dinilai belum sebesar potensi debit yang dihasilkan Kilang Cilacap. Namun, cukup untuk memenuhi kebutuhan di sisi utara Jawa Tengah. (H12-59) |