logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 30 Juli 2005 BUDAYA
Line

Bayangan Kehidupan "Jawa Nilakandhi"

TAK seorang pun bisa melarang ataupun membendung serbuan budaya asing yang gencar menyerbu Nusantara. Melestarikan budaya sendiri merupakan sebuah keniscayaan yang mesti dilakukan para pengusung sebuah kebudayaan, termasuk budaya Jawa.

Begitulah yang diyakini komunitas Perhimpunan Jawa Gandrung Yogyakarta. Kelompok itu tengah menggagas penerbitan sebuah majalah kebudayaan Jawa, yang bernama Jawa Nilakandhi.

Majalah itu dilahirkan pada 8 Juli lalu, bertepatan dengan 400 tahun pengukuhan kalender Jawa oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo. Rencananya, edisi perdana Jawa Nilakandhi akan diluncurkan di Toko Buku Toga Mas Jalan Gejayan Yogyakarta, Senin (1/8).

"Penerbitan dan penyebaran tentang makna kebudayaan, termasuk kabudayan Jawa, sampai saat ini masih sangat kurang. Majalah kebudayaan merupakan sesuatu yang eksklusif. Perlu tekad kuat dan idealisme yang tinggi untuk mewujudkannya, terlebih melestarikannya," ujar Pemimpin Redaksi Jawa Nilakandhi Ardini Pangastuti, kemarin.

Jawa Nilakandhi diharapkan bisa mengajak pembaca untuk berpikir dan merenungkan kembali nilai-nilai kebudayaan Jawa yang adiluhung dan edi peni. Selanjutnya, mereka mengaktualisasikan nilai-nilai itu dalam kehidupan sehari-hari.

Masihkah budaya Jawa relevan untuk era kesejagatan kini? "Kebudayaan Jawa yang mampu berkembang sampai sekarang merupakan bukti kandungan maknanya masih sinambung dengan laju zaman. Di tengah gencarnya budaya asing menyerbu negeri ini, kita terperangah dan hampir-hampir lupa pada budaya sendiri. Alpa pada jati diri kita sebagai negeri majemuk yang kaya akan kearifan lokal dari pelbagai etnis." Figur Wayang

Untuk sementara, majalah itu direncanakan terbit setiap dua bulan sekali. Materi yang diusung meliputi pelbagai arus pemikiran yang muncul di kalangan masyarakat Jawa dari beragam latar belakang, baik dari masa lalu, sekarang, maupun mewakili harapan di masa mendatang.

"Pada kulit muka (cover) majalah, sebisa mungkin akan menampilkan tokoh atau figur wayang, yang sementara ini disepakati sebagai ikon kebudayaan Jawa. Wayang itu merupakan simbol bayangan kehidupan, wewayanganing ngaurip, untuk tujuan luhur berupa kehidupan yang selaras lahir dan batin," imbuh Ardini. Sastra Jawa akan memperoleh prioritas ruang dalam majalah baru itu, terutama karya-karya ber-genre geguritan, macapat, cerita cekak (cerkak), atau terjemahan dari susastra dunia.

Tentu tak mudah, bagi Jawa Nilakandhi bertahan di tengah cecaran budaya asing. Seperti juga, yang dialami sejumlah majalah Jawa lain semacam Panjebar Semangat, Djaka Lodhang, atau Mekarsari. Tapi paling tidak, niatan untuk tetap nguri-uri kabudayan lewat sebuah penerbitan berkala, tetap patut memperoleh apresiasi. (Achiar M Permana-45)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA