logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 29 Juli 2005 SALA
Line

60 Balita di Sragen Menderita Gizi Buruk

SRAGEN - Dari hasil pendataan Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sragen, terhitung sejak Juli 2005 jumlah anak berusia di bawah lima tahun (balita) yang menderita gizi buruk tercatat 60 anak. Jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya, jumlah tersebut menunjukkan penurunan.

Menurut Kepala DKK, dokter Joko Irnugroho, pihaknya memang telah mengupayakan berbagai tindakan untuk mengurangi jumlah balita penderita gizi buruk. Di antaranya, dengan jalan revitalisasi posyandu untuk memantapkan kegiatan pemantauan maupun deteksi dini penderita gizi buruk.

''Bila ditemukan penderita gizi buruk, kami kemudian langsung memberikan rujukan,'' tutur dia sebagaimana yang diungkapkannya dalam release, kemarin.

Selain itu, masih sebagai upaya mengurangi penderita gizi buruk, pihaknya juga melakukan pemberian makanan tambahan (PMT) dengan bantuan uang Rp 2.500 setiap hari untuk penderita. Juga, meningkatkan sistem kewaspadaan pangan dan gizi (SKPG).

''Kami juga telah membentuk keluarga sadar gizi. Diharapkan, kegiatan itu akan bisa turut memerangi penderita gizi buruk, juga sebagai pemberdayaan kesehatan keluarga,'' ujarnya.

Berkurang

Selain upaya tersebut, DKK juga terus melakukan pemantauan terhadap penderita gizi buruk. Dari hasil pemantauan tersebut, para penderita gizi buruk di Sragen memang terus berkurang jumlahnya.

''Pada Mei tercatat ada 259 balita yang diidikasikan menderita gizi buruk,'' katanya.

Namun, lanjut dia, setelah dilakukan klafisikasi dan pemantauan secara berkala, balita yang menderita gizi buruk hanya 60 anak.

Menurut dia, dalam pengawasan selama dua bulan terakhir ini temuan gizi buruk memang selalu berkembang. Dari 259 balita yang terdaftar, berkembang menjadi 302 anak yang mengalami gizi buruk.

''Ternyata saat dilakukan klasifikasi, tercatat 10 balita yang mengalami gizi buruk telah pindah dari Sragen, dan 20 balita dinyatakan telah sehat. Sebanyak 258 balita lainnya, dalam tahapan perbaikan gizi,'' ujar dia.

Dari data tersebut, maka terhitung sejak pertengahan Juli tinggal 60 balita yang mengalami gizi buruk. Hal itu didasarkan pada jumlah 273 anak yang menderita gizi buruk dikurangi 258 anak yang telah mendapatkan perawatan. Dengan kata lain, jumlahnya terus mengalami penurunan.

Sementara itu, menyinggung tentang kasus yang menimpa Nova Maulana (2), warga Jenggrik, Kedawung, dia menegaskan, itu bukan penyakit busung lapar, melainkan penyakit brongkophonomia atau biasa disebut Ispa (infeksi saluran pernapasan atas). Penyakit tersebut diderita bocah malang itu sejak berumur dua bulan.(G19, Nin-55a)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA