| Jumat, 29 Juli 2005 | SEMARANG |
Muhammadiyah Dirikan Pesantren Rehabilitasi NarkobaSEMARANG - Meningkatnya jumlah pemakai narkotika, alkohol, psikotropika, dan zat adiktif (napza) di Indonesia menjadi keprihatinan PW Muhammadiyah Jateng. Pada 1995, tercatat ada 130.000 pecandu. Jumlah itu mengalami kenaikan drastis pada 2002, menjadi 400.000 orang. Hal itu, mendasari PW Muhammadiyah Jateng membuka Pondok Pesantren Terapi dan Rehabilitasi Korban Napza KHA Dahlan Muhammadiyah Semarang, yang akan diresmikan Sabtu (30/7) pukul 08.00. Menurut Ketua Majelis Kesehatan dan Kesejahteraan Masyarakat (MKKM) Muhammadiyah Jateng, Dr H Affandi Ichsan, peresmian ponpes akan dihadiri oleh Menteri Kesehatan, Menteri Sosial, Gubernur Jateng, dan Ketua Umum PP Muhammadiyah. "Ponpes akan menempati lahan seluas kurang lebih 6,5 hektare, yang merupakan wakaf dari H Raisudin SH," ungkapnya saat jumpa pers di kantor PW Muhammadiyah Jateng, Rabu (27/7). Ponpes dengan luas bangunan 1200 m2 itu, lanjutnya, berlokasi di Desa Wonolopo, Kecamatan Mijen, Semarang. Pada tahap awal pembangunan, telah menelan biaya mencapai dua miliar rupiah. Saat ini, ponpes mempunyai daya tampung sebanyak 25 pasien. Rencananya, setelah tahap dua dan tiga selesai, daya tampung ditingkatkan menjadi 200 pasien. Penyelesaian pembangunan yang terbagi dalam tiga tahap itu, diperkirakan menelan biaya sebesar Rp 20 miliar. (sjs-56a) |