| Jumat, 29 Juli 2005 | PANTURA |
Turun, Produksi Pengeringan IkanPEKALONGAN - Hasil produksi industri pengeringan ikan yang ada di wilayah Pantaisari, Kelurahan Panjang Wetan, Pekalongan Utara, mengalami penurunan. Dari sekitar 50 industri pengeringan ikan yang ada, kini tinggal 10 industri yang masih beroperasi. Hal itu disebabkan oleh sedikitnya jumlah pasokan ikan dari nelayan. Menurut salah satu pengusaha pengeringan ikan di Pantaisari, Juningsih (51), sedikitnya kapal pembawa ikan yang masuk ke pelabuhan mengakibatkan maraknya sistem pembelian ikan di tengah laut. Saat ini, banyak awak kapal yang memilih menjual ikan hasil tangkapannya di laut. Sebab, hal itu dinilai lebih efektif, apalagi tidak kena pajak seperti di tempat pelelangan ikan (TPI). Juningsih menuturkan, biasanya dalam satu hari dia bisa memperoleh 10 ton ikan basah dari kapal-kapal yang masuk. Namun, saat ini dia hanya mampu mendapatkan sekitar empat hingga lima ton. Akibatnya, banyak pesanan dari para pelanggan yang tidak bisa dipenuhi. Penghasilannya pun turun Rp 20 juta. Juningsih menjelaskan, ikan kering yang dihasilkannya biasa dikirim ke luar kota, diantaranya Tasikmalaya, Karawang, Bandung, dan Bogor. Saat produksi normal, dalam sehari bisa mengirim 8 ton hingga 10 ton ikan kering. Namun, karena keterbatasan bahan baku, saat ini hanya mampu memenuhi separo pesanan, yakni sekitar empat ton ikan kering dengan harga Rp 5.000 hingga 10.000 per kilogram. Selain disebabkan oleh penjualan ikan di laut, berkurangnya pasokan ikan untuk industri pengeringan ikan, disebabkan pula karena banyak nelayan yang berganti dari jenis kapal purseseine ke kapal cakalan. Sementara ini, jenis ikan yang dikeringkan antara lain ikan banyar, layang, dan bentong yang biasanya ditangkap dengan kapal purseseine. Namun, karena hasil yang diperoleh saat ini semakin berkurang, banyak nelayan yang berpindah ke kapal cakalan. Pasalnya, kapal cakalan menghasilkan ikan yang lebih besar sehingga dinilai mampu menutup biaya operasional yang semakin tinggi. Karena itu, Juningsih berharap agar masalah ini dapat diperhatikan oleh pemerintah. Hal itu untuk mencegah agar tidak semakin banyak industri pengeringan ikan yang tutup. Pasalnya, industri itu merupakan industri yang menyerap banyak tenaga kerja. Dengan tutupnya industri pengeringan ikan, berarti nasib ratusan tenaga kerja di dalamnya akan telantar. (H17-52h) |